Email/YM : julman_84@yahoo.com

Minggu, 13 Februari 2011

Pengertian Ukhuwah

Muqaddimah
Imam Syahid
Hasan Al Banna
mengatakan Ukhuwah
sebagai berikut:
”Yang saya
maksud dengan ukhuwah
adalah terikatnya hati
dan ruhani dengan
ikatan aqidah. Aqidah
adalah sekokoh-
kokohnya dan semulia-
mulianya ikatan.
Ukhuwah adalah
saudaranya keimanan
sedangkan perpecahan
adalah saudaranya
kekufuran. Kekuatan
yang pertama adalah
kekuatan persatuan.
Tidak ada persatuan
tanpa cinta kasih.
Standar minimal cinta
kasih adalah kelapangan
dada dan standar
maksimal adalah itsar
(mementingkan orang
lain dari diri sendiri).”
Barangsiapa
dipelihara dari kekikiran
dirinya, mereka itulah
orang-orang yang
beruntung (Al-Hasyr:9)
Akh yang tulus
melihat saudara-
saudaranya lain lebih
utama dari dirinya
sendiri, karena jika tidak
bersama mereka, ia
tidak bisa bersama yang
lain. Sememtara mereka
jika tidak bersama
dengan dirinya bisa
bersama yang lain.
Sesungguhnya Srigala
hanya akan memakan
Domba yang terpisah
sendirian. Seorang
Mukmin dengan Mukmin
lainnyaibarat sebuah
bangunan, yang satu
mengokohkan yang lain.
Orang-orang
mukmin laki-laki dan
orang-orang mukmin
perempuan, sebagian
mereka menjadi
pelindung bagi lainnya
(At-Taubah:71)[1]
Lalu Ustadz Sa’id
hawwa Memberikan
komentar:
1. Ahmad Syauqi
berkata,”kawan kala
berpolitik, musuh kala
berkuasa.” Persaudaraan
di kalangan anggota
berbagai institusi politik
tidak akan terjalin
kokoh. Hal ini
disebabkan persaingan
sesame mereka untuk
mendapatkan posisi
maupun keuntungan
materi. Memang, unsure
materi jika memasuki
suatu wilayah pasti akan
merusaknya.
Mengomentari hubungan
persaudaraan semacam
ini, sebagian mereka
mengatakan,”musuh
dalam selimut adalah
sahabat terbuka.” Hal
yang serupa dengan ini
tidak mungkin mendasari
tegaknya Islam dan tidak
mungkin mewujudkan
cita-citanya. Oleh
karenanya, persaudaraan
(ukhuwah) yag hakiki
menjadi salahsatu rukun
Bai’at.
2. Imam Hasan Al Banna
menunjukkan kepada
kita beberapa indicator,
yang dengannya kita
mengetahui adanya
persaudaraan, yakni rasa
cinta. Standar minimal
dari rasa cinta ini adalah
bersikap lapang dada
sesama akhul muslim.
Sedangkan standar
maksimal adalah itsar
(mementingkan orang
lain atas diri sendiri)
kepada sesama manusia
atas urusan dunia,
seperti pangkat dan
kedudukan. Cinta tidak
dapat terwujud dalam
suatu barisan kecuali
seseorang bersikap
zuhud terhadap harta
yang ada di tangan orang
lain. Rasulullah bersabda:
“zuhudlah engkau
terhadap dunia, niscaya
Allah akan mencintaimu,
dan zhudlah engkau
terhadap harta yang
berada di tangan orang
lain, niscaya orang lain
akan mencintaimu.
3. Tidak ada yang dapat
melanggengkan ukhuwah
kecuali taat kepada
Allah dan menjauhi
larangannya.
4. Tiada sesuatu yang
mencegah runtuhnya
Ukhuwah selain iman dan
amal Shalih.
5. Musuh Allah Iblis sangat
membenci terbangunnya
Ukhuwah dan kasih
sayang sesama da’i.[2]
Pengertian Ukhuwah
Bahasa
Kata Ukhuwah
berakar dari kata akha.
Misalnya dalam kalimat
“akha Fulanun
Shalihan” (Fulan
menjadikan Shalih
sebagai saudara). Selain
kata ukhuwah, ada kata
muakhah. Orang disebut
akh anda, jika ia adalah
orang yang mempunya
hubungan persaudaraan
dengan anda, baik
saudara kandung,
saudara seayah, saudara
seibu, mapun saudara
sesusuan.
Akh bisa juga
berarti syarik (sekutu),
muwasi (penolong),
matsil (penyerupa),
shahib mulazim (sahabat
setia), atau akh
seseorang bisa berarti
pengikut pendapat
seseorang. Kata akh juga
dipakai secara umum
untuk menyebut setiap
orang yang menyertai
orang lain, baik dalam
cinta,pekerjaan maupun
agamanya.[3]
Al Qur’an
Karena itu,
ukhuwah menuntut
seseorang untuk
mengasihi saudaranya.
Karena itulah Al Qur’an
menyebutkan bahwa
seorang nabi adalah akh
bagi kaumnya dan bagi
semua orang yang
mereka dakwahi. Allah
Swt berfirman :
“Dan kami
mengutus kepada kaum
‘Ad saudara mereka Hud.
Ia berkata, ‘Hai kaumku
sembahlah Allah, sekali-
kali tiada Tuhan bagi
kalian selain Dia.’” (Al-
A’raf:73)
“Dan (Kami telah
mengutus) kepada kaum
Tsamud, saudara mereka
Shalih. Ia berkata kepada
kaumnya,’Hai kaumku
sembahlah Allah, Sekali-
kali tidak ada Tuhan bagi
kamu selain Dia.’” (Al-
A’raf:73)[4]
Dalam beberapa
ayat lain Allah Swt
berfirman :
“Dan
berpeganglah kamu
semuanya kepada tali
(agama) Allah, dan
janganlah kamu bercerai
berai, dan ingatlah akan
nikmat Allah kepadamu
ketika kamu dahulu
(masa Jahiliyah)
bermusuh-musuhan,
maka Allah
mempersatukan hatimu,
lalu menjadilah kamu
karena nikmat Allah,
orang-orang yang
bersaudara; dan kamu
telah berada di tepi
jurang neraka, lalu Allah
menyelamatkan kamu
dari padanya.
Demikianlah Allah
menerangkan ayat-ayat-
Nya kepadamu, agar
kamu mendapat
petunjuk.” (Ali Imran:
103)
“Dan hendaklah
ada di antara kamu
segolongan umat yang
menyeru kepada
kebajikan, menyuruh
kepada yang ma'ruf dan
mencegah dari yang
munkar; merekalah
orang-orang yang
beruntung.” (Ali
Imran:104)
Dua ayat diatas
berurutan terdapat
tuntutan-tuntutan yang
harus dilaksanakan oleh
orang-orang Muslim yang
menjalin ukhuwah
Islamiah, dengan
ukhuwah ini mereka
tolong-menolong untuk
melaksanakan tuntutan
tersebut, yaitu :
a. Berpegang teguh kepada
tali Allah, yakni Al-
Qur’an dan As-Sunnah,
yang juga berpegang
teguh kepada manhajnya
b. Menjauhkan diri dari
perpecahan dan
permusuhan dengan cara
meninggalkan factor-
faktor pemicunya.
c. Hendaklah hati kalian
disatukan dengan
mahabbah (cinta) karena
Allah, sehingga dengan
nikmat ini kalian menjadi
orang-orang yang
bersaudara.
d. Mendakwahkan kebaikan,
memerintahkan yang
ma’ruf dan mencegah
kemungkaran.
Lalu ditegaskan
oleh Allah Swt dengan
firmannya:
“Orang-orang
beriman itu
sesungguhnya
bersaudara. Sebab itu
damaikanlah (perbaikilah
hubungan) antara kedua
saudaramu itu dan
takutlah terhadap Allah,
supaya kamu mendapat
rahmat.” (Al-Hujurat
(49): 10)
Dijelaskan oleh
Imam Qurthubi,
maksudnya adalah
ukhuwah dalam agama
dan kesucian, bukan
keturunan.”
Ibnu Katsir
mengatakan,”Semuanya
adalah saudara seagama,
sebagaimana Rasulullah
bersabda,’Seorang
muslim adalah saudara
bagi muslim yang lain;
tidak menzhalimi dan
mencelakakannya.’”[5]
As-Sunnah
“Janganlah kalian
saling mendengki, saling
najasy (menawarkan
barang agar orang lain
membeli dengan harga
mahal), saling membenci,
saling memusuhi, dan
jangan membeli barang
yang sedang di tawar
orang lain. Hendaklah
kalian menjadi hamba-
hamba Allah yang
bersaudara. Seorang
Muslim saudara bagi
muslim yang lain, tidak
menzhalimi, tidak
membiarkan (saat ia
membutuhkan
pertolongan) dan tidak
menghinanya. Taqwa ada
di sini (sambil menunjuk
dadanya 3 kali).” (H.R
Muslim dari Abu
Hurairah ra)
“Seseorang sudah
cukup disebut jahat
apabila ia menghina
saudaranya sesame
Muslim. Darah, harta dan
kehormatan setiap
Muslim adalah Haram
bagi Muslim
lainnya.” (H.R Muslim
dalam sahihnya bab:
Tahrim Zhulm Al Muslim
wa Khadzlih)
Banyak juga
hadist-hadist semisal
dengannya. Dari hadist
diatas maka dapat kita
ambil pelajaran bahwa
yang dimaksud ukhuwah
adalah :
a. Ia cinta karena Allah dan
ketulusan hati seorang
mukmin terhadap
saudaranya sesame
mukmin.
b. Ia adalah penghormatan
seorang mukmin
terhadap mukmin
lainnya, baik pada saat
berhadapan maupun di
tempat yang jauh.
c. Ia adalah larangan
mengabaikan apaun juga
yang menjadi hak
saudaranya
d. Ia juga berarti larangan
memandangnya dengan
pandangan merendahkan
e. Ia berarti larangan
mendengki, menawar
dengan harga tinggi
untuk menipunya,
membenci, memutuskan
hubungan, membeli
barang yang tengah di
tawar, melamar
lamarannya,
menzhaliminya,
menghinanya,
membiarkannya di kala
butuh pertolongan
f. Pengharaman atas darah,
harta dan
kehormatannya
g. Ia berarti tolong menolong
salam melaksanakan
kewajiban dan
ketaqwaan, serta
berdakwah menuju
kebaikan
h. Ia berarti bersatu dan
meninggalkan factor-
faktor yang memicu
terjadinya perpecahan
i. Ia berarti memelihara
seluruh haknya (yakni
dalam darah, harta dan
kehormatannya)
j. Ia berarti melaksanakan
kewajiban-kewajiban
yang harus diberikan
kepadanya tanpa di
minta
k. Ia berarti mendahulukan
kepentingan saudaranya
dari kepentingannya
sendiri.[6]
Menurut Orang Barat
(Eropa)
1. Hubungan kekerabatan
antara dua orang
bersaudara seketurunan
dengan hubungan
kekerabatan karena satu
Ibu dan satu Bapak.
2. Organisasi profesi untuk
meningkatkan taraf
hidup mereka
3. Organisasi keagamaan
yang bertujuan
meninggalkan gaya hidup
materialistis, menjaga
kehormatan diri, dan
taat sepenuhnya.
Mendapat pengesahan
dari gereja tertentu yang
mereka ikuti.
4. Organisisi social baik
bersifat tertutup atau
terbuka. Contohnya
Freemansory dan Rotary
Club. [7]
Standar Ukhuwah dan
Syarat-syaratnya
Rasulullah bersabda:
“Seseorang bisa
terpengaruh oleh agama
sahabat karibnya. Oleh
karena itu,
perhatikanlah salah
seorang diantara kamu
dengan siapa ia
bergaul.” (H.R Abu
Dawud, Ahmad, Hakim
dan Tirmizi, ia
mengatakan hadist
Hasan)
Dan Firman Allah
Swtmemberikan batasan
ukurannya melalui
bahasa Nabi Musa As :
“dan jadikanlah untukku
seorang pembantu dari
keluargaku, (yaitu)
Harun, saudaraku,
teguhkanlah dia dengan
kekuatanku, dan
jadikanlah dia sekutu
dalam urusanku, supaya
kami banyak bertasbih
kepada Engkau dan
banyak mengingat
Engkau. Sesungguhnya
Engkau adalah Maha
Melihat (keadaan) kami
(Q.S Thaha (20): 29-35)
Maka standard an
syarat-syarat ukuhuwah
itu antara lain:
1. Ukhuwah harus benar-
benar murni karena Allah
Swt.
“Diriwayatkan dari Abu
Hurairah:” dari
Rasulullah Saw beliau
berkisah,’ sessunguhnya
ada seseorang yang akan
berkunjung ke tempat
saudaranya yang berada
di desa lain, kemudian
Allah mengutus malaikat
untuk mengujinya,
setelah malaikat itu
berjumpa dengannya, ia
bertanya, “apakah kamu
merasa berhutang budi
sehingga kamu
mengunjunginya?” Ia
menjawab,” tidak, saya
mengunjunginya dan
mencintainya karena
Allah.” Malaikat itu
berkata,”Sesungguhnya
saya adalah utusan Allah
untuk menjumpaimu, dan
Allah mencintaimu
sebagaimana kamu
mencintai saudaramu
karena Allah.” (H.R
Muslim)
2. Ukhuwah harus disertai
dengan iman dan taqwa,
hal ini bisa dilakukan
dengan memilih sahabat
seiman dan memilih
teman yang memiliki
kualitas taqwa serta
serta keshalihan di
samping juga memiliki
akhlak yang baik. Allah
berfirman:
“Teman-teman akrab
pada hari itu
sebagiannya menjadi
musuh bagi sebagian
yang lain kecuali orang-
orang ang bertakwa.”
(Q.S Az-Zukhruf (43): 67)
3. Ukhuwah harus konsisten
dengan ajaran Islam yang
selalu merujuk pada Al
Qur’an dan Sunnah serta
jauh dari khurafat dan
bid’ah. Rasulullah
mengisyaratkannya
dalam sebuah hadist:
“Dua orang lelaki yang
saling menjamin
persahabatan karena
Allah mereka akan
bersama dan berpisah
atas dasar Allah.” (H.R
Bukhari dan Muslim dari
As-Sab’ah)
4. Ukhuwah harus
didasarkan pada saling
memberi nasehat di jalan
Allah. Konon sahbat
Rasulullah juga saling
menasehati diantara
mereka dan berjanji
kepada Nabi untuk saling
menasehati.
Diriwayatkan dari
Bukhari dan Muslim dari
Jabir dari Abdulllah Ra, ia
berkata,”Aku berjanji
kepada Rasulullah untuk
melaksanakan shalat dan
menunaikan zakat dan
member nasehat kepada
semua Muslim.”
5. Ukuwah dibangun atas
dasar saling membantu
dan menyokong satu
sama lain baik dalam
suka maupun duka.
Rasulullah bersabda:”
perumpamaan seorang
Mukmin dalam masalah
mengasihi dan
menyayangi satu sama
lain diantara mereka
adalah seperti satu
tubuh, jika salahsatu
anggota tubuh
mengeluhkan rasa sakit
maka yang lain akan
mengeluh tidak bisa
tidur dan panas.” (H.R
Bukhari dan Muslim)[8]
Peringkat-Peringkat
Ukhuwah Dalam Islam
A. Ta’aruf
Kata ta’aruf
berarti saling mengenal
sesame manusia.
Misalnya kalimat
Ta’arafu ila fulan artinya:
saya meperkenalkan diri
kepada si Fulan. Tidak
termasuk dalam
pengertian ta’aruf jika
konteksnya
membanggakan diri
dengan garis keturunan,
pangkat maupun harta.
Karena itu semua
bukanlah ukuran yang
tepat untuk mengenal
manusia, sebab ukuran
yang benar adalah
ketaqwaan kepada Allah
swt.
Imam Ahmad
meriwayatkan dengan
sanadnya dari Durrah
binti Abu Lahab ra (Istri
Abdullah bin Umrah ra)
yang berkata,
“seorang lelaki
menghadap Rasulullah
saw. Ketika beliau
berada diatas mimbar. Ia
bertanya,’Wahai
Rasulullah, siapakah
manusia yang paling
baik ? ia menjawab,’
manusia yang paling baik
adalah yang paling
banyak membaca Al-
Qur’an, bertakwa kepada
Allah Swt,
memerintahkan yang
ma’ruf, mencegah
kemungkaran dan
menyambung tali
silaturrahmi.’”
Dan Allah swt
berfirman :
“Hai sekalian
manusia, sesungguhnya
kami menciptakan kalian
dari laki-laki dan
perempun dan Kami
jadikan kalian
berbangsa-bangsa dan
bersuku-suku agar kalian
saling mengenal.
Sesungguhnya yang
paling mulia diantara
kalian di sisi Allah adalah
yang paling taqwa
diantara kalian.
Sesungguhnya Allah
maha mengetahui lagi
Maha Mengenal.” (Al-
Hujurat(49): 13)[9]
B. Ta’aluf
Ta’aluf berarti
bersatunya seorang
muslim dengan muslim
lainnya, bersatunya
seseorang dengan orang
lain. Ta’aluf berasal dari
kata ilf yang artinya
persatuan.I’talafu an-
nasu artinya orang-orang
yang bersatu dan
bersepakat.
Kata ulfah serupa
dengan kata ilf memiliki
makna kecintaan kepada
Allah Swt, kepada orang-
orang beriman yang hati
mereka dipersatukan
oleh Allah Swt. Allah
berfirman:
“ingatlah akan
nikmat Allah kepadamu
ketika kamu dahulu
(masa Jahiliyah)
bermusuh-musuhan,
maka Allah
mempersatukan hatimu,
lalu menjadilah kamu
karena nikmat Allah,
orang-orang yang
bersaudara (Ali Imran
(49): 13)
“walaupun kalian
membelanjakan semua
(kekayaan) yang berada
di bumi , niscaya kalian
tidak dapat
mempersatukan hati
mereka, tetapi Allah
telah mempersatukan
hati mereka (Al-Anfal:
63)
Rasulullah Saw
bersabda:
“Ruh-ruh itu
disatukan ibarat tentara-
tentara yang
terkoordinasi; yang
saling mengenal niscaya
bersatu; sedangkan yang
tidak saling mengenal
akan berpisah.” (H.R
Muslim dari Abu
Hurairah)
“Orang mukmin
itu mudah disatukan.
Tidak ada kebaikan
orang yang tidak bisa
menyatu dan tidak bisa
mempersatukan.” (H.R
Imam Ahmad dalam
musnadnya,III/400,al
Halabi, Mesir, 1313 H)[10]
C. Tafahum
Hendaklah
terjalin sifat Tafahum
(saling memahami)
antara seorang muslim
dengan saudaranya
sesam muslim, yang
diawali dengan
kesepahaman dalam
prinsip-prinsip pokok
ajaran Islam, lalu dalam
masalah-masalah cabang
yang perlu di pahami
secara bersama. Adapun
prinsip yang harus
dipahami oleh setiap
muslim adalah sebagai
berikut :
a. Berpegang teguh hanya
kepada aturan Allah.
b. Berpegang kepada tali
Allah yaitu Al-Qur’an
c. Tolong-menolong dalam
menaati Allah dan
RAsulullah
d. Mengadakan Ikrar
menolong agama Allah
dan kebenaran
e. Berupaya menghilangkan
sebab-sebab kedengkian
[11]
D. Ri’ayah dan Tafaqud
Pengertian
ri’ayah dan tafaqud
adalah hendaknya
seseorang muslim
meperhatikan keadaan
saudaranya agar ia bisa
bersegera memberikan
pertolongan sebelum
saudaranya meminta,
karena pertolongan
merupakan salah satu
hak saudaranya yang
harus ia tunaikan.
Rasulullah
bersabda:
“tidaklah
beriman seseorang dari
kalian sehingga ia
mencintai untuk
saudaranya sesuatu yang
ia cintai untuk
dinya.” (H.R Bukhari dan
Muslim sanadnya dari
Anas ra)
“Barang siapa
menghilangkan
kesusahan seorang
muslim, niscaya Allah
akan menghilangkan
satu kesusahan di hari
kiamat. Barangsiapa
menutupi aib seorang
musli,, niscaya Allah akan
menutupi aibnya di hari
kiamat. Allah selalu
menolong seorang
hamba selam dia
menolong saudaranya”
(H.R Muslim sanadnya
dari Abu Hurairah)[12]
E. Ta’awun
Ta’awun berarti
saling membantu. Allah
Swt telah
memerintahkan hamba-
hambanya yang beriman
untuk bantu-membantu
dalam melaksanakan
kebaikan dan disebut
dengan kata al-birr
meliputi hal-hal yang
wajib dan mandub
(sunnah) sedangkan
taqwa berarti menjaga
kewajiban. Allah Swt
melarang orang-orang
beriman untuk bantu
membantu dalam
kebatilan dan berbuat
dosa.
Adapula yang
mengatakan bahwa
pengertian al-itsmu
adalah meninggalkan
apa yang diperintahkan
Allah sedangkan
al-‘udwan berarti
melanggar apa yang
dilarang Allah dalam
agama-Nya.
Indikasi-indikasi
ta’awun antara lain:
a. Ta’awun memerintahkan
yang ma’ruf,
mengamalkan kebaikan
dan melaksanakan
ketaatan sesuai dengan
petunjuk Isam
b. Ta’awun meninggalkan
kemungkaran, hal yang
diharamkan bahkan hal
yang makruh.
c. Ta’awun dalam
mendekatkan dan
mendorong manusia
berada diatas
kebenaran,
menghubungkan mereka
dengan petunjuk dan
selalu berupaya merubah
mereka sesuai dengan
petunjuk Allah.
Rasulullah
bersabda:
“Demi Allah, jika
Allah memberikan
hidayah kepada
seseorang karena
dakwah yang kau
sampaikan kepadanya,
sungguh hal itu lebih
baik bagimu daripada
unta merah.” (H.R Abu
Dawud dari sanadnya
Sahl bin Sa’ad ra)[13]
F. Tanashur
Masih sejenis
dengan ta’awun tetapi
ruang lingkupnya lebih
lua, lebih
menggambarkan cinta
dan loyalitas. Tanashur
dua orang yang
berukhuwah dalam Islam
antara lain maknanya
adalah :
a. Seseorang tidak
menjerumuskan
saudaranya kepada
sesuatu yang buruk atau
dibenci, tidak
membiarkannya tatkala
ia meraih kemaslahatan
yang tidak
membahayakan orang
lain.
b. Hendaklah mencegah
seorang saudaranya dan
menolongnya dari setan
yang membisikkan
kejahatan kepadanya
dan dari pikiran-pikiran
buruk yang terlintas
pada dirinya untuk
menunda pelaksanaan
amal kebaikan.
c. Menolongnya menghadapi
setiap orang yang
menghalanginya dari
jalan kebenaran, jalan
hidayah dan jalan
dakwah.
d. Menolongnya baik saat
menzhalimi maupun saat
dizhalimi. Menolong saat
menzhalimi yakini
dengan cara
mencegahnya dari
perbuatan zhalim,
sedangkan menolong
saat dizhalimi adalah
berusaha
menghindarkannya dari
kezhaliman yang
menimpanya.[14]
Tujuh Kiat Menangkal
Virus-Virus Ukhuwah
Dalam surat Al
Hujurat (QS 49) Allah
SWT memaparkan 7 kiat
bagi kita untuk
menangkal virus-virus
ukhuwwah yang bisa
menghancurkan shaf
ukhuwwah yang telah
dibina.
1.Tabayyun
Tabayyun berarti
mencari kejelasan
informasi dan mencari
bukti kebenaran
informasi yang diterima.
Karena Allah SWT
berfirman:
"Wahai orang-orang
yang beriman, jika
datang kepadamu orang
fasiq membawa berita
maka periksalah dengan
teliti agar kamu tidak
menimpakan suatu
musibah kepada suatu
kaum tanpa mengetahui
keadaannya yang
menyebabkan kamu
menyesal atas
perbuatanmu itu." (QS
49:6)
2. ‘Adamus Sukhriyyah
Artinya tidak
memperolok-olokkan
orang atau kelompok
lain. Firman Allah SWT:
"Wahai orang-orang
yang beriman janganlah
satu kaum memperolok-
olokkan kaum yang lain
(karena) boleh jadi
mereka (yang diperolok-
olokkan) lebih baik dari
mereka (yang
memperolok-
olokkan)." (QS 49:11)
Saat ini terdapat banyak
kelompok atau
organisasi dakwah. Harus
kita sadari bahwa
diantara kelompok-
kelompok dakwah
tersebut terdapat
perbedaan yang prinsipil
maupun yang tidak
prinsipil. Perbedaan
dalam menentukan al-
hadaful a’la (sasaran
tertinggi) termasuk
dalam masalah prinsip.
Kondisi ini memancing
suasana tanafus
(persaingan) yang
kadang bentuknya tidak
sehat. Persaingan ini
akan semakin tidak
sehat dengan tampilnya
oknum-oknum yang
senang melontarkan
ungkapan-ungkapan
bernada cemooh
persaingan.
Berhimpunnya kelompok-
kelompok dakwah dan
harakah yang ada di
bumi sekarang ini adalah
suatu mimpi indah.
Sebagaimana yang ditulis
DR.Yusuf Qardhawi,
maka kesatuan
wala’ (loyalitas) dan
tumbuhnya suasana
ta’awun dalam
menghadapi konspirasi
para thaghut adalah
sesuatu yang tidak dapat
ditawar lagi. Dan
kalaupun hal ini belum
terwujud karena ada
beberapa hal yang belum
bisa kita lakukan, maka
tidak mampukah kita
sekadar meninggalkan
tradisi sukhriyyah dan
perasaan ana khairun
minhu (saya lebih baik
daripadanya) seperti
yang dinyatakan iblis???
3. ‘Adamul Lamz
Maksudnya tidak
mencela orang lain. Ini
ditegaskan dengan
firman-Nya:
"Dan janganlah kamu
mencela diri sendiri’.
Mencela sesama muslim,
oleh ayat ini dianggap
mencela diri sendiri,
sebab pada hakekatnya
kaum muslimin dianggap
satu kesatuan. Apalagi
jika celaan itu adalah
masalah status dan
standar kebendaan. Allah
sendiri menyuruh Rosul
dan orang-orang yang
mengikutinya untuk
bersabar atas segala
kekurangan orang-orang
mukmin. (lLihat QS,
18:28).
4. Tarkut Tanabuz
Yakni meninggalkan
panggilan dengan
sebutan-sebutan yang
tidak baik terhadap
sesama muslim. Ini
berdasarkan firman Allah
SWT:
"Dan janganlah kamu
saling memanggil dengan
sebutan-sebutan (yang
buruk)." (QS 49:11)
Tanabuz dalam bentuk
yang paling parah adalah
berupa pengkafiran
terhadap orang yang
beriman. Pada
kenyataannya masih saja
ada orang atau
kelompok yang dengan
begitu mudahnya
menyebut kafir kepada
orang yang tidak tertarik
untuk masuk ke dalam
kelompok tersebut.
5. Ijtinabu Katsirin
minadzdzan
Allah SWT berfirman:
"Wahai orang-orang
yang beriman jauhilah
kebanyakan dari
prasangka, karena
sebagian prasangka itu
dosa." (QS 49:12)
Pada dasarnya seorang
muslim harus berbaik
sangka terhadap
sesamanya, kecuali jika
ada bukti yang jelas
tentang kesalahan
tersebut. Dan sebaliknya,
kepada orang kafir dan
musuh Islam, kaum
muslimin harus menaruh
curiga bila mereka
bermanis budi. Allah SWT
sendiri menegaskan:
"Sesungguhnya orang-
orang kafir
menginfakkan harta-
harta mereka untuk
mengahalangi manusia
dari jalan Allah." (QS
8:36)
6. Adamut Tajassus
‘Adamut Tajassus adalah
tidak mencari-cari
kesalahan dan aurat
orang lain. Perbuatan ini
amat dicela Islam. Setiap
cara da'wah ada
metodenya masing-
masing, yang berusaha
semaksimal mungkin
mendekati cara
berda'wah Rasulullah
SAW. Allah SWT amat
suka bila kita berusaha
menutup aib saudara
kita sendiri. Firman Allah
SWT:
"Dan janganlah kamu
sekalian mencari-cari
kesalahan (dan aurat)
orang lain." (QS 49:12)
7. Ijtinabul Ghibah
Allah SWT menegaskan:
"Dan janganlah kamu
sekalian menggunjing
sebagian lain.Sukakah
salah seorang diantara
kamu memakan daging
saudaranya yang sudah
mati?…"
Ghibah sebagaimana
yang dijelaskan
Rasulullah SAW adalah
menceritakan keburukan
dan kejelekan orang lain.
Ketika seseorang
menceritakan kejelekan
orang lain, maka ada dua
kemungkinan yang
terjadi. Pertama, jika
yang diceritakannya
benar-benar terjadi
maka itulah ghibah.
Kedua, jika yang
diceritakannya itu tidak
terjadi berarti ia telah
memfitnah orang lain.
Begitu besarnya dosa
ghibah, sampai Allah SWT
menyamakan orang yang
melakukannya dengan
orang yang memakan
bangkai saudaranya
sendiri.[15]

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar