SALAM SUKSES

Tuesday, 5 October 2010

SKRIPSI EKONOMI. PENGARUH BIAYA PROMOSI TERHADAP TINGKAT PENJUALAN PADA USAHA DEPOT AIR MINUM ISI ULANG AIRTA MANOKWARI

BAB I
PENDAHULUAN


A. Latar Belakang
Aktivitas yang paling utama dalam suatu perusahaan adalah proses produksi, khususnya pada perusahaan manufaktur. Dalam perusahaan manufaktur
proses produksi dilaksanakan dengan tujuan untuk menghasilkan produk secara fisik.
Prose produksi adalah proses perubahan masukan menjadi keluaran, dengan adanya hasil keluaran ini sehingga timbul kata produk. Produk merupakan hasil utama dalam suatu perusahaan untuk memulai aktivitasnya dengan tujuan memperoleh pendapatan. Antara produk dengan pendapatan, tidak terlepas dari sistem pemasaran. Sistem pemasaran ini adalah suatu teknik atau cara penjualan untuk mencapai hasil yang diinginkan.
Pemasaran memerlukan manajemen yang baik agar usaha tersebut bisa lebih baik. Kotler (2000:19), mangatakan bahwa manajamen pemasaran adalah
proses perencanaan dan pelaksanaan dari perwujudan, pemberian harga,
promosi dan distribusi dari barang-barang, jasa dan gagasan untuk menciptakan pertukaran dengan kelompok sasaran yang memenuhi tujuan pelanggan dan organisasi.
Tugas manajemen pemasaran bukan hanya serbatas bagaimana menjual produk sebanyak mungkin (semaksimal mungkin). Namun lebih dari itu, yakni bagaimana menjual produk perusahaan semaksimal mungkin diiringi cara pelayanan yang baik. Hal ini berguna dalam mengantisipasi faktor jangka panjang, yaitu dapat memuaskan keinginan dan kebutuhan pelanggan yang pada akhirnya dapat mempertahankan serta meningkatkan faktor penjualan.
Untuk dapat bertahan dalam dunia bisnis yang kondisi persaingan
terus meningkat, maka suatu perusahaan harus dituntut dapat menguasai pasar dengan menggunakan produk yang dihasilkan. Dengan kemampuan
menguasai pasar yang ada, dapat memungkinkan suatu perusahaan memperoleh dana untuk membiayai kegiatan operasinya, pengembangan dan faktor
lainnya.
Salah satu teknik dalam pemasaran adalah promosi. Promosi merupakan bagian dari sistem pemasaran yang bertujuan untuk memperkenalkan produk yang dihasilkan sehingga mencapai tujuan yang diinginkan. Dalam proses promosi tentu membutuhkan biaya, sehingga timbul biaya promosi.
Salah satu usaha di Manokwari yang dalam hasil produksinya
menghasilkan produk fisik adalah Usaha Depot Air Minum Isi Ulang Airta Manokwari. Usaha ini dalam memenuhi aktivitasnya memerlukan manajenem yang baik sehingga memperoleh tujuan sesuai dengan yang diinginkan. Sistem atau teknik yang harus di utamakan dalam kaitannya dengan produk fisik adalah promosi. Dalam tahap promosi tentu mengeluarkan biaya-biaya sesuai
dengan yang dibutuhkan, sehingga dengan adanya biaya promosi ini
apakah tingkat penjualan nantinya akan terpengaruh, maka penulis tertarik
untuk mengambil judul “Pengaruh biaya promosi terhadap tingkat penjualan pada
Usaha Depot Air Minum Isi Ulang Airta Manokwari”.
B. Permasalahan
Melihat uraian pada latar belakang, maka penulis dapat merumuskan permasalahan yaitu “Seberapa besar pengaruh biaya promosi terhadap tingkat penjualan pada Usaha Depot Air Minum Isi Ulang Airta Manokwari pada tahun 2007 s/d 2009.

C. Tujuan Penelitian
Adapun tujuan dari penelitian ini adalah : mengetahui pengaruh biaya promosi terhadap tingkat penjualan pada usaha Depot Air Minum Isi Ulang Airta Manokwari pada tahun 2007 s/d 2009.

D. Kegunaan Penelitian
Kegunaan dari penelitian ini adalah sebagai berikut :
1. Sebagai bahan informasi bagi objek penelitian dalam kaitannya dengan masalah yang diteliti.
2. Sebagai bahan acuan atau bahan referensi penelitian selanjutnya bagi pihak yang membutuhkannya.
3. Sebagai bahan kepustakaan STIE Mah-Eisa Manokwari.





BAB II
TINJAUAN PUSTAKA


A. Pengertian Usaha
Usaha merupakan suatu kegiatan yang dilakukan untuk mencapai suatu tujuan. Usaha didefinisikan sebagai kegiatan dengan menggerahkan tenaga, pikiran atau badan untuk mencapai suatu maksud (Alwi Hasan, 2001: 200 ).
Usaha dalam ilmu ekonomi adalah suatu kegiatan produksi yang
dilakukan oleh manusia untuk memenuhi kebutuhan pokok keluarga yang dilakukan dari berbagai jenis. Usaha produksi atau industri adalah kegiatan usaha yang terutama bergerak dalam proses mengubah bahan mentah menjadi
barang akhir yang mempunyai nilai tambah untuk dikonsumsi (Wibowo, S, et A, (1998 : 35).
Selanjutnya Thomas dalam Suryana (2003 : 10), usaha adalah penerapan kreatifitas dan inovasi untuk memecakan masalah dan memanfaatkan peluang yanng dihadapi setiap hari. Kreatifitas adalah kemampuan untuk mengembangkan ide-ide baru dalam memecahkan persoalan atau semua yang baru. Inovasi ialah kemampuan untuk menerapkan kreativitas dalam rangka meningkatkan taraf hidup.
Sedangkan Marzuki dalam Suryana (2003 : 11), berusaha adalah seseorang yang melakukan setiap aspek pekerjaan, baik sebagai pemimpin maupun sebagai karyawan secara baik dan teratur. Hasil dari pekerjaan yang baik selalu mendatangkan pendapatan yang baik pula.
Demikian pula Soeparman dalam Suryono (2003 : 11), usaha adalah mereka yang melakukan upaya-upaya kreativitas dan inovosi dengan jalan mengembanngkan ide-ide dan menggunakan sumber daya yang ada untuk menemukan peluang dalam memperbaiki kehidupan.
Menurut Gege dalam Suryono (2003 : 11), seseorang memilkiki minat usaha kerena adanya motif berprestasi. Motif berprestasi adalah suatu nilai sosial
yang menekankan pada hasrat untuk mencapai yang terbaik guna mencapai kepuasan secara pribadi, faktor dasarnya adalah adanya kebutuhan yanng harus dipenuhi.
Menurut Meredith dalam Suryana (2003 : 12), usaha berarti memadukan waktu, keuangan dan sumber daya. Oleh karena itu berusaha merupakan suatu pekerjaan atau karier yang harus bersifat fleksibel, mampu merencanakan, mengambil resiko, mengambil keputusan-keputusan dan tahapan-tahapan utuk mencapai tujuan.
Usaha adalah suatu kegiatan ekonomi yang bertujuan menghasilkan barang atau jasa untuk diperjual belikan atau ditukar dengan barang lain dan seorang atau lebih yang bertanggung jawab menanggung resiko usaha yang dalam melakukan aktivitas kegiatannya pada suatu lokasi yang tetap, Alma (2001 : 25)

B. Pengertian Produksi
Produksi atau output adalah hasil fisik yang dihasilkan bekerjanya beberapa faktor produksi sekaligus tanah, modal, dan tenaga kerja (Mubyarto, 1989 : 20). Sedangkan menurut Teken dan Asnawi (1977 : 76), produksi merupakan suatu proses memadu (menjadikan) barang-barang atau zat dan tenaga kerja yang sudah ada dimana hasil dari proses produksi disebut output (produk).
Produksi merupakan penciptaan atau penambahan faedah bentuk, waktu dan tempat atas faktor-faktor produksi sehingga lebih bermanfaat bagi pemenuhan kebutuhan manusia. Sedangkan proses produksi merupakan cara, metode, teknik pelaksanaan produksi dengan memanfaatkan faktor-faktor produksi (Reksohadiprodjo dan Ditosudarmo, 1986 : 60).
Produksi merupakan fungsi pokok dalam setiap organisasi, yang mencakup aktivitas yang bertanggung jawab untuk penciptaan nilai tambah produk yang merupakan output dari setiap organisasi Vincent (2001 : 90). Selanjutnya Battie dan Taylor (1996 : 105) mengartikan produksi sebagai kombinasi dan koordinasi material-material dan kekuatan-kekuatan dalam pembuatan suatu barang atau jasa. Komponen produksi yang dihasilkan dalam usaha ini adalah mebel. Untuk melakukan suatu produksi diperlukan bantuan kerjasama beberapa faktor produksi sekaligus.
Produksi adalah penciptaan barang-barang dan jasa-jasa. Produksi merupakan pengubahan bentuk atau transpormasi sumberdaya menjadi barang-barang dan jasa-jasa (Reksohadiprodjo, 2003 : 13).
Produksi adalah proses menghasilkan suatu produk. Sedangkan proses produksi adalah suatu proses dimana beberapa barang dan jasa yang disebut masukan produksi diubah menjadi barang-barang atau jasa lain yang disebut produk (Ernawaty, 2003 : 57).
Proses produksi adalah segala kegiatan dalam menciptakan dan menambah kegunaan (utility) sesuatu barang atau jasa, untuk kegiatan mana dibutuhkan faktor-faktor produksi yang dalam ilmu ekonomi berupa tanah, modal, tenaga kerja dan skiil (organizational, managerial dan technical skiils) (Assauri,
1998 : 88).
Menurut Sutarso dalam salah satu situsnya (2007 : 156) proses produksi adalah suatu kegiatan yang menghasilkan output dalam bentuk barang maupun
jasa. Contohnya : pabrik meubel yang memproduksi lemari, kursi, perlengkapan rumah tangga dan lain-lain, menghasilkan jasa seperti : tukang pijet
yang memberikan pelayanan jasa pijat/urut kepada pelanggannya, dan lain sebagainya.
Menurut Subagyo (2000 : 8), proses produksi atau proses operasi adalah proses perubahan masukan menjadi keluaran. Macam barang yang dikerjakan banyak sekali sehingga macam proses yang ada juga banyak. Pada umumnya proses produksi dibagi menjadi dua macam yang sifatnya ektrim, yaitu proses produksi continoutas atau terus-menerus dan proses produksi intermittent atau terputus-putus.
Proses produksi terus-menerus atau continous adalah proses produksi yang tidak pernah berganti macam barang yang dikerjakan. Mulai pabrik berdiri selalu mengerjakan barang yang sama sehingga prosesnya tidak pernah terputus dengan mengerjakan barang lain. Setup atau persiapan fasilitas produksi dilakukan sekali pada saat pabrik mulai bekerja, sesudah itu proses produksi berjalan secara rutin. Biasanya urutan proses produksinya selalu sama sehingga letak mesin-mesin serta fasilitas produksi yang lain disesuaikan dengan urutan proses produksinya agar produksi berjalan lancar dan efisien.
Proses produksi continous biasanya juga disebut sebagai proses produksi yang berfokuskan pada produk atau product focus. Karena setiap produk disediakan fasilitas produk tersendiri yang meletakkannya sesuai dengan urutan proses pembuatan produk itu.
Proses produk yang termasuk produck focus sering digunakan
untuk membuat barang yang macamnya relatif sama dan jumlah yang dihasilkan banyak sekali. Hasil produksi dapat distandardisasikan, dan dalam jangka panjang tidak pernah berubah macamnya. Arus barang dalam proses produksi menyerupai garis sehingga sering dikatakan sebagai line flo. Misalnya, pabrik gula pasir.
Proses produksi terputus-putus atau intermittent digunakan untuk
pabrik yang mengerjakan barang bermacam-macam, dengan jumlah setiap macam hanya sedikit. Macam barang selalu berganti-ganti sehingga selalu dilakukan persiapan produk dan penyetelan mesin kembali, setiap macam barang yang dibuat berganti. Dikatakan proses produksi terputus-putus karena
perubahan proses produksi setiap saat terputus apabila terjadi perubahan macam barang yang dikerjakan. Oleh karena itu, tidak mungkin mengurutkan letak
mesin sesuai dengan urutan proses pembuatan barang. Biasanya arus barang beraneka macam, sesuai dengan letak mesin yang dibutuhkan untuk mengerjakannya.
Menurut Reksohadiprodjo (2003 : 229 – 231), Produk dihasilkan melalui suatu proses yaitu cara (ketrampilan dan sarana) yang dipakai untuk memproduksi produk. Untuk ini diperlukan strategi produk, yang mencakup pemilihan, definisi dan rancangan bangun produk. Agar supaya strategi produk berhasil diperlukan kemampuan manajerial, keterampilan teknologi, sumberdaya finansial, sumberdaya manusia dan keuntungan dan keunggulan bersaing produk. Analisis dan rancang bangun produk berasal dari lingkungan: konsumen, pesaing, pemasok dan dari badan usaha sendiri: kelompok peneliti dan pengembangan produk, teknik, dan pemasaran serta produksi.
Pemilihan, definisi dan rancang bangun produk dilakukan tersus-menerus karena kesempatan adanya produk baru jarang ada karena : perubahan ekonomi yang membatasi permintaan masyarakat: perusahaan sosial dan penduduk, misalnya dua anak cukup, berarti permintaan akan berkurang dan varietas pun terbatas: perubahan teknologi terbatas: perubahan politik misalnya persetujuan dagang yang membatasi: perubahan praktek pasar, standar profesional dan distributor yang membatasi gerak badan usaha.
Disamping itu perlu dihayati pola hidup prodak yang berlainan
bentuknya sehingga waktu pengenalan atau masuknya produk baru perlu dipertimbangkan.
Spesifikasi tepat suatu produk perlu agar produksi itu efisien. Peralatan, letak fasilitas fisik, dan sumberdaya manusia tak dapat ditentukan sebelum
produk didefinisikan, dirancang bangun dan didokumentasikan. Yang dimaksud dengan pendefinisian produk adalah bertalian dengan fungsinya, yaitu apa yang dapat dilakukannya. Kemudian dirancang bangun, yaitu bagaimana fungsi
dapat diperoleh misalnya tentang warna, ukuran, kualitas dan dapatnya
diterima pasar. Pendefinisian produk biasanya dilakukan dengan gambar-
gambar teknis yang menunjukkan dimensi, toleransi, bahan, dan akhir jadi komponen.
Proses produksi tidak terlepas dari pembelian bahan baku. Bahan adalah bahan mentah, komponen, sup perakitan serta pasokan (supplies) yang dipergunakan untuk menghasilkan barang-barang dan jasa-jasa. Bahan ini
harus dikelola, artinya harus direncanakan, diorganisasikan, dan diawasi sehingga aliran bahan mulai dari pembelian melalui operasi intern sampai distribusi
barang jadi itu efisien dan efektif. Pengelolaan bahan ini mencakup usaha-usaha (1) pembelian, (2) transportasi, (3) pengendalian melalui pengelolaan
produksi-persediaan, dan (4) pergudangan dan distribusi (Reksohadiprodjo,
2003 : 237).
Persediaan adalah sumber daya yang menganggur namun memiliki nilai ekonomis. Persediaan terdiri atas bahan menta, bahan dalam proses dan barang jadi. Persediaan mencerminkan investasi yang dirancang untuk memperlancar kegiatan produksi dan melayani langganan. Namum membawa atau menyimpan persediaan memerlukan dana yang tak menghasilkan apa-apa padahal dapat digunakan pada aspek lain. Oleh karena itu, pengelolaan persediaan adalah mempunyai persediaan yang cukup, tidak berlebihan dan tidak pula akan mengalami kekurangan (Reksohadiprodjo, 2003 : 238).
Persediaan dapat untuk : memperlancar produksi, terutama bila pasokan dan permintaan tidak menentu: menangkal inflasi, kalau harga turun beli bahan dalam jumlah banyak, dan kalau harga naik kita telah memiliki persediaan cukup bahkan nilainya lebih tinggi: mengambil keuntungan atas potongan jumlah bila beli banyak, namun perlu dipikirkan biaya penyimpanannya, rusaknya bahan, dan lain-lain (Reksohadiprodjo, 2003 : 242).
Menurut Reksohadiprodjo (2003 : 273-275), Perusahaan pada umumnya menghendaki adanya produksi yang selalu sama atau konstan pada tiap-tiap hari atau tiap-tiap bulannya. Hal ini disebabkan karena pola produksi konstan ini memudahkan pimpinan perusahaan merencanakan kebutuhan-kebutuhan tenaga kerja, bahan maupun fasilitas-fasilitas lain yang diperlukan di dalam berproduksi. Apabila produksi tersebut berfluktuasi, tenaga kerja, bahan baku maupun fasilitas-fasilitas produksi juga berfluktuasi sehingga menjadi lebih sulit.
Di dalam pola produksi yang konstan tersebut berarti volume produksi yang sudah direncanakan di dalam perencanaan atau analisis luas produksi dibagi merata ke dalam tiap-tiap periode yang pendek yaitu harian dan bulanan atau mingguan. Sedangkan di dalam pola produksi yang tidak konstan itu volume produksi tahunan dibagi di dalam periode-periode pendek yang berbeda-beda jumlahnya: produksi bulan pertama tidak sama dengan produksi bulan berikutnya dan seterusnya.

C. Pengertian Biaya
Menurut Mulyadi (2001 : 8), biaya dalam artian luas adalah pengorbanan sumber ekonomi, yang diukur dalam satuan uang, yang telah terjadi atau yang kemungkinan akan terjadi untuk tujuan tertentu. Ada empat unsur pokok dalam definisi biaya tersebut di atas :
1. Biaya merupakan pengorbanan sumber ekonomi
2. Diukur dalam satuan uang
3. Yang telah terjadi atau yang secara potensial akan terjadi.
4. Pengorbanan tertentu untuk tujuan tertentu.
Dalam arti sempit biaya dapat diartikan sebagai pengorbanan sumber ekonomi untuk memperoleh aktiva. Untuk membedakan pengertian biaya dalam arti luas, pengorbanan sumber ekonomi untuk memperoleh aktiva ini disebut dengan istilah harga pokok.
Istilah harga pokok juga digunakan untuk menunjukkan pengorbanan sumber ekonomi dalam pengolahan bahan baku menjadi bahan produk. Jika pengorbanan sumber ekonomi tersebut tidak menghasilkan manfaat, maka pengorbanan tersebut merupakan rugi. Jika seorang pengusaha telah mengeluarkan biaya, tetapi pengorbanannya tidak mendatangkan pendapatan (revenues), maka pengorbanan ini disebut rugi (Mulyadi, 1999 : 10).
Menurut Simamora (2002 : 40), biaya (cost) adalah kas atau setara kas yang dikorbankan atau dibayarkan untuk barang atau jasa yang diharapkan memberikan manfaat atau pendapatan pada saat ini atau dimasa mendatang bagi organisasi. Disebut setara kas karena sumber daya nonkas dapat ditukarkan dengan
barang atau jasa yang dikehendaki. Biaya berkaitan dengan segala jenis organisasi-bisnis, nonbisnis, jasa, eceran, dan pabrikase. Biaya sering diukur dengan satuan moneter, sebagai contoh: rupiah dan dollar yang mesti dibayar untuk barang dan jasa. Biaya dikelurkan untuk menghasilkan manfaat dimasa depan. Dalam perusahaan berorientasi laba, manfaat dimasa depan biasanya berarti pendapatan.
Biaya yang pada mulanya dicatat sebagai aktiva akan memberikan manfaat lebih dari satu periode akuntansi. Pencatatan suatu biaya sebagai aktiva sering disebut sebagai kapitalisasi biaya. Pada saat aktiva dipakai untuk menghasilkan pendapatan, biaya aktiva haruslah diakui sebagai beban guna menandingkan secara benar pendapatan dengan beban dalam menetukan laba bersih periodik. Pada umumnya, jenis biaya yang dikeluarkan dan cara biaya tersebut diklasifikasikan tergantung pada jenis organisasinya.
Biaya adalah harga perolehan yang dikorbankan atau digunakan dalam rangka memperoleh penghasilan (revenues) dan akan dipakai sebagai pengurang penghasilan (Supriyono, 1999 : 16 ).
APB Statemen No.4 mendefinisikan biaya (cost) sebagai berikut (Wibowo dan Sinaga, 1997 : 198) :
Biaya (cost) adalah jumlah yang diukur dalam uang, dari uang kas
yang dibelanjakan atau harta lain yang di transfer, modal saham yang diterbitkan, jasa yang dilaksanakan, atau utang yang dibuat, sebagai
ganti barang atau jasa yang diterima atau akan diterima. Biaya dapat diklasifikasikan sebagai yang belum jatuh tempo atau yang sudah jatuh
tempo. Biaya yang belum jatuh tempoh (aktiva) adalah biaya yang
dapat digunakan untuk menghasilkan pendapatan yang akan datang, sedangkan biaya yang jatuh tempo adalah biaya yang tidak dapat digunakan
untuk menghasilkan pendapatan yang akan datang, dan oleh karena itu dianggap sebagai pengurangan dari pendapatan berjalan atau dibebankan terhadap laba yang ditahan.

Biaya adalah arus keluar atau pemakaian lain dari harta sebuah kesatuan atau terjadinya utang dari sebuah kesatuan atau kombinasi keduanya
selama suatu periode tertentu yang timbul dari penyerahan atau produksi
barang, pemberian jasa, atau pelaksanaan aktivitas lain yang merupakan
kegiatan utama dan pusat yang berlangsung dari kesatuan itu (Wibowo dan Sinaga, 1997 : 171).
Kas (cost) adalah kas atau ekuivalen kas yang dikorbankan untuk membeli barang atau jasa yang diharapkan akan memberikan manfaat bagi perusahaan saat sekarang atau untuk periode mendatang (Krismiaji, 2002 : 18).
Biaya sesungguhnya adalah biaya-biaya yang sungguh-sungguh terjadi atau biaya yang dibebankan untuk dapat menghasilkan suatu perhitungan harga
pokok produk atas suatu produk, proses pengumpulan biaya produk dimulai dari proses mendapatkan bahan mentah sampai kepada pengolahan produk selesai. Adapun metode pengumpulan biaya produksi sesungguhnya itu sendiri ditentukan oleh sifat dan penggolongan produk yang diproduksi. Pengolahan suatu produk
bisa atau mungkin atas dasar pesanan dari langganan atau mungkin pula atas dasar
produksi masa (Tuanakotta, 2005 : 24).
Dala perusahaan manufaktur, ada tiga fungsi pokok, yaitu fungsi produksi: fungsi pemasaran: dan fungsi administrasi dan umum. Oleh karena itu
dalam perusahaan manufaktur, biaya dapat dikelompokkan menjadi tiga kelompok:
1. Biaya Produksi
Biaya produksi merupakan biaya-biaya yang terjadi untuk mengolah bahan baku menjadi produk jadi yang siap untuk dijual. Misalnya
biaya depresiasi mesin dan equipmen: biaya bahan penolong: biaya
gaji karyawan yang bekerja dalam bagian-bagian, baik yang langsung maupun yang tidak langsung berhubungan dengan produksi.
Menurut pengeluarannya, secara garis besar biaya produksi ini
dibagi menjadi: biaya bahan baku, biaya tenaga kerja langsung, dan
biaya overhead pabrik (Factory overhead cost). Biaya bahan baku disebut dengan istilah biaya utama (Prime cost), sedangakan biaya tenaga kerja
langsung dan biaya overhead pabrik sering pula disebut dengan istilah biaya konversi (conversion cost), yang merupakan biaya untuk mengkonversi (mengubah) bahan baku menjadi produk jadi.
“Bahan yang digunakan untuk menghasilkan produk jadi disebut
bahan baku. Istilah bahan tidak hanya berupa bahan mentah seperti kayu, biji besi, dan lain-lain, namun secara umum bahan baku adalah semua bahan
yang digunakan untuk menghasilkan produk jadi, dan produk jadi yang dihasilkan oleh sebuah perusahaan dapat menjadi bahan baku dari perusahaan lain.
Bahan baku dibagi menjadi 2, yaitu: bahan baku langsung (direct material), yaitu bahan yang menjadi bagian integral dari produk jadi dan secara fisik serta meyakinkan dapat ditelusur keberadaannya pada produk
jadi. Sebagai contoh, kursi pesawat yang dibeli dari perusahaan lain, digunakan sebagai salah satu komponen dalam membuat pesawat terbang. Jenis bahan baku yang kedua adalah bahan baku tidak langsung (indirect material). Bahan baku tidak langsung adalah bahan baku yang tidak dapat ditelusur secara fisik keberadaannya. Bahan baku jenis ini sering disebut dengan bahan penolong.
Istilah biaya tenaga kerja langsung digunakan untuk biaya tenaga kerja yang dapat dengan mudah ditelusur ke produk. Biaya tenaga kerja tidak langsung mencakup biaya petugas kebersihan, pengawas, petugas penanganan bahan baku, dan petugas keamanan pabrik.
Biaya overhead pabrik merupakan elemen ketiga dari biaya
manufaktur, dan mencakup seluruh biaya tidak langsung. Contoh biaya yang masuk dalam kelompok biaya overhead pabrik adalah bahan
baku tidak langsung, biaya tenaga kerja tidak langsung, reparasi dan pemeliharaan peralatan pabrik, biaya listrik dan air untuk pabrik, pajak bumi dan bangunan fasilitas pabrik, dan biaya depresiasi dan asuransi
fasilitas pabrik.
Menurut Mulyadi (2001: 208 – 209), biaya-biaya produksi yang termasuk dalam biaya overhead pabrik dikelompokkan menjadi beberapa golongan berikut ini:
a. Biaya bahan penolong
Bahan penolong adalah bahan yang tidak menjadi bagian produk
jadi atau bahan yang meskipun menjadi bagian produk jadi tetapi nilainya relatif kecil bila dibandingkan dengan harga produk tersebut.
Dalam perusahaan percetakan misalnya, yang termasuk dalam bahan penolong antara lain adalah: bahan perekat, tinta koreksi, dan pita mesin ketik.
b. Biaya reparasi dan pemeliharaan
Biaya reparasi dan pemeliharaan berupa biaya suku cadang, biaya bahan habis pakai dan harga perolehan jasa dari pihak luar perusahaan untuk keperluan perbaikan dan pemeliharaan emplasemen, perumahan, bangunan pabrik, dan lain-lain.

c. Biaya tenaga kerja langsung
Tenaga kerja langsung adalah tenaga kerja pabrik yang
upahnya tidak dapat diperhitungkan secara langsung kepada
produk atau pesanan tertentu. Biaya tenaga kerja langsung terdiri
dari upah, tunjangan dan biaya kesejahteraan yang dikeluarkan
untuk tenaga kerja tidak langsung tersebut. Tenaga kerja langsung terdiri dari :
1. Karyawan yang bekerja dalam departemen pembantu, seperti depatemen-departemen pembangkit tenaga listrik, uap, bengkel, dan departemen gudang.
2. Karyawan tertentu yang bekerja dalam departemen produksi,
seperti kepala departemen produksi, karyawan administrasi pabrik, mandor.
d. Biaya yang timbul sebagai akibat penilaian terhadap aktiva tetap
Biaya-biaya yang termasuk dalam kelompok ini antara lain adalah biaya-biaya depresiasi emplasemen pabrik, bangunan pabrik, mesin dan equipmen, perkakas laboraterium, alat kerja, dan aktiva tetap lain yang digunakan di pabrik.
e. Biaya yang timbul sebagai akibat berlalunya waktu
Biaya-biaya yang termasuk dalam kelompok ini antara lain adalah biaya-biaya asuransi gedung dan empalsemen, asuransi mesin dan equipmen, asuransi kendaraan, asuransi kecelakaan karyawan, dan biaya amortisasi kerugian trial-run.
f. Biaya overhead pabrik yang secara langsung memerlukan pengeluaran uang tunai.
Biaya overhead pabrik yang termasuk dalam kelompok ini antara lain adalah biaya reparasi yang diserahkan kepada pihak luar perusahaan, biaya listrik PLN dan sebagainya”.
2. Biaya Pemasaran
Biaya pemasaran merupakan biaya-biaya yang terjadi untuk melaksanakan kegiatan pemasaran produk. Misalnya biaya iklan: biaya promosi, biaya angkutan dari gudang perusahaan ke gudang pembeli: gaji karyawan bagian-bagian yang melaksanakan kegiatan pemasaran: biaya contoh (sample).

3. Biaya Administrasi dan Umum
Biaya Administrasi dan umum merupakan biaya-biaya untuk mengkoordinasi kegiatan produksi dan pemasaran produk. Misalnya
biaya gaji karyawan bagian keuangan, akuntansi, personalia dan bagian hubungan masyarakat, biaya pemeriksaan akuntan, biaya fotocopy. Jumlah biaya pemasaran dan administrasi dan umum sering pula disebut dengan istilah biaya komersial (Commercial expenses).
Menurut Mulyadi (2001 : 14), penggolongan Biaya Menurut
Hubungan dengan Sesuatu yang Dibiayai. Sesuatu yang dibiayai dapat berupa produk atau departemen. Biaya ini dapat dikelompokkan menjadi dua
golongan:
1. Biaya Langsung (Direct cost)
Biaya langsung adalah biaya yang terjadi, yang penyebab satu-satunya adalah karena adanya sesuatu yang dibiayai. Jika sesuatu yang dibiayai tersebut tidak ada, maka biaya langsung ini tidak akan terjadi. Misalnya biaya tenaga kerja yang bekerja dalam departemen pemeliharaan merupakan biaya langsung bagi departemen pemeliharaan dan biaya depresiasi mesin yang dipakai dalam departemen tersebut, merupakan biaya langsung bagi departemen tersebut.
2. Biaya Tidak Langsung (Indirect cost)
Biaya tidak langsung adalah biaya yang terjadi tidak hanya disebabkan oleh sesuatu yang dibiayai. Biaya tidak langsung dalam hubungannya dengan produk disebut dengan istilah biaya produk tidak langsung
atau biaya overhead pabrik. Misalnya dalam departemen pembangkit tenaga listrik. Bagi departemen pemakai listrik, biaya yang diterima dari
alokasi biaya departemen pembangkit tenaga listrik merupakan biaya tidak langsung departemen.
Mulyadi (2001 : 14), penggolongan Biaya Menurut Perilakunya dalam hubungannya dengan perubahan volume kegiatan. Dalam hubungannya dengan perubahan volume kegiatan, biaya dapat digolongkan menjadi :
1. Biaya Variabel
Biaya variabel adalah biaya yang jumlah totalnya berubah sebanding dengan perubahan volume kegiatan. Misalnya biaya bahan baku dan biaya tenaga kerja langsung.
2. Biaya Semivariabel
Biaya semivariabel adalah biaya yang berubah tidak sebanding dengan perubahan volume kegiatan. Biaya semivariabel mengandung unsur biaya tetap dan unsur biaya variabel.
3. Biaya Semifixed
Biaya semifixed adalah biaya yang tetap untuk di tingkat volume kegiatan tertentu dan berubah dengan jumlah yang konstan pada volume produksi tertentu.
4. Biaya Tetap
Biaya tetap adalah biaya yang jumlah totalnya tetap dalam kisar volume kegiatan tertentu. Misalnya gaji direktur produksi.

Mulyadi (2001 :14), penggolongan Biaya Atas Dasar Jangka Waktu Manfaatnya. Atas dasar jangka waktu manfaatnya, biaya dapat dibagi menjadi
dua yaitu:
1. Pengeluaran modal (capital expenditures)
Pengeluaran modal adalah biaya yang mempunyai manfaat lebih dari satu poriode akuntansi (biasanya periode akuntansi adalah satu tahun kalender). Misalnya pengeluaran untuk pembelian aktiva tetap, untuk reparasi besar terhadap aktiva tetap, untuk promosi besar-besaran, dan pengeluaran untuk riset dan pengembangan suatu produk.
2. Pengeluaran Pendapatan (revenue expenditures)
Pengeluaran pendapatan adalah biaya yang hanya mempunyai manfaat dalam periode akuntansi terjadinya pengeluaran tersebut. Misalnya pengeluaran pendapatan antara lain adalah biaya iklan, biaya telex, dan biaya tenaga kerja.
Supriyono (1999 : 34), penggolongan biaya untuk tujuan pengendalian biaya. Untuk pengendalian biaya informasi biaya yang ditujukan kepada manajemen dikelompokkan ke dalam :
1. Biaya terkendali
Biaya terkendali adalah biaya yang secara langsung dapat mempengaruhi oleh seorang pimpinan tertentu dalam jangka waktu
tertentu. Apabila seorang memiliki wewenang dalam mendapatkan atau menggunakan barang dan jasa tertentu, maka biaya yang berhubungan dengan pemakaian barang dan jasa tersebut merupakan tanggung jawab dari orang tersebut.
2. Biaya tidak terkendali
Biaya tidak terkendali adalah biaya yang tidak dapat dipengaruhi
oleh seorang pimpinan atau pejabat tertentu berdasar wewenang yang dia miliki atau tidak dapat dipengaruhi oleh seorang pejabat dalam jangka waktu tertentu.
Supriyono (1999 : 36), penggolongan biaya sesuai dengan tujuan pengambilan keputusan. Untuk tujuan pengambilan keputusan oleh manajemen, biaya dikelompokkan di dalam :
1. Biaya relevan
Biaya relevan adalah biaya yang akan mempengaruhi pengambilan keputusan, oleh karena itu biaya tersebut harus diperhitungkan di dalam
pengambilan keputusan.
2. Biaya tidak relevan
Biaya ini tidak mempengaruhi pengambilan keputusan, tidak
perlu diperhitungkan atau dipertimbangkan dalam proses pengambilan keputusan. Beberapa contoh pengambilan keputusan misalnya: membeli
atau membuat bagian produk, menerima atau menolak pesanan khusus, mengganti atau tetap memakai mesin lama, penentuan harga jual dan sebagainya.
Menurut Philip Kotler dialihbahasakan (Bunyamin Molan, 2000 : 640), biaya promosi adalah sejumlah biaya yang dikeluarkan untuk promosi.
Menurut Hendri Simamora (2002 : 762), biaya promosi merupakan sejumlah dana yang dikucrukan perusahaan ke dalam promosi untuk meningkatkan penjualan.

D. Pengertian Pemasaran
Dalam Syahyunan (2004 : 56) bahwa dalam pelaksanaan pemasaran, strategi pemasaran yang disusun akan diuji dalam pelaksanaan untuk mengetahui tepat atau tidak yang diterapkan tersebut, hal ini akan tercermin dari tingkat penjualan, market share, yang dibiayai dan biaya yang dikorbankan. Untuk mendukung keberhasilan pelaksanaan strategi pemasaran yang disusun maka dibutuhkan kesiapan organisasi perusahaan dan pelaksanaannya.
Menurut Kotler (2000 : 4), pemasaran adalah suatu proses sosial yang di dalamnya individu dan kelompok mendapatkan apa yang mereka butuhkan dan inginkan dengan menciptakan, menawarkan,dan secara bebas mempertukarkan produk yang bernilai dengan pihak lain. Tujuan pemasaran adalah membuat agar penjualan berlebih-lebihan dan mengetahui serta memahami konsumen dengan baik sehingga produk atau pelayanan cocok dengan konsumen tersebut akan laku dengan sendirinya.
Menurut Swastha dan Handoko (2000 : 4), pemasaran adalah suatu sistem keseluruhan dari kegiatan-kegiatan usaha yang ditujukan untuk merencanakan, menentukan harga, mempromosikan, dan mendistribusikan barang dan jasa yang dapat memuaskan kebutuhan baik kepada pembeli yang ada maupun pembeli potensial.
Menurut Muda (2003 : 230), pemasaran adalah memindahkan barang dan jasa dari pemasok ke konsumen, termasuk di dalamnya perancangan dan pembuatan produk, pengembangan, pendistribusian iklan promosi dan publikasi serta analisa pasar untuk menentukan pasar yang sesui.
Dengan demikian pemasaran merupakan suatu interaksi yang berusaha menciptakan hubungan pertukaran. Pemasaran bukanlah merupakan suatu cara yang sederhana sekedar untuk menghasilkan penjualan saja. Dalam hal ini pertukaran hanyalah merupakan satu tahap dalam proses pemasaran. Proses pemasaran dimulai jauh sejak barang belum diproduksi, tidak dimulai pada saat produk selesai, juga tidak berakhir dengan penjualan. Semua keputusan yang diambil dibidang pemasaran harus ditujukan untuk menentukan produk dan pasarnya, harganya serta promosinya. Seperti halnya dengan usaha meubel ukir jepara. Pemasaran dilakukan dari sebelum produk jadi. Misalkan : dengan cara pengiklanan dan lain sebagainya.

E. Pengertian Promosi
Menurut Hidayat (1998 : 87), promosi adalah hasil penggabungan dari sarana-sarana promosi yang ada seperti periklanan, penjualan perorangan, promosi penjualan dan hubungan masyarakat. Hal ini didukung pendapat
dalam Syahyunan (2004:107), bahwa pembauran komunikasi pemasaran tentu akan lebih berhasil jika apa yang telah diprogramkan dikomunikasikan dengan tertara yang baik, mengkomunikasikan program perusahaan kepada masyarakat konsumen dapat dilakukan dengan empat variabel, yaitu :
1. Periklanan; Bentuk presentasi dan promosi non pibadi tentang ide, barang dan jasa yang dibayar oleh sponsor tertentu.
2. Personal Selling; presentasi lisan dalam suatu percakapan dengan satu calon pembeli atau lebih yang ditujukan untuk menciptakan penjualan.
3. Publisitas; Pendorong permintaan secara non pribadi untuk suatu produk, jasa atau ide dengan menggunakan berita komersial didalam media massa dan sponsor tidak dibebani sejumlah bayaran secara langsung.
4. Promosi penjualan; Kegiatan pemasaran selain personal selling,
periklanan, dan publisitas yang mendorong pembelian konsumen dan efektifitas pengecer.
Menurut Hidayat (1998:88), ada lima tahapan dalam mengembangkan komunikasi yang efektif yaitu :
1. Mengidentifikasi Audiens Sasaran; Supaya komunikasi efektif, artinya sesuai dengan rencana atau tujuan komunikasi maka komunikator harus mengidentifikasi siapa audiens/komunikasi sasarannya.
2. Menentukan Respon Yang Dikehendaki; Ada bebarapa tingkatan
respon audiens yang dihasilkan dari proses berkomunikasi dengan komunikator. Adapun tingkatan respon tersebut urutannya adalah: kesadaran, pengetahuan, kegemaran, prefensi, keyakinan dan yang terakhir adalah pembelian.
3. Memilih Pesan; Setelah memilih tingkatan tanggapan mana yang dikehendaki oleh komunikator, maka komunikator harus memilih dan mengembangkan pesan yang efektif. Secara ideal pesan harus menimbulkan perhatian, menimbulkan minat, menimbulkan hasrat/keinginan, dan memperoleh tindakan.
4. Memilih Media Komunikasi; Ada dua jenis saluran komunikasi, yaitu personal dan non-personal. Komunikasi personal/pribadi bisa dilakukan secara langsung melalui tatap muka, melalui alat komunikasi/telepon, atau melalui surat. Komunikasi personal umumnya sangat efektif karena ada suasana informal dan bisa memperoleh umpan balik secara langsung.
Saluran komunikasi non-personal yaitu saluran/sarana media komunikasi
yang menyampaikan pesan tanpa kontak serta tanpa umpan balik secara langsung.
Menurut Hidayat (1998:89), ada beberapa tahap-tahap dalam periklanan antara lain :
1. Menetapkan tujuan dan sasaran periklanan yaitu menentukan apa yang
ingin dicapai dan apa yang menjadikan target dari penyelenggaraan iklan tersebut.
2. Menetapkan anggaran dari periklanan yaitu kegiatan menentukan berapa biaya-biaya untuk proses periklanan tersebut dari mulai perencanaan atau perancangan sampai dengan pelaksanaan iklan.
3. Menetapkan pesan yang akan disampaikan yaitu kegiatan menentukan bahasa iklan yang ditujukan pada konsumen sasaran sesuai dengan jenis segmen pasar yang dibidik.
4. Menetapkan media yang harus digunakan, setelah menentukan pesan
yang akan disampaikan pada konsumen sasaran, langkah selanjutnya
memilih media mana yang sesuai dengan isi pesan dan target pasar yang ingin diraih.
5. Melakukan evaluasi terhadap hasil yang dicapai yaitu kegiatan menilai apakah iklan yang telah dilaksanakan tersebut sesuai dengan tujuan atau target yang telah direncanakan. Apa saja kekurangan yang perlu diperbaiki, dirombak atau disempurnakan, dan jika sudah baik bagaimana lebih meningkatkan lagi efisiensi dan efektifitas iklan tersebut.
F. Pengertian Tingkat Penjualan
Tingkat penjualan atau banyaknya produk yang diproduksi untuk
dijual tergantung dari seberapa besar harga pembelian bahan baku tersebut.
Hal ini dikarenakan laba yang diinginkan oleh perusahaan tidak maksimal,
sebab jika harga produk dinaikkan guna mengimbangi harga bahan baku yang semakin meningkat, maka permintaan pasar akan berkurang (Djarwanto
2004 : 13).
Kenaikan volume penjualan yang dinyatakan dalam rupiah bahwa belum tentu menunjukkan atau mencerminkan unit yang dijual semakin besar, mungkin kenaikan itu disebabkan naik harga jual barang tersebut yang mungkin juga diikuti kenaikan tingkat harga.
Pemasaran moderen menghendaki lebih dari pada pengembangan produk yang baik, menetapkan harga yang bersaing dan memungkinkan dijangkau pelanggan sasaran. Perusahaan juga harus memotivasi karyawan agar mampu berkomunikasi dengan pelanggan yang ada maupun yang potensial. Agar dapat mengambil keputusan secara efektif, perusahaan harus menggunakan karyawan yang mampu berkomunikasi langsung dengan pelanggan atau menggunakan biro iklan untuk menyampaikan pesan-pesan yang efektif kepada pelanggan, spesialisasi pomosi penjualan untuk mendesain program intensif penjualan dan hubungan perusahaan untuk mengembangkan citra perusahaan. Perusahaan harus melatih tenaga penjual agar memilki pengetahuan yang luas sehingga dapat memberikan peningkatan penjualan yang lebih maksimal Philip Kotler
( 1989 : 2 ).
Pada dasarnya tingkat penjulan tujuannya adalah untuk meningkatkan pendapatan yang pada akhirnya dapat meningkatkan laba.
Pendapatan adalah aliran penerimaan kas atau harta lain yang diterima
dari konsumen sebagai hasil penjualan barang atau pemberian jasa
(Yusuf , 2001 : 24).
Pendapatan didefinisikan sebagai ukuran output perusahaan yang dihasilkan dari produksi atau pengiriman barang dan pemberian jasa selama satu periode (Wibowo dan Sinaga, 1997 : 160).
Pendapatan meliputi semua sumber-sumber ekonomi yang diterima oleh perusahaan dari transaksi penjualan barang dan penyerahan jasa kepada pihak
lain (Munawir, 2002 : 52).
Ada dua interprestasi utama yang muncul dari konsep pendapatan
ini: (1) Potongan tunai (cash discounts) dan setiap pengurangan dalam harga yang tetap, seperti kerugian piutang yang tak tertagi, merupakan penyesuaian
yang diperlukan untuk menghitung ekivalen kas netto yang sebenarnya atau nilai diskonto tunai dari klaim uang, sehingga harus dikurangkan ketika
menghitung pendapatan (interprestasi ini bertentangan dengan pandangan
bahwa potongan tunai dan kerugian piutang tak tertagih harus dianggap
sebagai biaya ), (2) untuk transaksi bukan kas, nilai pertukaran
(exchange value) ditetapkan sama dengan nilai pasar yang wajar dari penggantian yang diberikan atau diterima, mana yang lebih mudah dan lebih jelas untuk dihitung.
Sudah umum diterima bahwa pendapatan dan laba melalui segenap tahapan siklus operasi (yaitu selama penerimaan pesanan, produksi, penjualan, dan penagihan). Karena adanya kesulitan mengalokasi pendapatan dan laba pada berbagai tahapan siklus operasi, para akuntan menggunakan prinsip realisasi untuk memilih suatu “peristiwa yang kritis” dalam siklus tersebut untuk penentuan waktu pendapatan dan pengakuan laba.
Dasar peristiwa kritis untuk pengakuan pendapatan dicetuskan oleh suatu peristiwa kritis didalam siklus operasi. Peristiwa itu bisa berupa : (1) dasar penjualan : untuk pengakuan pendapatan dipilih karena, (a) harga produk kemudian diketahui dengan pasti, (b) pertukaran telah diakhiri dengan
pengiriman barang, menjurus kepada pengetahuan obyektif atas biaya yang dikeluarkan dan (c) dalam bentuk realisasi, suatu penjulan merupakan peristiwa yang kritis, (2) dasar penyelesaian produksi : untuk pengakuan pendapatan
dipilih apabila terdapat pasar yang stabil dan harga yang stabil untuk suatu komoditi baku. Dengan demikian proses produksilah, bukan penjualan, yang merupakan peristiwa kritis untuk pengakuan pendapatan, (3) dasar
pembayaran: untuk pengakuan pendapatan dipilih apabila penjulan dilakukan dan bila penilaian yang cukup akurat tidak dapat dilakukan terhadap barang yang akan ditransfer.
Secara umum, pendapatan dari penjulan barang diakui pada periode dimana barang diserahkan kepada pelanggan. Pendapatan dari pelaksanaan jasa diakui pada periode dimana jasa tersebut dilaksanakan. Untuk beberapa kejadian, kas diterima pada saat pelaksanaan jasa, dan hal itu merupakan bukti yang paling baik bahwa pendapatan telah diperoleh, hal seperti itu dapat terjadi pada perusahaan eceran, swalayan, dan perusahaan jasa. Namun kemungkinan terjadi bahwa kas diterima lebih awal atau diwaktu kemudian atau pendapatan yang masih harus diterima (Munawir, 2002 : 53).

G. Kerangka Pikir
Untuk dapat bertahan dalam dunia bisnis yang kondisi persaingan
terus meningkat, maka suatu perusahaan harus dituntut dapat menguasai pasar dengan menggunakan produk yang dihasilkan. Dengan kemampuan
menguasai pasar yang ada, dapat memungkinkan suatu perusahaan memperoleh dana untuk membiayai kegiatan operasinya, pengembangan dan faktor
lainnya.
Salah satu teknik dalam pemasaran adalah promosi. Promosi merupakan bagian dari sistem pemasaran yang bertujuan untuk memperkenalkan produk yang dihasilkan sehingga mencapai tujuan yang diinginkan.
Dalam tahap promosi tentu mengeluarkan biaya-biaya sesuai
dengan yang dibutuhkan, sehingga dengan adanya biaya promosi ini,
apakah tingkat penjualan nantinya akan terpengaruh.






Gambar 1. Kerangka pikir
H. Hopotesis
Melihat kerangka pikir di atas dan untuk memberikan jawaban sementara dari penelitian ini maka dirumuskanlah hipotesis sebagai berikut : Diduga bahwa biaya promosi yang dikeluarkan oleh Depot Air Minum Isi Ulang Airta Manokwari akan membawa pengaruh terhadap tingkat penjualan usaha pada tahun 2007 s/d 2009.

















BAB III
METODE PENELITIAN

A. Tempat dan Waktu Penelitian
Tempat penelitin pada penulisan karya ilmiah ini adalah di tempat Usaha Depot Air Minum Isi Ulang Airta Manokwari Kabupaten Manokwari dan waktu penelitian yaitu 1 (satu) bulan, yang dimulai dari tanggal 1 Desember sampai dengan tanggal 31 Desember 2009.

B. Jenis dan Sunber Data
1. Jenis Data
a. Data Kualitatif
Data kualitatif adalah data yang diperoleh dari responden berupa keterangan-keterangan dalam bentuk kalimat yang berhubungan dengan masalah yang diteliti.
b. Data Kuantitatif
Data kuantitatif adalah data yang diperoleh dari responden berupa keterangan dan penjelasan dalam bentuk angka-angka guna melengkapi dari data kualitatif yang berhubungan dengan masalah yang diteliti.
2. Sumber Data
a. Data Primer
Data primer adalah yang diperoleh langsung dari objek penelitian dengan menggunakan teknik wawancara dan quisioner.
b. Data Sekunder
Data sekunder adalah data yang diperoleh secara tidak langsung di lokasi penelitian. Data ini didapat dari berupa buku-buku, makalah dan dokumen-dokumen serta referensi lain yang berhubungan dengan masalah yang diteliti.

D. Teknik Pengumpulan Data
Teknik pengumpulan data dari penelitian ini adalah sebagai berikut :
1. Wawancara
Wawancara adalah dengan cara memberikan pertanyaan
secara langsung kepada responden di tempat penelitian atau objek penelitian untuk mendapatkan data-data yang berkaitan dengan masalah yang akan diteliti.
2. Quisioner
Quisioner adalah dengan cara membagikan lembaran-lembaran yang memuat berupa tulisan atau pertanyaan-pertanyaan kepada responden guna memperoleh data-data yang dibutuhkan yang berhubungan dengan masalah yang akan diteliti.

E. Teknik Analisis Data
Teknik analisa yang digunakan dalam penelitian ini adalah dengan menggunakan teknik analisis deskriptif kuantitatif yang didukung oleh rumus regresi linear sederhana.
Rumus matematis regresi linear sederhana adalah sebagai berikut (Algifari, 1997 : 16) :




Dimana :
x = Pengerjaan pesanan jas
y = Pendapatan
a = Konstanta, yaitu nilai y bila x = 0
b = Koefisien kecenderungan garis regresi

F. Definisi Operasional
a. Usaha adalah merupakan suatu upaya yang menggerakkan tenaga, pikiran, dan materi untuk mencapai suatu tujuan.
b. Produksi adalah hasil dari sebuah usaha baik secara fisik maupun jasa.
c. Biaya adalah keseluruhan materi yang dikeluarkan untuk membiayai suatu kegiatan.
d. Pemasaran adalah suatu sistem yang dilakukan dalam penjualan suatu produk dengan maksud untuk mencapai tujuan.
e. Promosi adalah suatu teknik dalam pemasaran dengan tujuan untuk menguasai pasar.
f. Biaya promosi adalah keseluruhan biaya yang dikeluarkan dalam proses promosi.
g. Pendapatan adalah keseluruhan hasil yang diperoleh dari suatu usaha.
BAB IV

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN


A. Gambaran Umum Objek Penelitian
Usaha Depot Air Minum Isi Ulang Airta Manokwari yang berada di Jalan Drs. Esau Sesa Wosi Kabupaten Manokwari Provinsi Papua Barat, merupakan usaha yang bergerak dibidang usaha penjualan isi ulang air minum galon. Usaha ini mulai di operasikan pada tahun 2007 sesuai dengan surat izin tempat usaha dari Bupati Manokwari dengan nomor : 502.1/III-AM/III/2006.
Usaha Depot Air Minum Isi Ulang Airta Manokwari dalam aktivitasnya sehari-hari sebagai penyedia isi ulang air galon, maka yang berkaitan dengan aktivitas tersebut adalah:
1. Pemilik usaha
Pemilik usaha adalah orang yang bertanggung jawab atas segala yang terjadi dalam operasional usaha yang bersangkutan, yaitu sebanyak 1 (satu) orang atas nama Muhiddin S.
2. Tenaga kerja
Tenaga kerja adalah orang yang diberi upah oleh pemilik usaha atas dasar mengerjakan suatu tugas yang berkaitan dengan opersaional usaha. Tanaga kerja yang bekerja di tempat usaha tersebut adalah sebanyak 7 orang karyawan.
3. Bahan baku
Bahan baku yang digunakan adalah berupa air yang diperoleh dari PDAM Daerah Manokwari.
4. Alat produksi dan alat pendukung lainnya
Alat produksi dan alat pendukung adalah alat yang digunakan untuk menunjang operasional usaha tersebut. Alat-alat yang digunakan dalam dalam menunjang operasional usaha tersebut dapat di lihat pada tabel 1.

Tabel 1.
Alat Produksi Dan Alat Pendukung Lainnya

No. Nama Alat Jumlah
1. Dinamo Air/ Pompa air 1 buah
2. Tandong / penyimpanan bahan baku 1 buah
3. Galon 100 buah
4. Tabung Air / mesin air 1 buah
5. Pilter Air / penyaring kotoran 1 buah
6. Ultra Violet (UP) / Pembunuh kuman 1 buah
7. Azon / pengawet air 1 buah
8. Kendaraan roda 4 3 buah
Sumber : Hasil Penelitian, Data Diolah

5. Teknik penjualan
Teknik penjualan atau promosi adalah suatu cara yang digunakan untuk menarik para konsumen. Salah satu teknik penjualan yang digunakan yaitu mengantarkan produk kepada konsumen dengan menggunakan kendaraan roda 4 (empat) yang berjumlah 3 buah.
Hubungannya dengan teknik penjualan, maka dapat di ketahui biaya promosi dan tingkat penjualan 3 tahun terakhir yang dihitung dalam semester, yaitu dapat dilihat pada sub bab bagian B.
B. Daftar Biaya Promosi dan Tingkat Penjualan Pada Usaha Depot Air Minum Isi Ulang Airta Manokwari Dari tahun 2007-2009

Dalam penentuan rumus regresi linear sederhana pada sub bab pembahasan, maka perlu diuraikan atau gambaran tentang biaya promosi dan tingkat
penjualan pada Usaha Depot Air Minum Isi Ulang Airta Manokwari Dari tahun 2007-2009.

Tabel 2.
Daftar Biaya Promosi dan Tingkat Penjualan Pada Tahun 2007

Bulan Biaya Promosi Tingkat Penjualan
Januari 400.000 1.200
Februari 200.000 1.400
Maret 200.000 1.000
April 200.000 1.200
Mei 200.000 1.400
Juni 300.000 1.600
Juli 300.000 1.500
Agustus 200.000 1.500
September 250.000 1.200
Oktober 250.000 1.400
Nopember 300.000 1.400
Desember 200.000 1.400
Total 3.000.000 16.200
Sumber : Hasil penelitian, data diolah

Berdasarkan tabel 2. terlihat bahwa biaya promosi yang paling tinggi sebesar Rp. 400.000,- dan biaya promosi yang terendah sebesasr Rp. 200.000,-. Sedangkan tingkat penjualan yang tertinggi sebanyak 1.500 dan tingkat penjualan terendah sebanyak 1.000.
Tabel 3.
Daftar Biaya Promosi dan Tingkat Penjualan Pada Tahun 2008

Bulan Biaya Promosi Tingkat Penjualan
Januari 300.000 1.200
Februari 300.000 1.400
Maret 300.000 1.200
April 300.000 1.300
Mei 300.000 1.400
Juni 300.000 1.600
Juli 300.000 1.800
Agustus 200.000 1.800
September 250.000 1.500
Oktober 300.000 1.600
Nopember 300.000 1.500
Desember 300.000 1.400
Total 3.450.000 17.700
Sumber : Hasil penelitian, data diolah
Berdasarkan tabel 3. terlihat bahwa biaya promosi yang paling tinggi sebesar Rp. 300.000,- dan biaya promosi yang terendah sebesasr Rp. 200.000,-. Sedangkan tingkat penjualan yang tertinggi sebanyak 1.700 dan tingkat penjualan terendah sebanyak 1.200.

Tabel 4.
Daftar Biaya Promosi dan Tingkat Penjualan Pada Tahun 2009

Bulan Biaya Promosi Tingkat Penjualan
Januari 200.000 1.600
Februari 300.000 1.400
Maret 200.000 1.400
April 300.000 1.400
Mei 200.000 1.600
Juni 300.000 1.600
Juli 200.000 1.300
Agustus 200.000 1.600
September 300.000 1.600
Oktober 300.000 1.800
Nopember 400.000 1.800
Desember 400.000 1.800
Total 3.300.000 18.900
Sumber : Hasil penelitian, data diolah
Berdasarkan tabel 4. terlihat bahwa biaya promosi yang paling tinggi sebesar Rp. 400.000,- dan biaya promosi yang terendah sebesasr Rp. 200.000,-. Sedangkan tingkat penjualan yang tertinggi sebanyak 1.800 dan tingkat penjualan terendah sebanyak 1.300.

Tabel 5.
Rata-rata Biaya Promosi dalam perhitungan semester Tahun 2007-2009.

Jumlah Bulan Biaya Promosi
I II III IV V VI
1 400.000 300.000 300.000 300.000 200.000 200.000
2 200.000 200.000 300.000 200.000 300.000 200.000
3 200.000 250.000 300.000 250.000 200.000 300.000
4 200.000 250.000 300.000 300.000 300.000 300.000
5 200.000 300.000 300.000 300.000 200.000 400.000
6 300.000 200.000 300.000 300.000 300.000 400.000
∑ 1.500.000 1.500.000 1.800.000 1.650.000 1.500.000 1.800.000

R2 250.000 250.000 300.000 275.000 250.000 300.000
Sumber : Hasil penelitian, data diolah
Dari tabel 5. terlihat bahwa rata-rata biaya promosi yang paling tinggi sebesar Rp. 300.000,- dan yang terendah sebesar Rp. 250.000,-.

Tabel 6.
Rata-rata Tingkat Penjualan dalam perhitungan semester Tahun 2007-2009.
Jumlah Bulan Tingkat Penjualan
I II III IV V VI
1 1.200 1.500 1.200 1.800 1.600 1.300
2 1.400 1.500 1.400 1.800 1.400 1.600
3 1.000 1.200 1.200 1.500 1.400 1.600
4 1.200 1.400 1.300 1.800 1.400 1.800
5 1.400 1.400 1.400 1.800 1.600 1.800
6 1.600 1.400 1.600 1.500 1.600 1.800
∑ 7.800 8.400 8.100 10.200 9.000 9.900
R2 1.300 1.400 1.350 1.700 1.500 1.650
Sumber : Hasil penelitian, data diolah
Dari tabel 6. terlihat bahwa rata-rata tingkat penjualan yang paling tinggi sebanyak 1.700,- dan yang terendah sebanyak 1.300.

C. Analisis Data
Pada sub bab ini akan diuraikan teknik analisis regresi linear sederhana, sebagai jawaban permasalahan yaitu seberapa besar pengaruh biaya promosi terhadap tingkat penjualan pada Usaha Depot Air Minum Isi Ulang Airta Manokwari pada tahun 2007 s/d 2009.
Dalam perhitungan ini, penulis menganalisis data dari tahun 2007 s/d 2009, yang kemudian dirinci dalam rumus regresi linear sederhana dengan membagi dalam semester yang berjumlah 6 (enam) semester.
Data-data yang akan dianalisis dalam rumus regresi tersebut, yaitu data biaya promosi sebagai variabel x atau varibel bebas dan data tingkat penjualan sebagai varibel y atau variabel terikat.
Rumus matematis regresi linear sederhana adalah sebagai berikut :





Dimana :
X = Biaya Promosi
Y = Tingkat Penjualan
a = Konstanta, yaitu nilai y bila x = 0
b = Koefisien kecenderungan garis regresi

Tabel 7.
Penentuan variabel x dan variabel y

Semester
(n) Biaya Promosi
(x) Tingkat Penjualan
(y)
I 250.000 1.300
II 250.000 1.400
III 300.000 1.350
IV 275.000 1.700
V 250.000 1.500
VI 300.000 1.650
∑ 1.625.000 8.900
Sumber : Hasil Penelitian, Data Diolah

Tabel 8.
Pengolahan data pada tabel 7 (dalam ribuan)

n x y x2 y2 xy
1 250 1300 62.500 1.690.000 325.000
2 250 1400 62.500 1.960.000 350.000
3 300 1350 90.000 1.822.500 405.000
4 275 1700 75.625 2.890.000 467.500
5 250 1500 62.500 2.250.000 375.000
6 300 1650 90.000 2.722.500 495.000
 1.625 8.900 443.125 13.335.000 2.417.500
Sumber : Hasil Penelitian, Data Diolah
Dengan memasukkan nilai-nilai yang terdapat pada tabel 7. ke dalam formula untuk menentukan nilai a dan b, maka diperoleh nilai a dan b sebagai berikut:





= 6 (2.417.500) - (1.625) (8.900)
6 (443.125) - (1.625)2

= (14.505.000) - (14.462.500)
(2.658.750) - (2.640.625)

= 42.500
18.125

= 2





= 8.900 – (2) (1.625)
6

= 8.900 - 3.250
6

= 5.650
6

= 942

Dari uraian di atas sehingga dapat diperoleh persamaan regresi sebagai berikut:
Y = a + bx
Y = 942 + (2) ( X )

Jika taksiran biaya promosi (X) dipakai yang terbesar yaitu sebesar Rp. 300, maka estimasi Y dapat ditentukan sebagai berikut :
Y = 912 + (2) ( 300 )
Y = 1.512
Dan jika taksiran biaya promosi (X) diperbesar menjadi Rp. 400,-, maka estimasi Y dapat ditentukan sebagai berikut :
Y = 912 + (2) ( 400)
Y = 1.712
Jadi nilai estimasi tingkat penjualan yang dapat diperoleh jika biaya promosi dinaikkan menjadi Rp. 400,- sebanyak 1.512 dan jika biaya promosi dinaikkan menjadi Rp. 500,- maka tingkat penjualan akan naik menjadi 1.712. Kondisi demikian menandakan bahwa semakin besar biaya promosi, maka tingkat penjualan akan bertambah. Artinya bahwa semakin besar biaya promosi, maka akan meningkatkan penjualan yang pada akhirnya dapat menambah pendapatan usaha.
Untuk menentukan berapa persen hubungan antara biaya promosi terhadap tingkat penjualan maka dapat dirumuskan dengan menggunakan formula koefisien korelasi sebagai berikut:




Tabel 9.
Tabel untuk menghitung Koefisien Korelasi

n x y y2 x2 xy
1 250.000 1300 1.690.000 62.500.000.000 325.000.000
2 250.000 1400 1.960.000 62.500.000.000 350.000.000
3 300.000 1350 1.822.500 90.000.000.000 405.000.000
4 275.000 1700 2.890.000 75.625.000.000 467.500.000
5 250.000 1500 2.250.000 62.500.000.000 375.000.000
6 300.000 1650 2.722.500 90.000.000.000 495.000.000
 1.625.000 8.900 13.335.000 443.125.000.000 2.417.500.000
Sumber : Hasil Penelitian, Data Diolah
Memasukkan nilai-nilai pada tabel di atas ke dalam formula yang digunakan untuk menentukan koefisien korelasi (r), yaitu :




r = 6 (2.417.500) - (1.625.000) (8.900)
6 (443.125.000.000)-(1.625.000)2 6 (13.335.000) - (8.900)2

r = 14.505.000.000 – 14.462.500.000
2.658.750.000.000 – 2.640.625.000.000 80.010.000 - 79.210.000

r = 42.500.000
18.125.000.000 800.000

r = 42.500.000
14.500.000.000.000.000

r = 42.500.000
120.415.946

r = 0,35

Menurut persamaan di atas, bahwa hubungan antara variabel (X) dengan variabel (Y) adalah 0,35 atau 35 %, persamaan ini menunjukkan bahwa nilai koefisien korelasi adalah positif, nilai ini menunjukkan adanya hubungan searah antara variabel (X) dengan variabel (Y), yaitu semakin besar nilai variabel X maka nila variabel Y semakin besar. Untuk mengetahui keeratan antara variabel (X) dengan variabel (Y) maka dapat dirumuskan ke dalam formula Koefisien Determinasi sebagai berikut:
r2 = (r) 2
= (0,35)2
= 0,12 x 100
= 12 %
Dari formula di atas menunjukkan bahwa peranan dari variabel (X) terhadap variabel (Y) sebesar 12 %, jadi faktor lain memiliki peranan sebesar 88 %.
BAB V
PENUTUP

A. Simpulan
Dari uraian pada bab pembahasan maka dapat ditarik simpulan, bahwa hasil persamaan regresi linear sederhana yaitu Y = 942 + (2) ( X ), dalam analisis tersebut menunjukkan bahwa semakin besar biaya promosi maka semakin meningkatkan tingkat penjualan, dan selanjutnya persamaan tersebut diukur dalam koefisien korelasi adalah sebesar 0,35 atau 35 %, persamaan ini nilainya positif, hal ini menunjukkan bahwa hubungan biaya promosi searah dengan tingkat penjualan, artinya semakin besar nilai variabel (X) maka semakin besar nilai variabel (Y), serta formula koefisien determinasi menunjukkan bahwa peranan biaya promosi terhadap tingkat pendapatan sebesar 12 %, dan faktor lain memiliki peranan sebesar 88 %, sehingga dapat dikatakan bahwa biaya promosi berpengaruh terhadap tingkat penjualan, sehingga hipotesis dalam penelitian ini dapat diterima.

B. Saran
1. Dari kesimpulan di atas maka disarankan kepada pemilik Usaha Depot Air Minum Isi Ulang Airta Manokwari untuk memperhatikan biaya promosi, agar tingkat pendapatan dapat dimaksimalkan, sehingga pendapatan yang diperoleh sesuai dengan tujuan usaha yang bersangkutan.
2. Bagi peneliti selanjutnya dapat memeliti faktor lain yang dapat berpengaruh terhadap volume penjualan.


DAFTAR PUSTAKA



Algifari. 1997. Analisis Statistik untuk Bisnis, Edisi 1, BPFE-Yogyakarta, Yogyakarta.

Alwi Hasan, 2001. Kamus Besar Bahasa Indonesia. Edisi Ketiga. Gadjah Mada University Press. Yogyakarta.

Assauri, Sofjan. 1996. Manajemen Produksi, Lembaga Penerbit Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia, Jakarta.

Battie B.R dan Taylor C.R, 1996. Ekonomi Produksi. Gadjah Mada University Press. Yogyakarta.

Dharmmesta, Basu Swastha dan T. Hani Handoko. 2000. Manajemen Pemasaran. Cetakan Ketiga Edisi Pertama. BPFE IKPI. Jakarta.

Ernawaty, F. Seatle, 2003. Analisis Pendapatan Industri Tahu di Kabuapten Nabire. Fakultas Pertanian Universitas Negeri Papua Manokwari (tidak diterbitkan).

Hendri Simamora 2002, Akuntansi Manajemen, Jakarta, Samlemba Empat.

Hidayat, Cecep. 1998. Manajemen Pemasaran, Badan Penerbit IPWI. Jakarta.

Kotler philip 2000. Manajemen pemasaran. Jakarta. Erlangga.

Krismiaji. 2002. Dasar-dasar Akuntansi Manajemen. AMP YKPN. Yogyakarta.

Muda’ Ahmad Antoni K. 2003. Kamus Lengkap Ekonomi. Gita Media Press.

Mulyadi. 2001. Akuntansi Biaya Edisi Lima. Edisi 5. Aditya Media. Yogyakarta.

Munawir. 2002. Analisis Laporan Keuangan. Edisi Keempat. Uberty. Jogyakarta.

Reksohadiprojo, S. 2003. Manajemen Produksi dan Operasi.BPFE-Yogyakarta. Yogyakarta.

Simamora, R. 2002. Akuntansi Manajemen. Edisi 2. UPP AMP YKPN. Jakarta.

Subagyo, 2000. Manajemen Operasi, Edisi 1, BEFE-Yogyakarta, Yogyakarta.

Sutarso, Yudi. 2007. Teori Produksi, www.Yudisutarso.com.
Swastha, Dharmmesta Basu dan Hani Handoko. 2000. Manajemen Pemasaran, Cetakan ketiga Edisi Pertama. BPFE IKPI. Jakarta.

Supriyono, R.A.S.U. 1999. Akuntansi Biaya. Edisi 2. BPFE-Yogyakarta. Yogyakarta.

Syahyunan. 2004. Strategi Pemasaran dalam Meningkatkan Volume Penjualan. Universitas Sumatra Utara.

Teken I B dan Asnawi, S. 1977. Teori Ekonomi Mikro. Departemen Sosial Ekonomi Pertanian. IPB. Bogor.

Tuanakotta, S. 2005. Analisis Selisih Biaya Produksi Standar Dengan Biaya Produksi Sesungguhnya. Skripsi Program Paska Sarjana. STIE BANK. Yogyakarta.

Vincent G, 2001. Ekonomi Manajemen Pembuat Keputusan Bisnis. PT. Gramedia Pustaka Utama. Jakarta.

Wibowo, H dan Sinaga, M. 1997. Teori Akuntansi. Jilid 1. Edisi 2. Erlangga. Jakarta.

Yusup, AL.H.M.B.A. 2001. Dasar-dasar Akuntansi. Jilid 1. Edisi 6. STIE-YKPN. Yogyakarta.

1 comment:

  1. kita juga punya nih artikel mengenai 'Biaya Promosi', silahkan dikunjungi dan dibaca , berikut linknya
    http://repository.gunadarma.ac.id/bitstream/123456789/6978/1/JURNAL%20SKRIPSI%20.pdf
    trimakasih
    semoga bermanfaat

    ReplyDelete