SALAM SUKSES

Tuesday, 5 October 2010

SKRIPSI ANGKA KEJADIAN YANG MEMPENGARUHI TERJADINYA RETENSIO PLASENTA DI RSUD MANOKWARI PERIODE JANUARI 2008 – DESEMBER 2008

BAB I
PENDAHULUAN


A. LATAR BELAKANG
Masalah Maternal di Indonesia, dewasa ini adalah masih tingginya angka kematian ibu (AKI). Periode kehamilan merupakan periode yang sangat penting dan mempunyai pengaruh yang besar untuk kelangsungan hidup itu maupun baginya. Kondisi dari seorang ibu menjadi ukuran untuk menilai keadaan dan masalah kesehatan pada antenatal, intranatal dan posnatal.
Masalah kematian ibu berdasarkan data Badan Koordinasi Keluarga Berencana Nasional (BKKBN, 2004), angka kematian ibu di Indonesia adalah 307 per 100.000 kelahiran hidup. Suatu negara dikatakan maju bukan hanya dilihat dari pembangunan fisiknya saja melainkan dari tirunnya angka kematian ibu. Di Papua menurut Badan Pusat Statistik tahun 2006 berkisar 396 per 100.000 kelahiran hidup, bila dibandingkan dengan angka kematian ibu (AKI) secara Nasional, yang jumlahnya sebesar 307 per 100.000 kelahiran hidup, ini menunjukkan bahwa kematian ibu di Papua masih tinggi.
Banyak faktor yang menyebabkan tingginya angka kematian ibu seperti halnya yang terdapat di negara berkembang seperti di Indonesia. Ada 3 faktor penyebab utama kematian ibu yaitu : 1. Penyebab langsung, 2. Penyebab antara, 3. Penyebab tidak langsung. Penyebab langsung kematian ibu disebabkan oleh perdarahan (30 – 35 %), infeksi (20 – 25 %), keracunan kehamilan/ preklamsia dan eklamsia (10 – 15 %). Penyebab antara kematian ibu seperti : Profil wanita (4T hamil terlalu muda, hamil terlalu tua, jarak hamil terlalu pendek, atau jumlah anak terlalu banyak). Persalinan dukun (70 – 75 %), cukupan internal yan rendah, faktor keterlambatan (3T keterlambatan untuk memutuskan rujukan, terlambat melakukan rujukan atau terlambat melakukan pertolongan). Dan penyebab tidak langsung kematian ibu yaitu faktor status wanita, faktor masyarakat, faktor keterlambatan. Dengan demikian dapat diperkirakan penyebab utama kematian ibu adalah perdarahan, infeksi dan keracunan kehamilan.
Perdarahan merupakan penyebab kematian no 1 kematian ibu melahirkan di Indonesia. Insiden perdarahan pasca persalinan akibat retensio plasenta dilaporkan berkisar 16 sampai 17 % di rumah sakit umum Haji damanhari barabay selama 3 tahun 1997 – 1999 didapatkan 146 kasus rujukan perdarahan pasca persalinan akibat retensio plasenta. Di sejumlah kasus tersebut berakhir dengan kematian ibu. Memperhatikan kenyataan tersebut dapat dikemukakan bahwa perjalanan angka kematian ibu cukup panjang, yang berarti peluang untuk melakukan referensi yang lebih mantap, dengan melakukan perawatan antenatal secara intensif.
Retensio plasenta merupakan plasenta yang belum lahir dalam setengah jam setelah janin lahir, sedangkan sisa plasenta merupakan tertinggalnya bagian plasenta dalam rahim yang dapat menimbulkan perdarahan postpartum. Untuk itu dibutuhkan tindakan untuk menyempurnakan persalinan kala III atau manajemen aktif kala III guna mengurangi kejadian retensio plasenta dan perdarahan. Berdasarkan rekam medik data register RSUD di bagian ruang bersalin dari bulan Juli 2007 sampau dengan Desember 2007 jumlah ibu dengan retensio plasenta di ruang bersalin berkisar 16 (1,82 % dari 879 jumlah Ibu bersalin) di RSUD Manokwari. Bertolak dari permasalahan di atas, maka penulis mengangkat judul penelitian ini “Angka kejadian yang mempengaruhi terjadinya retensio plasenta di RSUD Manokwari pada ruang bersalin”.

B. RUMUSAN MASALAH
Berdasarkan pada latar belakang yang telah dipaparkan, maka penulis dapat merumuskan masalah sebagai berikut :
1. Berapa kejadian retensio plasenta pada ibu bersalin di rumah sakit umum daerah Manokwari pada ruang bersalin periode bulan Januari 2008 sampai Desember 2008.
2. Berapa jumlah kejadian retensio plasenta pada ibu bersalin berdasarkan paritas di RSUD Manokwari pada ruang bersalin periode bulan Januari 2008 sampai Desember 2008.
3. Berapa jumlah kejadian retensio plasenta pada ibu bersalin berdasarkan kesalahan penatalaksanaan kala III.

C. TUJUAN PENELITIAN
1. Tujuan Umum
Untuk mengetahui angka kejadian retensio plasenta pada ibu bersalin periode satu tahun dari bulan Januari 2008 sampai dengan Desember
2008.

2. Tujuan Khusus
a. Untuk mengetahui jumlah kejadian retensio plasenta pada ibu bersalin di RSUD Manokwari ruang bersalin periode satu tahun dari bulan Januari 2008 sampai dengan Desember 2008.
b. Untuk mengetahui jumlah kejadian retensio plasenta pada ibu bersalin berdasarkan paritas di RSUD Manokwari ruang bersalin periode satu tahun dari bulan Januari 2008 sampai dengan Desember 2008.
c. Untuk mengetahui jumlah kejadian retensio plasenta pada ibu bersalin berdasarkan kesalahan penatalaksanaan kala III di RSUD Manokwari ruang bersalin periode satu tahun dari bulan Januari 2008 sampai dengan Desember 2008.

D. MANFAAT PENELITIAN
Penelitian ini dilaksanakan dengan harapan dapat memberikan manfaat kepada beberapa pihak yaitu :
1. Bagi peneliti/ penulis
Dengan dilakukannya penelitian ini diharapkan dapat menambah pengetahuan dan pengalaman bagi penulis dalam melakukan sebuah penelitian serta dapat menerapkan ilmu pengetahuan.
2. Bagi institusi/ pendidikan
Diharapkan hasil penelitian ini menjadi bahan bacaan bagi mahasiswa sebagai bahan acuan untuk membuat proposal penelitian selanjutnya dan sebagai tolak ukur keberhasilan program pendidikan keperawatan pada program study D-III Keperawatan Manokwari.
3. Bagi institusi kesehatan
Menjadi suatu masukan untuk meningkatkan sistem medikal record serta pelayanan kesehatan dan pertimbangan pengelolaan kasus-kasus yang terjadi di ruang bersalin RSUD Manokwari.























BAB II
TINJAUAN KEPUSTAKAAN


A. LANDASAN TEORI
1. Definisi
Retensio plasenta (Placental Retention) merupakan plasenta belum lahir dalam setengah jam setelah janin lahir. Sedangkan sisa plasenta (Restplacenta) merupakan tertinggalnya bagian plasenta dalam rongga rahim yang dapat menimbulkan perdarahan paspartum dini (Ercy Paspartum Homerhoge) atau perdarahan pastpartum lambat (Late paspartum Homerhoge) yang biasanya terjadi dalam 6 – 10 hari pasca persalinan (Alhamsyah, 2007).
Retensio placenta adalah terlambatnya atau belum lahirnya placenta hingga atau melebihi waktu 30 menit setelah bayi lahir (Sarwono, 2007).
Retensio placenta adalah terlambatnya kelahiran plasenta selama setengah jam setelah persalinan bayi pada beberapa kasus dapat terjadi retensio plasenta berulang (Habitual retensio placenta) plasenta harus dikeluarkan karena dapat menimbulkan hanya perdarahan, dapat terjadi polip plasenta dan terjadi degenerasi ganas kario karsinoma (Manuaba, 1998).
Retensio plasenta adalah dimana plasenta belum lahir dalam waktu 1 jam setelah bayi lahir (Rustam, 1998).
Retensio placenta merupakan salah satu penyebab perdarahan kala III yang berakibat kematian ibu, jika tidak ditangani dengan baik,
dengan tertahannya palcenta di dalam kavum uteri, maka
uterus tidak dapat berkontraksi secara maksimal, yang pada
akhirnya keadaan ini meyebabkan terjadinya perdarahan (Bailere
Tindal, 1997).

2. Etiologi
1. Kelainan dari uterus sendiri, yaitu anomali dari uterus atau
serviks; kelemahan dan tidak efektifnya kontraksi uterus;
kontraksi yang teknik dari uterus; serta pembentukan constriction
ring.
2. Kelainan dari plasenta, misalnya plasenta letak tendah atau
plasenta previa; implantasi di cornu; dan adanya plasenta
ankreta.
3. Keseluruhan manajemen kala tiga persalinan, seperti manipulasi dari uterus yang tidak perlu sebelum terjadinya pelepasan dari
plasenta menyebabkan kontraksi yang tidak ritnik; pemberian uterotonik yang tidak tepat waktunya yang juga dapat
menyebabkan serviks kontraksi dan menahan plasenta;
serta pemberian anastesi terutama yang melemahkan kontraksi
uterus.



Faktor pendukung :
a. Grandmultipara dengan implantasi plasenta dalam bentuk
plasenta adhesiva plasenta akreta, plasenta inkreta dan plasenta perkreta.
b. Menunggu kontraksi otot rahim dan menimbulkan perdarahan.
c. Retensio plasenta tanpa perdarahan dapat diperkirakan :
 Darah penderita terlalu banyak hilang
 Keseimbangan baru berbentuk bekuan darah, sehingga perdarahan tidak terjadi
 Kemungkinan implantasi plasenta terlalu dalam
d. Plasenta manual denan segera dilakukan
 Terdapat riwayat perdarahan pospartum berulang
 Terjadi perdarahan pospartum melebihi 400 cc
 Pada pertolongan persalinan dengan narkosa
 Plasenta balum lahir setelah menunggu selama setengah jam

3. Patofisiologis
Setelah bayi dilahirkan, uterus secara spontan berkontraksi. Kontraksi dan rejaksi otot-otot uterus menyelesaikan proses ini pada
akhir persalinan: sesudah berkontraksi, sel miometrium tidak
relaksasi, melainkan menjadi lebih pendek dan lebih tebal, dengan kontraksi yang berlangsung kontinyu, miometrium menebal
secara progesif, dan kovum uteri mengecil sehingga ukuran jiga
megecil. Pengecilan mendadak uterus ini disertai mengecilnya daerah tempat perlekatan plasenta.
Ketika jaringan penyokong plasenta berkontraksi maka plasenta yang tidak dapat berkontraksi mulai terlepas dari dinding uterus. Tegangan yang ditimbulkannya menyebabkan lapis dan desidua spongiosa
yang longgar memberi jalan, dan pelepasan plasenta terjadi di
tempat itu. Pembuluh darah yang terdapat di uterus berada diantara
serat-serat otot miometrium yang saling bersilangan. Kontraksi
serat-serat otot ini menekan pembuluh darah dan reteksi
otot ini mengakibatkan pembuluh darah terjepit serta perdarahan
berhenti.
Pengamatan terhadap persalinan kala tiga dengan menggunakan pencintraan ultrasonografi secara dinamis telah membuka perspektif baru tentang mekanisme kala tiga persalinan. Kala tiga yang normal dapat dibagi kedalam 4 fase yaitu :
1. Fase laten, ditandai oleh menebalnya dinding uterus yang bebas tempat plasenta, namun dinding uterus tempat plasenta melekat masih tipis.
2. Fase pelepasan, ditandai oleh menebalnya dinding uterus
tempat plasenta melekat (dari ketebalan kurang dari 1 cm manjadi > 2 cm).
3. Fase pelepasan plasenta, pase dimana menyempurnakan pemisahannya dari dinding uterus dan lepas. Tidak ada hematom yang terbentuk antara dinding uterus dengan plasenta. Terpisahnya plasenta disebabkan oleh kekuatan antara plasenta yang pasif dengan otot uterus yang aktif pada tempat melekatnya plasenta, yang mengurangi permukaan tempat melekatnya plasenta. Akibatnya sobek dilapisan spingiosa.
4. Fase pengeluaran, dimana plasenta bergerak meluncur saat plasenta bergerak turun, daerah pemisahan tetap tidak berubah dan sejumlah kecil darah terkumpul di dalam rahim, ini menunjukkan bahwa perdarahan selama pemisahan plasenta lebih merupakan akibat, bukan sebab. Lama kala tiga pada persalinan normal ditentukan oleh
lamanya fase kontraksi. Dengan menggunakan ultrasonografi pada kala tiga, 80 % plasenta lepas dalam waktu satu menit dari tempat implantasinya.

4. Kalsifikasi Retensio Plasenta
1. Plasenta adhesiva adalah implantasi yang kuat dari jonjot korion plasenta sehingga menyebabkan kegagalan mekanisme separasi fisiologis.
2. Plasenta ankreta adalah implantasi jonjot korion plasenta hingga mencapai/ memasuki sebagian lapisan miometrium.
3. Plasenta inkreta adalah implantasi jonjot korion plasenta hingga mencapai/ memasuki miometrium.
4. Plasenta perkreta adalah implantasi jonjot korian plasenta
yang menembus lapisan otot hingga mencapai lapisan serosa dinding uterus.
5. Plasenta inkarserata adalah terlahirnya plasenta di dalam kovum uteri disebabkan oleh konstriksi astium uteri.

5. Karakteristik Retensio Plasenta
Gambaran dan dugaan penyebab retensi plasenta
Gejala Separasi/
Akreta Parsial Plasenta
Inkarserata Plasenta
Akreta
 Konsistensi uterus Kenyal Keras Cukup
 Tinggi fundus Sepusat
2 jam dibawah pusat Sepusat

 Bentuk uterus Diskoid Agak globuler Diskoid
 Perdarahan Sedang banyak Sedang Sedikit/ tidak ada
 Tali pusat Terjulur sebagian Terjulur Tidak terjulur
 Ustium uteri Terbuka Kontriksi Terbuka
* Separasi plasenta Lepas sebagian Sudah lepas Melekar
* Syok Sering Jarang Seluruhnya
Jarang sekali, kecuali akibat- inversio oleh tarikan kuat pada tali pusat
Sumber : Saifudin AB, Buku acuan Nasional Pelayanan Kesehatan Maternal, Jakarta: Yayasan Bina Pustaka Prawirohardjo, Hal. 178: 2009.


6. Manifestasi Klinik
1. Anamnesis, meliputi pertanyaan tentang periode prenatal, meminta informasi mengenai epesode perdarahan paspartum sebelumnya, paritas, serta riwayat multipel fetus dan polihiaramnian, serta riwayat pospartum sekarang dimana plasenta tidak lepas secara spontan atau timbul perdarahan aktif setelah bayi dilahirkan.
2. Pada pemeriksaan pervaginam, plasenta tidak ditemukan di dalam kanalis servikalis tetapi secara persial lengkap menempel di dalam uterus.

7. Pencegahan
Upaya preventif retensio plasenta oleh bidan :
a. Melanjutkan penerimaan keluarga berencana, sehingga memperkecil terjadi retensio plasenta.
b. Melanjutkan penerimaan pertolongan persalinan oleh tenaga kesehatan yang terlatih.
c. Pada waktu melakukan pertolongan persalinan kala III tidak diperkenankan untuk melakukan masase dengan tujuan mempercepat proses persalinan plasenta. Masase yang tidak tepat waktu dapat mengacaukan kontraksi otot rahim dan mengganggu pelepasan plasenta.






8. Penanganan
Retensio Plasenta

Penanganan umum
 Infus transfusi darah
 Pertimbangan untuk rujukan ke rumah sakit
Ke rumah sakit



Perdarahan banyak Perdarahan
( 300 – 400 cc )  Anemia + syok
 Perlekatan plasenta



Plasenta Manual
 Indikasi
- Perdarahan 400 cc
- Pasca operasi vaginal
- Habitual Hpp
 Teknik
- Telusuri tali pusat
- Dengan ulnar tangan
- Masase intrauteri
- Uteritonik ira/ IV



Berhasil baik, obsevasi Plasenta resti adhesiva dan Plasenta melekat
 Keadaan umum akreta  Akreta
 Perdarahan  Kuretasi tumpul  Inkreta
 Obat profilaksis  Tampon uteruvaginal  Parkreta
- Vitamin  Masase  Adhesiva
- Preparatfe
- Antibiotik
- Uterotonik
Perdarahan terus histerektani dengan
 Tampan basah pertimbangan
 Antonia uteri  Keadaan umum
 Umur penderita
 Paritas penderita
 Ligasi arteri higastrika


1. Sikap umum bidan
a. Memperhatikan keadaan umum penderita
- Apakah anemia
- Bagaimana jumlah perdarahannya
- Keadaan umum penderita : tekanan darah, nadi dan suhu
- Keadaan fundus uteri : kontraksi dan fundus uteri
b. Mengetahui keadaan plasenta
- Apakah plasenta inkarserata
- Melakukan tes plasenta lepas: metode kusnert klien, metode strasman, metode manuaba
c. Memasang infus dan memberikan cairan pengganti
2. Sikap khusus bidan
a. Retensio plasenta dengan perdarahan
- Langsung melakukan plasenta manual
b. Retensio plasenta tanpa perdarahan
- Setelah dapat memastikan keadaan umum penderita segera memasang infus dan memberkan cairan
- Merujuk penderita ke pusat dengan fasilitas cukup, untuk mendapatkan penanganan yang lebih baik
- Memberikan transfusi
- Proteksi dengan antibiotika
- Mempersiapkan plasenta manual dengan logeartis dalam keadaan pengaruh narkosa.
9. Komplikasi tindakan plasenta manual
Tindakan plasenta manual dapat menimbulkan komplikasi sebagai berikut:
 Terjadi perforasi uterus
- Terjadi infeksi : terdapat sisa plasenta atau membrane dan bakteri terdorong ke dalam rongga rahim
- Terjadi perdarahan karena atania uteri
- Syok
Untuk memperkecil komplikasi dapat dilakukan tindakan profilaksis dengan memberikan uteratonika intravena atau intramuskuler.
 Memasang tomponede uterovaginal
 Memberikan antibiotika
 Memasang infus dan persiapan tranfusi darah

B. KERANGKA TEORI YANG TERKAIT
Faktor presdisposisi terjadinya retensio placenta penyebab retensio placenta adalah keadaan atau lingkungan uterus yang tidak memungkinkan plasenta berimplantasi secara sempurna misalnya :
1. Kelainan pertumbuhan uterus : uterus subseptus
2. Jaringan parup pada uterus misalnya : bekas, SC, bekas tindakan
kuret
3. Multiparitas
dan ;
• Grandemulti
• Jarak persalinan yang pendek
• Persalinan yang dilakukakn dengan tindakan : pertolongan kala uri sebelumnya, pertolongan persalinan oleh dukun, persalinan dengan nurkosa.
Variabel yang tidak diteliti yaitu :
1. Kelainan pertumbuhan uterus : bekas SC, bekas tindakan kuret
2. Jarak persalinan yang terlalu pendek
Variabel yang diteliti yaitu :
1. Paritas
2. Kesalahan penatalaksanaan kala III (kala uri)

Kerangka Konsep




Gambar 2.1
Bagan : Faktor presdisposisi terjadinya retensio plasenta
a. Paritas
Adalah jumlah kehamilan yang menghasilkan janin yang mampu hidup di luar rahim (28 minggu). Pengaruh paritas sangat besar karena paritas yang banyak > 4 dengan usia ibu > 35 tahun dapat terjadi komplikasi pada kehamilan, persalinan nifas.
Banyak sumber menyetujui bahwa ibu yang sebelumnya memiliki tiga bayi atau lebih berisiko tinggi mengalami retensio plasenta, selain itu ibu yang usianya lebih dari 35 tahun diketahui lebih berisiko mengalami solusio plasenta dan plasenta previa.
b. Kesalahan penatalaksanaan kala III persalinan
Kala III persalinan (kala uri) adalah dari bayi lahir sampai dengan plasenta lahir dengan waktu tidak lebih dari 30 menit.
Kandungan kemih yang berakhir di persalinan “fundus fidding” traksi tali pusat yang terlalu kuat pada plasenta yang belum lepas dan kombinasi teknik yang harus dikelola tidak aktif / dikelola secara fisiologis pada kala III semuanya turut berperan pada insiden retensio plasenta yang menyebabkan hemorelgia pasca partum, semuanya mempengaruhi kontraksi ritnis normal yang dirancang untuk mengordinasikan kontraksi dan retraksi otot yang tepat dengan pelepasan plasenta, dengan tanpa memberikan oksitosik.
Kejadian retensio plasenta menyebabkan perdarahan post partum yang dapat membahayakan jiwa ibu.








BAB III
METODOLOGI PENELITIAN

A. DESAIN PENELITIAN
Jenis penelitian yang digunakan adalah penelitian kualitatif yang bersifat deskriftif yaitu penelitian untuk mengetahui berapa besar angka kejadian retensio plasenta berdasarkan paritas dan kesalahan penatalaksanaan kala III.

B. POPULASI DAN SAMPEL
Populasi adalah jumlah seluruh ibu bersalin yang mengalami retensio plasenta pada bulan Januari 2008 sampai Desember 2008 di Rumah Sakit Daerah Manokwari.
Sampel adalah total populasi keseluruhan ibu bersalin yang mengalami retensio plasenta pada bulan Januari 2008 sampai Desember 2008 di Rumah Sakit Daerah Manokwari

C. TEMPAT PENELITIAN
Penelitian ini dilaksanakan di ruang bersalin RSUD Manokwari pada bulan September 2009.

D. INSTRUMEN PENGUMPULAN DATA
Adapun instrumen yang digunakan dalam penelitian ini adalah format pengumpulan data. Data sekunder didapatkan dari medical record pada RSUD Manokwari di ruang bersalin.
E. DEFINISI OPERASIONAL
Variabel Definisi
Operasional Cara dan
Alat Ukur Hasil Ukur Skala Ukur

Paritas





Kesalahan penatalaksanaan kala III


Jumlah persalinan yang dialami ibu sesuai dengan medical record


Manipulasi uterus yang tidak dapat sehingga placenta tidak lahir setelah 30 menit persali-nan sesuai dengan medical record
- Study dokumentasi
- Format



- Study dokumentasi

- Format



Anak I
2 – 3
4 ke atas



- < 30 menit - > 30 menit
Ordinal





Ordinal

F. ANALISA DATA
Data dianalisis secara univariat yang ditampilkan dalam bentuk distribusi frekuensi.
Metode univariat adalah suatu data atau tabel yang menggambarkan penyajian data untuk variabel saja (Notoatmodjo, 2002).

Presentase dapat dihitung dengan rumus :


Ket : X = jumlah yang didapat
N = jumlah keseluruhan


BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN


A. Gambaran Umum Lokasi Penelitian

1. Geografis
a. Identitas wilayah
 Provinsi : Papua Barat
 Kabupaten : Manokwari
 Kota : Manokwari
b. Identitas Rumah Sakit
 Tipe Rumah Sakit : Tipe C
 Nama Rumah Sakit : RSUD Manokwari
 Alamat Rumah Sakit
 Desa/ Kelurahan : Manokwari Barat
 Jalan : Jl. Bayangkara No.2
 No. Telepon : (0986) 212333
c. Luas wilayah kerja Rumah Sakit : Km2
d. Letak Rumah Sakit
 Letak administratif : Ibukota Provinsi dan Kabupaten
 Letak geografis : Pegunungan dan Pantai
e. Batas wilayah
 Utara : Kampung Ambon
 Selatan : Rodi

 Barat : Kantor Gubernur (IJB)
 Timur : Kwawi
2. Demografi
Karakteristik
Wilayah kerja : Seluruh wilayah yang berada di Kabupaten Manokwari
3. Gambaran Rumah Sakit
a. Jumlah ruangan (Bangsal) : 18 Ruangan
Terdiri dari : Ruang obstetri dan ginekologi, ruang anak, ruang penyakit dalam, ruang bedah, ruang UGD, ruang kelas, ruang VIP, laboratorium, apotik, OK (kamar operasi), polik anak, polik dewasa, polik gigi, ruang fisioterapi, ruang UTD, ruang radiologi,
b. Ruang Obstetri dan Ginekologi
 Jumlah rungan atau bansal : Bersalin 1, Nifas 1 dan Neonatus 1
 Jumlah Petugas
Ruang Obstetri dan Ginekologi Rumah sakit Umum Daerah manokwari (tempat dilakukannya Penelitian) dengan jumlah petugas sebanyak 38 orang, dengan rincian sebagai berikut :
 Dr. Spesialis
• Anak : 2 Dokter
• Kandung : 2 Dokter
 Dr. Umum/ Asisten SpoG : 1 orang
 D3 Kebidanan : 3 Bidan
 D1 Kebidanan : 27 Bidan
 D3 Keperawatan : 3 Perawat
B. Hasil Penelitian
Berdasarkan data yang telah dikumpulkan mulau dari Januari 2008 sampai Desember 2008 di Rekamedik Rumah Sakit Manokwari bagian opstetri dan ginekologi, diperoleh juga seluruh persalinan sebanyak 1850 persalianan dengan kasus retensio plasenta sebanyak 28 kasus (2 %). Data disajikan dalam bentuk tabel.

a. Distribusi angka kejadian retensio plasenta di Ruang Bersalin RSUD Manokwari bulan Januari 2008 s/d Desember 2008.

Tabel 4.1

Distribusi frekuensi angka kejadian retensio plasenta di Ruang Bersalin RSUD Manokwari bulan Januari 2008 s/d Desember 2008.

NO. IBU BERSALIN N %
1. Retensio Plasenta 28 2
2. Tidak Retensio Plasenta 1822 98
Total 1850 100
Sumber data sekunder RSUD tahun 2008


Berdasarkan tabel 4.1 di atas terlihat 1850 persalinan terdapat
28 kasus (2 %) kejadian retensio plasenta, sedangkan pada persalinan
yang tidak mengalami retensio plasenta sebanyak 1822 (98 %)
kasus.




Tabel 4.2

Distribusi frekuensi angka kejadian retensio plasenta di Ruang Bersalin berdasarkan paritas RSUD Manokwari bulan Januari 2008 s/d
Desember 2008.

NO. PARITAS N %
1. 1 12 43
2. 2 – 3 7 25
3. > 3 9 32
Total 28 100
Sumber data sekunder RSUD tahun 2008


Pada tabel ini terlihat kasus retensio plasenta pada kasus paritas 1 sebanyak 12 (43 %), sedangkan pada kelompok paritas lebih dari 3 sebanyak 9 (32 %).

Tabel 4.3

Distribusi frekuensi angka kejadian retensio plasenta di Ruang Bersalin berdasarkan kesalahan penatalaksanaan kala III.

NO. KESALAHAN PENATALAKSANAAN KALA III N %
1. < 30 menit 0 0 2. > 30 menit 28 100
Total 28 100
Sumber data sekunder RSUD tahun 2008


Pada tabel ini terlihat kasus retensio plasenta pada kasus kesalahan pada penatalaksanaan kala III > 30 menit sebanyak 28 kasus.


C. Pembahasan
1. Angka kejadian retensio plasenta
Dari hasil penelitian di Rumah Sakit Umum Daerah Manokwari tahun 2008 diperoleh data sebanyak 28 kasus (2 %) ibu yang melahirkan anak dengan retensio plasenta dari 1850 persalinan, angka kejadian ini cukup tinggi.
Masih tingginya angka kejadian retensio plasenta RSUD Manokwari pada bagian obstetri dan ginekologi, mungkin disebabkan karena rumah sakit ini menerima kasus rujukan dari daerah-daerah dan bidan praktek swasta di sekitar wilayah rumah rumah sakit, karena rumah sakit ini juga berada di tengah kota yang padat penduduknya dan mudah dijangkau oleh BPS dan masyarakat di sekitarnya.
2. Angka kejadian retensio plasenta berdasarkan paritas
Dari hasil penelitian yang telah dilakukan pada tabel 4.2 terlihat bahwa ibu dengan paritas pertama adalah 12 (43 %), hasil penelitian bahwa ibu dengan paritas pertama lebih tinggi angka kejadian retensio plasenta dibandingkan dengan ibu paritas lebih dari pada tiga sebanyak 9 (32%). Hasil penelitian ini tidak sesuai jika dibandingkan dengan teori yang menyatakan bahwa ibu yang sebelumnya memiliki 3 bayi atau lebih beresiko tinggi mengalami retensio plasenta. Selain itu juga usianya lebih dari 35 tahun diketahui lebih beresiko tinggi mengalami retensio plasenta. Berarti ada kesenjangan antara teori dan penelitian ini kemungkinan fasetor penyebab lain plasenta yaitu terjadinya retensio.
3. Angka kejadian retensio plasenta berdasarkan penatalaksanaan kala III
Dari hasil penelitian ini dapat dilihat dari tabel 4.3 bahwa kejadian retensio plasenta berdasarkan kesalahan penatalaksanaan kala III
sebanyak 28 (100 %). Berdasarkan teori seorang bayi lahir 30 menit kemudian seharusnya plasenta lahir. Sedangkan tinggi kesalahan penatalaksanaan kala III, semakin tinggi angka kejadian retensio plasenta. Hasil penelitian ini sesuai dengan teori yang menyatakan bahwa kandung kemi yang berakhir dipersalinan “kundus fidding” traksi tali pusat yang terlalu kuat pada plasenta yang belum lepas dan pengelolaan fisiologis
pada kala III semuanya turut berperan pada insiden retensio plasenta yang menyebabkan hemorargia pospartum (Hpp).
Kejadian retensio plasenta berdasarkan penatalaksanaan kala III sangat tinggi, maka penanganan yang tepat yaitu tindakan manual dan kuretage. Kejadian retensio plasenta dapat menyebabkan perdarahan pasca partum yang dapat membahayakan jiwa ibu.






BAB V
PENUTUP

A. Kesimpulan
Berdasarkan hasil dan pembahasan, penelitian yang telah dilakukan selama periode bulan januari 2008 sampai dengan Desember 2008 dapat disimpulkan bahwa :
1. Angka kejadian retensio plasenta di RSUD Manokwari pada bagian obstetri dan ginekologi tahun 2008 yaitu sebesar 2 %.
2. Angka kejadian retensio plasenta berdasarkan paritas > 3 sebesar 43 %.
3. Angka kejadian retensio plasenta berdasarkan kesalahan penatalaksanaan kala III sebesar 100 % (sangat tinggi).

B. Saran
Dari kesimpulan di atas dapat disampaikan beberapa saran sebagai berikut :
1. Masih perlu diupayakan untuk menurunkan angka kejadian retensio plasenta berdasarkan kesalahan penatalaksanaan kala III pada ibu bersalin.
2. Masih perlu diupayakan untuk meningkatkan ketrampilan bidan dalam melaksanakan manajemen aktif kala III.
3. Perlu dilakukan penelitian lebih lanjut mengenai retensio plasenta sebagai evaluasi dan bahan masukan yang lebih berarti dalam penanganan selanjutnya.

DAFTAR PUSTAKA

A. Aziz Alimu Hidayat. 2007. Metode Penelitian Kebidanan Teknik Analisis Data. Salemba Meuleka.

Alhamsyah. 2007. Retensio Plasenta. http:/ www. alhamsyah. com/ 2007/ 01/ 04/ referat-retensio-plasenta

Betty R..1997. Sweet Mayes Midwiferry A Texk Book For Midwikes. Tokyo: Bailere Tindall.

Hasil Seminar: Kemajuan-kemajuan Dibidang Kesehatan Ibu dan Bayi Baru Lahir.

Manuaba 1.b. 1998. Ilmu Kebidanan, Penyakit Kandungan dan Keluarga Berencana untuk Pendidikan Bidan. Jakarta: EGC.

Muchtat, Rustam. 1998. Sinopsisi Obstetri Fisiologi, Obstetri Patologi; Ed 2 EGC: Jakarta.

Prawiraharja, Sarwono. 2006. Ilmu Kebidanan, Edisi 3 cetakan 8: Yayasan Bina Pustaka : Jakarta.

Saifudin AB. Dkk. 2000. Buku Acuan Nasional Pelayanan Kesehatan Maternal dan Neonatal. Jakarta: Yayasan Bina Pustaka Prawirohardjo.

Sarwono Prawirohardjo. 2000. Buku Praktis Pelayanan Kesehatan Maternal dan Neomatel. Jakarta: Yayasan Bina Pustaka Prawirohardjo.

Sarwono Prawirohardjo. 2000. Buku Panduan Pelayanan Kesehatan Maternal dan Neomatel. Jakarta: Yayasan Bina Pustaka Prawirohardjo.













MASTER TABEL

NO. BULAN/TAHUN NAMA IBU PARITAS KESALAHAN PENATALAKSANAAN KALA III
ANAK
1 ANAK
2 – 3 ANAK
> 3 < 1 JAM PLASENTA LAHIR > 1 JAM
PLASENTA LAHIR
28
Januari/ 2008
1. Ny. L √
2. Ny. K √
Februari/ 2008
1. Ny. N √
2. Ny. M √
3. Ny. D √
Maret/ 2008
-
April/ 2008
1. Ny. T √
Mei / 2008
1. Ny. R √
2. Ny. S √
3. Ny. A √
Juni/ 2008
1. Ny. W √
2. Ny. B √
Juli / 2008
1. Ny. R √
2. Ny. A √
3. Ny. N √
4. Ny. O √
Agustus/ 2009
1. Ny. Y √
Sept. / 2008
1. Ny. K √
Oktober/ 2008
1. Ny. U √
2. Ny. J √
Novemb./2008
1. Ny. G √
2. Ny. K √
3. Ny. O √
4. Ny. H √
Desemb./2008
1. Ny. D √
2. Ny. T √
3. Ny. G √
4. Ny. I √
5. Ny. A √

TABEL JUMLAH IBU BERSALIN YANG MENGALAMI RETENSIO PLASENTA DENGAN TIDAK MENGALAMI RETENSIO PLASENTA


Bulan/ Tahun Retensio Plasenta Tidak Retensio Plasenta Total Persalinan
Januari/ 2008 2 143 145
Februari / 2008 3 147 150
Marete / 2008 - 151 151
April / 2008 1 150 151
Mei / 2008 3 184 187
Juni / 2008 2 149 151
Juli / 2008 4 163 167
Agustus / 2008 1 161 162
September / 2008 1 160 161
Oktober / 2008 2 156 158
November / 2008 4 123 127
Desember / 2008 5 135 140
Total 28 1822 1850




















JADWAL PENELITIAN



KEGIATAN Waktu
Agustus
2009 September
2009 Oktober
2009
1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4
Penyusunan proposal
Ujian proposal
Perbaikan & pengumpulan proposal
Pengumpulan proposal
Penelitian & penyusunan KTI
Pengumpulan KTI
Ujian hasil
Perbaikan KTI dan penjilidan
Pengumpulan KTI
Yudisium
Wisuda

No comments:

Post a Comment