PENGUNJUNGA YANG BAIK HATI, SILAHKAN KUNJUNGI IKLAN KAMI, SIAPA TAU ANDA BERMINT

Saturday, 12 February 2011

infeksi Candida salah satu penyebab terjadinya Jamur rahim

Candida albicans secara
alami sebenarnya
terdapat pada
membrane mukosa
dalam tubuh kita, paling
banyak terdapat dalam
saluran pencernaan.
Selain itu, Candida juga
ditemukan dalam vagina
yang sehat, mulut, dan
rektum. Jika
pertumbuhannya terlalu
pesat, Candida dapat
menginfeksi vagina,
sehingga terjadi
peradangan, yang
disebut candidiasis.
Candidiasis bisa
menyerang wanita di
segala usia, terutama
usia pubertas.
Keparahannya berbeda
antara satu wanita
dengan wanita lain dan
dari waktu ke waktu
meski pada wanita yang
sama. Gejalanya, bibir
vagina dan kulit di
sekitarnya membengkak,
menjadi kemerahan,
nyeri, dan gatal. Vagina
terasa panas setiap kali
buang air kecil.
Candidiasis adalah
penyakit jamur, yang
bersifat akut atau
subakut disebabkan oleh
spesies Candida,
biasanya oleh spesies
Candida albicans dan
dapat mengenai mulut,
vagina, kulit, kuku,
bronki, atau paru,
kadang-kadang dapat
menyebabkan
septikemia, endokarditis,
atau meningitis.
Nama lain dari
Candidiasis adalah
kandidosis,
dermatocandidiasis,
bronchomycosis, mycotic
vulvovaginitis, muguet,
dan moniliasis. Istilah
candidiasis banyak
digunakan di Amerika,
sedangkan di Kanada,
dan negara-negara di
Eropa seperti Itali,
Perancis, dan Inggris
menggunakan istilah
kandidosis, konsisten
dengan akhiran –osis
seperti pada
histoplasmosis dan lain –
lain.
Gejala khas candidiasis
yang paling dikenal oleh
umum adalah keluarnya
cairan vagina berwarna
putih menyerupai keju
cottage. Mungkin karena
inilah candidiasis popular
dengan sebutan
‘keputihan’. Cairan putih
keju tersebut berbau
tidak sedap, tetapi tidak
busuk. Ketika Candida
tumbuh semakin pesat,
sel-selnya mengalami
metamorfosis. Sebagai
khamir alias ragi yang
semula selnya berbentuk
bulat, berubah menjadi
kapang yang berfilamen,
memiliki sulur-sulur akar.
Akar ini akan
berkembang semakin
panjang dan menembus
sel mukosa usus. Setelah
mencapai sistem
sirkulasi, Candida akan
melepaskan zat racun.
Bersama protein yang
tidak tercerna, zat racun
ini akan merasuki
seluruh jaringan tubuh
dan mengakibatkan
kemerosotan sistem
kekebalan tubuh.
Akibatnya, muncul reaksi
alergi, kelelahan, dan
masalah kesehatan
lainnya. Istilah lain
gangguan kesehatan
yang diakibatkan oleh
‘jamur’ Candida ini
adalah sindroma Candida
kronis (Candida-Related
Complex, CRC).
EPIDEMIOLOGI
Penyakit ini terdapat di
seluruh dunia, dapat
menyerang semua umur
terutama bayi dan orang
tua, baik laki – laki
maupun perempuan.
Jamur penyebabnya
terdapat pada orang
sehat sebagai saprofit.
Gambaran klinisnya
bermacam – macam
sehingga tidak diketahui
data – data
penyebarannya dengan
tepat.
ETIOLOGI
Yang tersering sebagai
penyebab ialah Candida
albicans yang dapat
diisolasi dari kulit, mulut,
selaput mukosa vagina,
dan feses orang normal.
Sebagai penyebab
endokarditis kandidosis
ialah Candida
parapsilosis dan
penyebab kandidosis
septikemia adalah
Candida tropicalis.
Genus Candida
merupakan sel ragi
uniseluler yang termasuk
ke dalam Fungi
imperfecti atau
Deuteromycota, kelas
Blastomycetes yang
memperbanyak diri
dengan cara bertunas,
famili Cryptococcaceae.
Genus ini terdiri lebih
dari 80 spesies, yang
paling patogen adalah C.
albicans diikuti
berturutan dengan C.
stellatoidea, C.
tropicalis, C. parapsilosis,
C. kefyr, C. guillermondii
dan C. krusei.
PATOGENESIS
Infeksi kandida dapat
terjadi, apabila ada
faktor predisposisi baik
endogen maupun
eksogen. Faktor endogen
meliputi perubahan
fisiologik, umur,dan
imunologik.
Perubahan fisiologik
seperti kehamilan
(karena perubahan pH
dalam vagina);
kegemukan (karena
banyak keringat);
debilitas; latrogenik;
endokrinopati (gangguan
gula darah kulit);
penyakit kronik seperti:
tuberkulosis, lupus
eritematosus dengan
keadaan umum yang
buruk.
Umur contohnya: orang
tua dan bayi lebih mudah
terkena infeksi karena
status imunologiknya
tidak sempurna.
Imunologik contohnya
penyakit genetik.
Faktor eksogen meliputi:
iklim, panas, dan
kelembaban
menyebabkan respirasi
meningkat, kebersihan
kulit, kebiasaan
berendam kaki dalam air
yang terlalu lama
menimbulkan maserasi
dan memudahkan
masuknya jamur, dan
kontak dengan penderita
misalnya pada thrush,
dan balanopostitis.
GEJALA
Gejalanya bervariasi,
tergantung kepada
bagian tubuh yang
terkena., dapat dibagi
menjadi: infeksi pada
lipatan kulit (infeksi
intertriginosa), infeksi
vagina (vulvovaginitis),
infeksi penis, thrush,
perléche, dan paronikia.
Infeksi pada lipatan kulit
(infeksi intertriginosa)
biasanya menyebabkan
ruam kemerahan, yang
seringkali disertai
adanya bercak-bercak
yang mengeluarkan
sejumlah kecil cairan
berwarna keputihan.
Biasanya timbul bisul-
bisul kecil, terutama di
tepian ruam dan ruam ini
menimbulkan gatal atau
rasa panas. Ruam
Candida di sekitar anus
tampak kasar, berwarna
merah atau putih dan
terasa gatal.
Infeksi vagina
(vulvovaginitis) sering
ditemukan pada wanita
hamil, penderita
diabetes atau pemakai
antibiotik.Gejalanya
berupa keluarnya cairan
putih atau kuning dari
vagina disertai rasa
panas, gatal dan
kemerahan di sepanjang
dinding dan daerah luar
vagina.
Infeksi penis sering
terjadi pada penderita
diabetes atau pria yang
mitra seksualnya
menderita infeksi vagina.
Biasanya infeksi
menyebabkan ruam
merah bersisik (kadang
menimbulkan nyeri) pada
bagian bawah penis.
Thrush merupakan
infeksi jamur di dalam
mulut. Bercak berwarna
putih menempel pada
lidah dan pinggiran
mulut, sering
menimbulkan nyeri.
Bercak ini bisa dilepas
dengan mudah oleh jari
tangan atau sendok.
Thrush pada dewasa bisa
merupakan pertanda
adanya gangguan
kekebalan, kemungkinan
akibat diabetes atau
AIDS. Pemakaian
antibiotik yang
membunuh bakteri
saingan jamur akan
meningkatkan
kemungkinan terjadinya
thrush.
Perléche merupakan
suatu infeksi Candida di
sudut mulut yang
menyebabkan retakan
dan sayatan kecil. Bisa
berasal dari gigi palsu
yang letaknya bergeser
dan menyebabkan
kelembaban di sudut
mulut sehingga tumbuh
jamur.
Paronikia adalah candida
tumbuh pada bantalan
kuku, menyebabkan
pembengkakan dan
pembentukan nanah.
Kuku yang terinfeksi
menjadi putih atau
kuning dan terlepas dari
jari tangan atau jari
kaki.
PEMBANTU DIAGNOSIS
Dapat dibagi menjadi
pemeriksaan langsung
dan pemeriksaan biakan.
Pemeriksaan langsung:
kerokan kulit atau
usapan mukokutan
diperiksa dengan larutan
KOH 10% atau dengan
pewarnaan gram,
terlihat sel ragi,
blastospora, atau hifa
semu.
Pemeriksaan biakan:
bahan yang akan
diperiksa ditanam dalam
agar dektrosa glukosa
Sabouraud, dapat pula
agar ini dibubuhi
antibiotik
(kloramfenikol) untuk
mencegah pertumbuhan
bakteri. Perbenihan
disimpan dalam suhu
kamar atau lemari suhu
37ºC, koloni tumbuh
setelah 24-48 jam, berupa
yeast like colony.
Identifikasi Candida
albicans dilakukan
dengan membiakkan
tumbuhan tersebut pada
corn meal agar.
DIAGNOSIS BANDING
Dapat dibagi
berdasarkan tempatnya
yaitu kandidiasis kutis
lokalisata, kandidiasis
kuku, dan kandidiasis
vulvovaginitis.
Kandidiasis kutis
lokalisata dengan: 1).
eritrasma: lesi di lipatan,
lesi lebih merah, batas
tegas, kering tidak ada
satelit, pemeriksaan
dengan sinar Wood
positif, 2). dermatitis
intertriginosa, 3).
dermatofitosis (tinea);
Kandidiasis kuku dengan
tinea unguium;
Kandidiasis vulvovaginitis
dengan: 1). trikomonas
vaginalis, 2). gonore
akut, 3). Leukoplakia, 4).
liken planus
PENGOBATAN
Dengan cara
menghindari atau
menghilangkan faktor
predisposisi, topikal, dan
sistemik. Topikal
meliputi:
1). larutan ungu gentian
½-1% untuk selaput
lendir, 1-2% untuk kulit,
dioleskan sehari 2 kali
selama 3 hari
2). nistatin: berupa krim,
salap, emulsi
3). amfoterisin B
4). grup azol antara lain:
Mikonazol 2% berupa
krim atau bedak,
Klotrimazol 1% berupa
bedak, larutan dan krim,
Tiokonazol, bufonazol,
isokonazol,
Siklopiroksolamin 1%
larutan, krim,
Antimikotik yang lain
yang berspektrum luas.
Sistemik meliputi: 1).
Tablet nistatin untuk
menghilangkan infeksi
fokal dalam saluran
cerna, obat ini tidak
diserap oleh usus, 2).
Amfoterisin B diberikan
intravena untuk
kandidiasis sistemik, 3).
Untuk kandidiasis
vaginalis dapat diberikan
kotrimazol 500 mg per
vaginam dosis tunggal,
sistemik dapat diberikan
ketokonazol 2 x 200 mg
selama 5 hari atau
dengan itrakonazol 2 x
200 mg dosis tunggal
atau dengan flukonazol
150 mg dosis tunggal, 4).
Itrakonazol: bila dipakai
untuk kandidiasis
vulvovaginalis dosis
untuk orang dewasa 2 x
100 mg sehari, selama 3
hari.1
Beberapa terapi non-
obat tampaknya
membantu. Terapi
tersebut belum diteliti
dengan hati-hati untuk
membuktikan hasilnya,
seperti: 1). mengurangi
penggunaan gula, 2).
minum teh Pau d’Arco.
Ini dibuat dari kulit
pohon Amerika Selatan,
3). memakai bawang
putih mentah atau
suplemen bawang putih.
Bawang putih diketahui
mempunyai efek anti-
jamur dan antibakteri.
Namun bawang putih
dapat mengganggu obat
protease inhibitor, 4).
kumur dengan minyak
pohon teh (tea tree oil)
dapat dilarutkan dengan
air, 5). memakai kapsul
laktobasilus (asidofilus).
PENCEGAHAN
Tidak ada cara untuk
mencegah terpajan pada
Candida. Obat-obatan
tidak biasa dipakai untuk
mencegah kandidiasis.
Ada beberapa alasan: 1).
Penyakit tersebut tidak
begitu bahaya, 2). Ada
obat-obatan yang efektif
untuk mengobati
penyakit tersebut, 3).
Ragi dapat menjadi kebal
(resistan) terhadap obat-
obatan. Memperkuat
sistem kekebalan tubuh
adalah cara terbaik
untuk mencegah
jangkitan kandidiasis.

No comments:

Post a Comment