PENGUNJUNGA YANG BAIK HATI, SILAHKAN KUNJUNGI IKLAN KAMI, SIAPA TAU ANDA BERMINT

Minggu, 11 September 2011

CONTOH SKRIPSI PAKULTAS PERTANIAN

PENGARUH DOSIS DAN FREKUENSI PEMBERIAN PUPUK ORGANIK CAIR
TERHADAP PERTUMBUHAN DAN HASIL BUNCIS ( Phaseolus vulgaris L.) DATARAN
RENDAH


Intisari

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui dosis dan frekuensi pemberian pupuk organik cair yang optimum bagi pertumbuhan dan hasil tanaman buncis. Penelitian ini dilaksanakan di Desa Maguwoharjo, Sleman, Yogyakarta. Waktu pelaksanaan penelitian di bulan Mei sampai September 2006. Rancangan lingkungan yang digunakan adalah rancangan petak terbagi ( Split-Plot Design) dengan tiga ulangan. Petak utamanya ( Main Plot) adalah frekuensi pemberian pupuk organik cair dan anak petaknya ( Sub Plot) adalah dosis pupuk organik cair. Pengamatan berupa jumlah daun, luas daun, indeks luas daun, laju asimilasi bersih, bobot segar dan bobot kering, laju pertumbuhan tanaman, tinggi tanaman, jumlah cabang, umur berbunga, jumlah bunga, fruit set, jumlah polong, diameter polong, panjang polong, bobot segar polong per tanaman dan bobot segar polong per hektar. Data dianalisis menggunakan analisis varian rancangan petak terbagi ( Split-Plot Design), jika terdapat perbedaan antar perlakuan dilanjutkan dengan uji jarak berganda duncan (DMRT) pada tingkat kepercayaan 95%. Untuk mengetahui dosis dan frekuensi pemberian pupuk organik cair yang optimum pada variabel hasil tanaman buncis diuji dengan menggunakan metode
ortogonal polinomial ( polynomial orthogonal). Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemberian pupuk organik cair dosis 10 l/ha merupakan aplikasi pupuk yang paling baik dalam menghasilkan bobot segar polong per hektar yaitu sebesar 8,07 ton, sedangkan frekuensi pemberian pupuk organik cair dua kali penyemprotan adalah aplikasi penyemprotan yang paling baik dalam menghasilkan bobot segar polong yaitu 7,58 ton per hektar. Belum didapatkan kombinasi perlakuan antara dosis dengan frekuensi pemberian pupuk organik cair optimum yang mampu menghasilkan pertumbuhan dan hasil tanaman buncis yang maksimum.
Kata kunci : Buncis dataran rendah, dosis, frekuensi pemberian, pupuk organik cair.

Abstract
This research were aimed to determine the optimum of dosage and frequence of liquid organic fertilizer on growth and yield of lowland beans. This research were done in Maguwoharjo, Sleman, Yogyakarta and conducted on May until September 2006. This research were arranged in Split-Plot Design. The main plot was frequence of liquid organic fertilizer and sub plot was dosage of liquid organic fertilizer. Data of number of leaf, leaf area, leaf area index, net assimilation rate, fresh and dry weight, crop growth rate, plant height, number of branch, flowering date, number of flower, fruit set, number of beans, diameter of beans, length of beans, fresh weight of beans per plant, and fresh weight of beans per hectar were collected. Data were analyzed by using analysis of variance according to Split-Plot Design, when there was difference among the treatment, it was continued with Duncans Multiple Range Test (DMRT) at 95% signification level. Polynomial orthogonal was used to estimated the optimum dosage and frequence of liquid organic fertilizer on yield of lowland beans variable. The dosage of liquid organic fertilizer 10 l/ha was the best aplication to product fresh weight of beans (8,07 ton per hectar), whereas the twice spraying of liquid organic fertilizer was the best spraying aplication to product fresh weight of beans, i.e. 7,58 ton per hectar. The anova did not detect interaction between dosage and frequence of liquid organic fertilizer, thus optimum dosage and frequence of liquid organic fertilizer could not be expected in this research for maximum growth and yield of beans.
Keyword : Lowland beans, dosage, frequence, liquid organic fertilizer.


PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Produksi kacang buncis pada tahun 1988 baru mencapai 103.997 ton dengan luas panen 32.260 ha dan pada tahun 1989 adalah 149.863 ton dengan luas panen 54.273 ha. Meskipun terjadi peningkatan produksi sebesar 44,1% dan peningkatan luas panen sebesar 58,61 ha, tetapi keadaan ini belum dapat memenuhi kebutuhan sayuran bagi penduduk karena pertambahan jumlah penduduk kurang lebih 2,77% per tahun, sehingga penyediaan dan konsumsi per kapita tidak banyak berubah. Permintaan pasar dalam negeri terhadap buncis biasanya meningkat cukup tajam pada hari raya, bahkan akhir-akhir ini permintaan pasar swalayan di kota-kota besar tidak hanya berupa polong muda ukuran maksimal, tetapi juga polong muda berukuran kecil atau disebut “baby buncis” (Rukmana, 1998).
Mengingat akan hal tersebut, perlu dilakukan usaha untuk membudidayakan buncis secara intensif dan komersial, sehingga kuantitas, kualitas dan kontinuitas produksinya pun dapat memenuhi standar permintaan konsumen (pasar). Caranya dapat dilakukan dalam berbagai bentuk, misalnya dengan meningkatkan penggunaan pupuk, melakukan pengaturan jarak tanam atau menggunakan berbagai macam zat pengatur tumbuh untuk mengatur pertumbuhan dan produktivitas tanaman.
Pupuk organik cair merupakan salah satu jenis pupuk yang banyak beredar di pasaran. Pupuk organik cair kebanyakan diaplikasikan melalui daun atau disebut sebagai pupuk cair foliar yang mengandung hara makro dan mikro esensial (N, P, K, S, Ca, Mg, B, Mo, Cu, Fe, Mn, dan bahan organik). Pupuk organik cair
mempunyai beberapa manfaat diantaranya dapat mendorong dan meningkatkan pembentukan klorofil daun dan pembentukan bintil akar pada tanaman leguminosae sehingga meningkatkan kemampuan fotosintesis tanaman dan penyerapan nitrogen dari udara, dapat meningkatkan vigor tanaman sehingga tanaman menjadi kokoh dan kuat, meningkatkan daya tahan tanaman terhadap kekeringan, cekaman
cuaca dan serangan patogen penyebab penyakit, merangsang pertumbuhan cabang produksi, serta meningkatkan pembentukan bunga dan bakal buah, serta mengurangi gugurnya daun, bunga dan bakal buah (Anonim, 2004).
Pemberian pupuk organik cair harus memperhatikan konsentrasi atau dosis yang diaplikasikan terhadap tanaman. Dari beberapa penelitian menunjukkan bahwa pemberian pupuk organik cair melalui daun memberikan pertumbuhan dan hasil tanaman yang lebih baik daripada pemberian melalui tanah (Hanolo,
1997). Semakin tinggi dosis pupuk yang diberikan maka kandungan unsur hara yang diterima oleh tanaman akan semakin tinggi, begitu pula dengan semakin seringnya frekuensi aplikasi pupuk daun yang dilakukan pada tanaman, maka kandungan unsur hara juga semakin tinggi. Namun, pemberian dengan dosis yang berlebihan justru akan mengakibatkan timbulnya gejala kelayuan pada tanaman (Suwandi & Nurtika, 1987). Oleh karena itu, pemilihan dosis yang tepat perlu diketahui oleh para peneliti dan hal ini dapat diperoleh melalui pengujian-pengujian di lapangan. Diduga sampai batas tertentu kombinasi antara dosis yang diberikan dengan frekuensi aplikasi pupuk daun yang dilakukan merupakan faktor yang dapat
meningkatkan pertumbuhan dan hasil tanaman buncis.

B. Tujuan

Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui dosis dan frekuensi pemberian pupuk organik cair yang optimum bagi pertumbuhan dan hasil tanaman kacang buncis.

C. Kegunaan Penelitian
Dari hasil penelitian ini, diharapkan penggunaan pupuk organik cair dapat meningkatkan produksi tanaman kacang buncis, sehingga dapat diterapkan oleh petani dalam membudidayakan tanaman buncis, dan diharapkan juga penggunaan pupuk organik cair yang diaplikasikan lewat daun dapatmenggantikan peranan pupuk anorganik yang diaplikasikan lewat akar.

BAHAN DAN METODE PENELITIAN
A. Waktu dan Tempat Penelitian
Penelitian dilaksanakan di lahan sawah milik salah seorang petani di Desa ........., ......... Waktu pelaksanaan penelitian dimulai bulan Mei sampai September ........

B. Bahan dan Alat

Bahan yang digunakan dalam penelitian ini adalah benih tanaman buncis tegak dataran rendah varietas Richgreen (deskripsi varietas Richgreen terdapat pada Lampiran 1) yang diperoleh dari salah seorang petani di desa Ngipiksari, Kaliurang, Sleman, Yogyakarta, pupuk organik cair “ Best Leginum” (diproduksi oleh CV. SIBAGRO, Semarang), pupuk kandang sapi, Urea 50 kg/ha, SP-36 100 kg/ha, ZA 100 kg/ha, dan
KNO3 50 kg/ha.
Alat yang digunakan dalam penelitian ini adalah alat-alat pengolah tanah (cangkul dan bajak), timbangan manual Balance O-HAUS CENTRO GRAM dengan kapasitas maksimum 311 gram dengan tingkat ketelitian sebesar 0,05 gram, timbangan elektrik merk END dengan kapasitas maksimum 200 gram dan tingkat
ketelitian 0,05 gram, kantong plastik, ajir, oven merk ELE International A-01-28 tahun pembuatan 2005 dengan suhu maksimum 2500C, meteran, jangka sorong, sprayer kapasitas 2 l dan alat pertanian lain yang menunjang.

C. Metode Penelitian
Penelitian ini dilaksanakan dengan metode percobaan lapangan, perlakuannya adalah pemberian pupuk organik cair yang berupa frekuensi dan dosis pupuk organik cair. Frekuensi pemberian pupuk organik cair
terdiri dari 3 aras yaitu :
1. Frekuensi pemberian pupuk sebanyak 2 kali selama masa tanam, dan diberikan saat tanaman berumur 21 hari setelah tanam (hst) dan 35 hst (selang waktu 14 hari sekali).
2. Frekuensi pemberian pupuk sebanyak 3 kali selama masa tanam, dan diberikan pada saat tanaman berumur 10, 20 dan 30 hst (selang waktu 10 hari sekali).
3. Frekuensi pemberian pupuk sebanyak 4 kali selama masa tanam, dan diberikan pada saat tanaman berumur 14, 21, 28 dan 35 hst (selang waktu 7 hari sekali).Dosis pupuk organik cair yangdiaplikasikan ada 3 taraf, yaitu :
1. Dosis pupuk organik cair 10 l/ha
2. Dosis pupuk organik cair 20 l/ha
3. Dosis pupuk organik cair 30 l/ha
Kombinasi perlakuannya ada 9ditambah dengan 1 kontrol yaitu tanpapemberian pupuk organik cair. Perlakuanperlakuantersebut disusun dalam RancanganPetak Terbagi ( Split-Plot Design) dengan tiga
ulangan. Petak utamanya ( Main Plot) adalahfrekuensi pemberian pupuk organik cair dananak petaknya ( Sub Plot) adalah dosis pupukorganik cair.

D. Pengamatan
a. Analisis pertumbuhan tanaman
Variabel pengamatannya yaitu jumlahdaun, luas daun, indeks luas daun (ILD), lajuasimilasi bersih (LAB), bobot segar total pertanaman, bobot kering tajuk, akar dan bobotkering total per tanaman, serta lajupertumbuhan tanaman (LPT).
b. Pertumbuhan tanaman
Variabel yang diamati meliputi tinggi tanaman (cm), jumlah cabang, panjang akar, volume akar, umur berbunga, jumlah bunga, dan fruit set.
c. Komponen Hasil
variabel yang diamati yaitu jumlah polong, diameter polong, panjang polong, bobot segar polong per tanaman, dan bobot segar polong per hektar.

E. Analisis Data
Data dianalisis dengan sidik ragam rancangan petak terbagi ( split-plot design) pada tingkat signifikansi 5% (Gomez & Gomez, 1995).
Untuk melihat perbedaan pengaruh antara dosis dengan frekuensi pemberian pupuk organik cair pada variabel pertumbuhan tanaman buncis digunakan uji jarak berganda duncan (DMRTpada tingkat signifikansi 5%).

HASIL DAN PEMBAHASAN
Penelitian dilaksanakan selama bulan Mei sampai dengan September 2006. Panendilakukan sebanyak empat kali yaitu sejaktanaman berumur 50 hari setelah tanam hinggaumur 75 hari setelah tanam. Hal ini berarti dalampenelitian ini kurun waktu panen tanaman buncisyang ditanam lebih lama jika dibandingkan
dengan deskripsi tanaman buncis yang sudahdidapatkan sebelumnya (50-60 hari setelahtanam; Lampiran 1). Keadaan ini diduga akibatdari pengaruh pemberian pupuk organik cairterhadap tanaman buncis yang dapatmenyebabkan kurun waktu panen tanamanbuncis menjadi lebih lama.
Tanaman buncis menunjukkanpertumbuhan yang relatif serempak untuk semuaperlakuan selama pertumbuhan di lahan. Hal iniditandai dengan rata-rata benih mulaiberkecambah pada umur 6-7 hari setelah benihtersebut ditanam di lahan dan hampirseragamnya umur berbunga (hanya berbeda 1-2hari antar perlakuan) dan umur panen yangseragam yaitu pada umur 50 hari setelah tanamuntuk semua perlakuan.
Pertumbuhan dan perkembangantanaman buncis akan baik jika jumlah unsur harayang diberikan turut diperhatikan. Hal inidisebabkan karena pemberian pupuk dengandosis yang tidak sesuai akan berpengaruhterhadap hasil tanaman. Menurut Gardner et al .
(1991), pemupukan di zona defisien akanmeningkatkan bobot kering tanaman, sedangkanpemupukan di zona berlebihan akanmengakibatkan peningkatan kandungan unsurhara tertentu di dalam jaringan tanaman. Apabilahal ini terjadi, maka efisiensi pemupukan tidaktercapai. Dengan demikian, diperlukan adanyapengujian-pengujian untuk mendapatkan suaturekomendasi pemupukan yang sesuai tentang
dosis dan frekuensi pemberian pupuk yangdianjurkan, khususnya pupuk organik cair.
Pupuk organik cair yang digunakandalam penelitian ini mengandung unsur haramakro dan mikro cukup lengkap, selain itu pupuktersebut juga mudah larut dalam air sehinggakemungkinan dengan cepat dapat diserap olehtanaman. Hal ini merupakan sifat baik dari pupukorganik cair yang diaplikasikan melalui daun,karena efeknya akan cepat terlihat. Unsur haramikro dapat merangsang pembentukan ATP,yang mempunyai peranan penting di dalammenyerap energi sinar matahari.
Tanaman membutuhkan unsur harauntuk melakukan proses-proses metabolisme,terutama pada masa vegetatif. Diharapkan unsuryang terserap dapat digunakan untukmendorong pembelahan sel dan pembentukansel-sel baru guna membentuk organ tanamanseperti daun, batang, dan akar yang lebih baik
sehingga dapat memperlancar proses fotosintesis.
Dengan demikian fotosintat yang dihasilkan dariproses tersebut dapat digunakan dalampembentukan polong.
Tabel 1 menunjukkan bahwa perlakuanpupuk organik cair tidak mempengaruhikandungan unsur nitrogen di daun tanamanbuncis jika dibandingkan dengan kontrol.Pemberian dosis dan frekuensi pupuk organik
cair yang berbeda-beda berpengaruh samaterhadap kandungan unsur N di daun tanamanbuncis (Tabel 1). Keadaan tersebut dapatdisebabkan karena pengambilan sampel untukanalisis jaringan tersebut dilakukan pada saatpanen akhir, dimana tanaman sudah mengalamifase senessence atau penuaan, sehingga dapatdiduga kandungan nitrogen pada daun sudahmengalami penurunan, yang ditandai denganmenguningnya warna daun.

Tabel

Keterangan : ( - ) Interaksi antara dosis dengan frekuensi pemberian pupuk organik cair tidak nyata. Angkaangkayang diikuti dengan huruf yang sama pada baris atau kolom yang sama menunjukkantidak berbeda nyata pada uji DMRT dengan tingkat signifikansi 95%. Angka yang diikuti denganhuruf yang sama pada kontrol dan rerata perlakuan tidak berbeda nyata pada uji kontrasorthogonal pada tingkat signifikansi 95%.

Berdasarkan nilai interpretasi analisis Nmenurut Jones (1967) cit. Engelstad (1997), nilai2,393 pada kontrol tergolong pada aras harasangat rendah (kahat N), sedangkan nilai 2,587pada rerata perlakuan pemberian pupuk organikcair tergolong rendah. Hal ini berarti denganpemberian pupuk organik cair mampumeningkatkan persentase kandungan nitrogendaun tanaman buncis walaupun pengaruhnyatidak nyata. Hasil analisis jaringan dengankategori aras hara rendah dapat menghasilkanpersentase hasil maksimum yang dihasilkantanaman pada kisaran 80-90% (Jones, 1967 cit.Engelstad, 1997).

Tanaman buncis yang diberi pupukorganik cair menghasilkan jumlah daun, luasdaun umur 40 hari setelah tanam dan indeksluas daun umur 40 hari setelah tanam (Tabel 2)yang lebih baik dibandingkan dengan tanamanbuncis yang tidak diberi perlakuan pupuk organikcair. Hal ini diperkirakan akan mengakibatkantanaman yang diberi pupuk organik cairmenghasilkan fotosintat yang lebih banyakdibandingkan dengan tanaman yang tidak diberipupuk organik cair (kontrol) karena tanamandengan jumlah daun yang lebih banyak, luasdaun yang lebih luas dan tidak saling menaungiakan mempunyai kesempatan yang lebih besardalam memanfaatkan cahaya matahari yangditangkap oleh daun untuk digunakan sebagaienergi dalam proses fotosintesis, sehingga hasilfotosintesisnya (fotosintat) juga akan lebih baik.
Fotosintat inilah yang nantinya digunakan olehtanaman untuk pertumbuhan tanaman buncisdan pada masa generatif akan dialokasikanuntuk pembentukan polong buncis.

Tabel
Keterangan : ( - ) Interaksi antara dosis dengan frekuensi pemberian pupuk organik cair tidak nyata. Angkaangkayang diikuti dengan huruf yang sama pada baris atau kolom yang sama menunjukkan tidakberbeda nyata pada taraf uji DMRT 5%. Angka yang diikuti dengan huruf yang tidak sama padakontrol dan rerata perlakuan berbeda nyata pada uji kontras orthogonal pada tingkat signifikansi5%.

Tanaman buncis yang diberi pupukorganik cair juga menghasilkan jumlah cabang,panjang akar umur 40 dan 75 hari setelah tanamdan volume akar umur 40 dan 75 hari setelahtanam (Tabel 3), serta fruit set, jumlah polong,bobot segar polong per tanaman dan bobotsegar polong per hektar (Tabel 4) yang lebih
baik dibandingkan dengan tanaman buncis yangtidak diberi pupuk organik cair.

Tabel
Keterangan : ( - ) Interaksi antara dosis dengan frekuensi pemberian pupuk organik cair tidak nyata. Angkaangkayang diikuti dengan huruf yang sama pada baris atau kolom yang sama menunjukkantidak berbeda nyata pada taraf uji DMRT 5%. Angka yang diikuti dengan huruf yang tidak samapada kontrol dan rerata perlakuan berbeda nyata pada uji kontras orthogonal pada tingkatsignifikansi 5%.


Akar tanaman buncis yang diberi pupukorganik cair lebih panjang daripada akartanaman buncis yang tidak diberi pupuk organikcair (Tabel 3). Hal ini akan mempengaruhibesarnya volume akar tanaman buncis, dimanavolume akar tanaman yang diberi pupuk organikcair juga menjadi lebih besar dibandingkandengan volume akar tanaman yang tidak diberipupuk organik cair (Tabel 3). Keadaan ini akanmenguntungkan tanaman buncis, karena dengansemakin besarnya volume akar yang dimilikitanaman maka jangkauan akar juga semakinluas, sehingga mengakibatkan pengambilanunsur hara dan air oleh tanaman dapat lebihbanyak. Unsur hara dan air dimanfaatkantanaman sebagai substrat fotosintesis tanaman,dan hasil fotosintesis (fotosintat) akandipergunakan untuk pertumbuhan tanaman
sampai tanaman menghasilkan polong buncis.

Tabel
Keterangan : ( - ) Interaksi antara dosis dengan frekuensi pemberian pupuk organik cair tidak nyata. Angkaangkayang diikuti dengan huruf yang sama pada baris atau kolom yang sama menunjukkan tidakberbeda nyata pada taraf uji DMRT 5%. Angka yang diikuti dengan huruf yang tidak sama padakontrol dan rerata perlakuan berbeda nyata pada uji kontras orthogonal pada tingkat signifikansi5%.

Jumlah cabang primer (Tabel 3) yanglebih banyak akan mendukung pertambahanbobot segar polong buncis yang lebih besar pula(Tabel 4), karena dari cabang-cabang tersebutakan dihasilkan polong buncis yang tumbuhakibat dari munculnya bunga yang berkembangmenjadi polong jadi. Hal ini didukung denganfruit set yang lebih besar pada tanaman yangdiberi pupuk organik cair dibandingkan dengannilai fruit set pada kontrol (Tabel 4). Keadaantersebut diduga karena pemberian pupuk organikcair mampu mengurangi persentase kerontokanbunga, sehingga bunga yang berkembangmenjadi polong semakin banyak, dan dengankeberadaan polong yang semakin banyak akanmeningkatkan jumlah polong buncis pertanaman (Tabel 4). Dengan demikian, semakinbanyak jumlah polong yang dihasilkan tanamansecara tidak langsung akan menghasilkan bobotsegar tanaman yang semakin besar pula. Jumlahdan bobot segar polong yang lebih baik dapattercapai akibat adanya ketersediaan dankeseimbangan unsur hara makro dan mikro yangdibutuhkan oleh tanaman.

Tabel
Keterangan : ( + ) Interaksi antara dosis dengan frekuensi pemberian pupuk organik cair nyata. Angka-angkayang diikuti dengan huruf yang sama pada baris atau kolom yang sama menunjukkan tidakberbeda nyata pada taraf uji DMRT 5%. Angka yang diikuti dengan huruf yang tidak sama padakontrol dan rerata perlakuan berbeda nyata pada uji kontras orthogonal pada tingkat signifikansi5%.

Jumlah daun (Tabel 5) dan jumlahcabang (Tabel 6) merupakan variabel yangmenghasilkan pengaruh saling tindak antaraperlakuan dosis dengan perlakuan frekuensipemberian pupuk organik cair. Jumlah daunpada perlakuan frekuensi dua kali penyemprotandengan dosis 10 l/ha sebanyak 13,750 helai per
tanaman adalah aplikasi pupuk organik cair yangpaling baik dalam pembentukan daun tanamanbuncis, karena hasil jumlah daunnya samadengan aplikasi pupuk organik cair 30 l/hasebanyak tiga kali penyemprotan.

Tabel
Keterangan : ( + ) Interaksi antara dosis dengan frekuensi pemberian pupuk organik cair nyata. Angka-angkayang diikuti dengan huruf yang sama pada baris atau kolom yang sama menunjukkan tidakberbeda nyata pada taraf uji DMRT 5%. Angka yang diikuti dengan huruf yang tidak sama padakontrol dan rerata perlakuan berbeda nyata pada uji kontras orthogonal pada tingkat signifikansi5%.

Jumlah cabang pada perlakuan pupukorganik cair dengan dosis 20 l/ha yang diberikansebanyak dua kali yaitu 5,625 cabangmerupakan aplikasi pupuk organik cair yangpaling baik dalam pembentukan cabang tanamanbuncis, karena hasil jumlah cabangnya samadengan dosis pupuk organik cair 20 l/ha yangdiberikan sebanyak tiga kali, dosis pupuk organikcair 30 l/ha yang diberikan sebanyak tiga kali,dan empat kali penyemprotan (Tabel 6).Peningkatan jumlah cabang dan fruit setsetelah diberi pupuk organik cair akan berakibatpada meningkatnya jumlah polong yangdihasilkan oleh tanaman buncis (Tabel 4).
Jumlah cabang dapat meningkat karena adanyaunsur N yang terdapat dalam pupuk organik cair,dan peningkatan penyerapan N oleh tanaman inidistimulir atau didorong oleh keberadaan unsurhara mikro yang terdapat di dalam pupukorganik cair (Lampiran 3), dimana peranan unsurmikro seperti Mg, Fe, Zn, dan Mn adalah sebagaikofaktor enzim yang mendorong peningkatanaktivitas metabolisme di dalam tubuh tanaman(Parnata, 2004).
Pengaruh dosis pupuk organik tidaknyata terhadap semua variabel pengamatan,kecuali variabel volume akar umur 40 harisetelah tanam (Tabel 3). Dosis 10 l/hamenghasilkan volume akar yang lebih besardibandingkan dengan perlakuan dosis 20 l/ha.Ini menandakan bahwa penggunaan dosis pupukorganik cair dengan dosis yang rendah (10 l/ha)sudah mampu menghasilkan pertumbuhan akar
yang lebih baik.
Besarnya laju asimilasi bersih (LAB)tanaman buncis tidak dipengaruhi olehpemberian pupuk organik cair dengan dosis yangberbeda-beda. Hal ini dipengaruhi oleh besarnyaluas daun umur 75 hari setelah tanam dan bobotkering total per tanaman buncis saat umur 40dan 75 hari setelah tanam yang sama nilainya
baik dengan perlakuan dosis pupuk organik cair10 l/ha, 20 l/ha maupun dosis 30 l/ha. Lajuasimilasi bersih berhubungan secara linierdengan luas daun dan bobot kering tanamanbuncis. Semakin besar nilai luas daun dan bobotkering tanaman, maka semakin besar pula lajuasimilasi bersih tanaman, dan juga sebaliknya.
Dosis pupuk organik cair 10 l/ha, 20 l/hadan 30 l/ha yang diberikan terhadap tanamanbuncis berpengaruh sama terhadap lajupertumbuhan tanaman (LPT) buncis. Keadaan inidipengaruhi oleh besarnya laju asimilasi bersihdan bobot kering total per tanaman buncisyang nilainya tidak dipengaruhi oleh perlakuanpupuk organik cair dengan dosis yang berbedabeda.
Frekuensi pemberian pupuk organik cairdua kali aplikasi penyemprotan mempunyaipengaruh yang sama dengan frekuensipemberian pupuk organik cair tiga kali danempat kali aplikasi penyemprotan terhadap
semua variabel pengamatan. Laju pertumbuhantanaman buncis tidak dipengaruhi olehpemberian pupuk organik cair dengan frekuensipemberian yang berbeda-beda. Keadaan inimerupakan akibat dari besarnya nilai lajuasimilasi bersih dan bobot kering total pertanaman buncis yang sama baik pada frekuensipemberian pupuk organik cair dua kali, tiga kalimaupun empat kali aplikasi penyemprotan.
Laju asimilasi bersih dan lajupertumbuhan tanaman yang besarnya tidakdipengaruhi oleh perlakuan dosis dan frekuensipemberian pupuk organik cair menyebabkanumur berbunga tanaman buncis juga tidakterpengaruh oleh pemberian pupuk organik cairdengan dosis dan frekuensi pemberian yangberbeda-beda. umur berbunga tanaman buncishampir serempak untuk semua perlakuan.
Pemberian pupuk organik cair dengan dosis danfrekuensi pemberian yang berbeda-beda tidakmempercepat waktu berbunga tanaman buncis,karena umur berbunga tanaman buncis masihtermasuk dalam kisaran umur berbunga yangsesuai dengan deskripsi tanaman buncis yangsudah didapatkan sebelumnya (Lampiran 1).
Pemberian pupuk organik cair mampumenghasilkan bobot segar polong per tanamanbuncis yang lebih berat dibandingkan kontrol(Tabel 4) akibat dari adanya penambahankandungan unsur N di daun tanaman buncissetelah pemberian pupuk organik cair sepertiyang terlihat pada Tabel 1, dimana pemberianpupuk organik cair mampu meningkatkan statusunsur nitrogen dari harkat sangat rendah pada
tanaman yang tidak diberi pupuk organik cairmenjadi berharkat rendah pada tanaman yangdiberi pupuk organik cair. Keadaan inimenyebabkan tanaman dapat meningkatkanhasil tanaman yang berupa bobot segar polongbuncis. Hal ini senada dengan penyataan Jones(1967) cit. Engelstad (1997), bahwa hasil analisisjaringan daun dengan kategori aras hara rendahuntuk unsur nitrogen dapat menghasilkanpersentase hasil maksimum yang dihasilkantanaman pada kisaran 80-90%.Hasil bobot polong per tanaman dan perhektar tidak dipengaruhi oleh perlakuan dosisdan frekuensi pemberian pupuk organik cairyang berbeda-beda. Hal ini menandakan bahwabelum ada dosis dan frekuensi pemberian pupukorganik cair yang optimum untuk dapatmenghasilkan bobot polong buncis yangmaksimum dari hasil penelitian ini, sehinggadianjurkan untuk diadakan pengkajian lebihlanjut mengenai penggunaan pupuk organik cairdengan interval dosis yang lebih rendah dari 10l/ha dan lebih dari 30 l/ha, serta frekuensipemberian pupuk organik cair dengan intervallebih tinggi dari empat kali aplikasipenyemprotan atau interval yang lebih sering,dengan tujuan akan diperoleh kombinasiperlakuan dosis dan frekuensi pemberian pupukorganik cair yang optimum dan menghasilkanbobot polong buncis yang maksimum. Pupukorganik cair dengan dosis 10 l/ha merupakanaplikasi pupuk organik cair yang paling baikdalam menghasilkan bobot segar polong buncisper hektar, yaitu sebesar 8,07 ton, sedangkanuntuk frekuensinya sebanyak dua kalipenyemprotan, yaitu hasil polong buncisnyasebesar 7,58 ton per hektar. Hasil polong buncisyang dihasilkan dalam penelitian ini termasukdiatas standar hasil buncis yang mampudihasilkan oleh petani buncis pada umumnyayang baru` berkisar antara 2-5 ton per hektar(Anonim, 2004).

KESIMPULAN
1. Pemberian pupuk organik cair dapatmeningkatkan jumlah daun, jumlah cabang,fruit set, luas daun umur, indeks luas daunumur, panjang akar, volume akar, jumlahpolong, bobot segar polong per tanaman
dan bobot segar polong per hektar.2. Pembentukan daun tanaman buncisdipengaruhi adanya saling tindak antaradosis dengan frekuensi pemberian pupukorganik cair. Pemberian pupuk organikcair 10 l/ha dengan frekuensi dua kalipenyemprotan merupakan aplikasi yangpaling baik dalam pembentukan daun
tanaman buncis, yaitu sebesar 13,750helai per tanaman.
3. Pemunculan cabang tanaman buncisdipengaruhi oleh adanya saling tindakantara dosis dengan frekuensi pemberianpupuk organik cair. Pupuk organik cairdosis 20 l/ha yang diberikan sebanyak dua
kali penyemprotan adalah aplikasi yangpaling baik dalam memunculkan cabang,yaitu 5,625 cabang per tanaman.
4. Pupuk organik cair dengan dosis 10 l/hamerupakan aplikasi pupuk organik cairyang paling baik dalam menghasilkanbobot segar polong buncis, yaitu sebesar8,07 ton per hektar, sedangkan untukfrekuensinya sebanyak dua kalipenyemprotan, yaitu hasil polongbuncisnya sebesar 7,58 ton per hektar.
5. Belum didapatkan kombinasi perlakuandosis dengan frekuensi pemberian pupukorganik cair optimum yang mampumenghasilkan pertumbuhan dan hasiltanaman buncis yang maksimum.

DAFTAR PUSTAKA
Anonim. 2004. Buncis ( Phaseolus vulgaris L.).http://warintek.progressio.or.id/pertanian/buncis.htm. Diakses tanggal 18 Januari2006.
Engelstad, O.P. 1997. Fertilizer Technology andUses (Teknologi dan Penggunaan Pupukditerjemahkan oleh Didiek Hadjar Goenadi).Gadjah Mada University Press, Yogyakarta.
Gardner, F.P., R.B. Pearce dan R.L. Mitchell.1991. Physiology of Crop Plants (FisiologiTanaman Budidaya, alih bahasa olehHerawati Susilo). University of IndonesiaPress, Jakarta.
Gomez, K.A., dan A.A., Gomez. 1995. StatisticalProcedures for Agricultural Research(Prosedur Statistik untuk PenelitianPertanian alih bahasa Endang Syamsuddin,J.S. Baharsyah). Universitas IndonesiaPress, Jakarta.
Hanolo, W. 1997. Tanggapan tanaman seladadan sawi terhadap dosis dan carapemberian pupuk cair stimulan. JurnalAgrotropika 1(1):25-29.
Pranata, A.S. 2004. Pupuk Organik Cair Aplikasidan Manfaatnya. Agromedia Pustaka,Jakarta.
Rukmana,R.1998. Bertanam Buncis. Kanisius,Yogyakarta.
Suwandi dan N, Nurtika, 1987. Pengaruh pupukbiokimia “Sari Humus” pada tanaman kubis.
Buletin Penelitian Hortikultura 15(20):213-218.

1 komentar:

  1. bung, kalo copy paste, jurnal atau penelitian orang, yaa di cantumin siapa yg bikin penelitian tsb,..begitu dunk

    BalasHapus