Email/YM : julman_84@yahoo.com

Senin, 11 Oktober 2010

ANALISIS KEUANGAN PADA PERUSAHAAN DAERAH AIR MINUM DITINJAU DARI PRESPEKTIF KONVENSIONAL DAN PENILAIAN KINERJA KEUANGAN PDAM KABUPATEN MANOKWARI

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Pembangunan yang menggema di kota manokwari, yang sekaligus menjadi Ibukota Propinsi Papua Barat telah menunjukan progres yang mengembirakan di berbagai bidang yang terkait dengan pola kehidupan serta kebutuhan penduduk seperti : Ekonomi, Kesehatan, Pendidikan, Pertanian, Peternakan, Perikanan, Perumahan, Sosial Budaya, Sarana Transportasi, Telekomunikasi, Pemerintahan, Penerangan Listrik/ Sarana Air Bersih dan sektor -sektor lainnya.
Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) sebagai unit pengelola dan pelayanan air bersih kepada masyarakat milik pemerintah daerah sesuai dengan peraturan Pemerintah No. 5 Tahun 1962. PDAM dalam meningkatkan pelayanan melaluai sarana air bersih dan berorientasi profit dapat menata dan membenahi diri agar memberikan pelayanan yang baik bagi para konsumen (pelanggang) sebagai kompensasi, para konsumen (pelanggang) membayar pemanfaatan air sesuai debit setiap bulan sehingga merupakan suatu pendapatan tetap bagi PDAM.
Keuangan merupakan salah satu komponen strategis yang mempunyai daya guna dalam menata dan mengembangkan PDAM di kota manokwari kini dan kedepan. Untuk mengetahui kondisi perusahaan (PDAM) diperlukan suatu media perantara yaitu laporan keuangan yang dapat digunakan sebagai alat komunikasi atas kegiatan operasionalnya terhadap pihak-pihak yang membutuhkan laporan tersebut. Laporan keuangan yang disajikan oleh pihak manajemen perusahaan kepada pihak-pihak yang berkepentingan tidak banyak memberikan pengetahuan mengenai tingkat perkembangan usaha yang telah dilakukan oleh perusahaan tanpa adanya analisis serta inter prestasi lebih lanjut. Mendasari pemikiran tersebut, maka kinerja keuangan yang terkait dengan produktivitas kerja perusahaan daerah air minum (PDAM) tentang target penerimaan, realisasi (pendapatan), penggunaan dan pelaporan yang terdapat pada dokumen keuangan seperti laporan bulanan, laporan tahunan dan dokumen lainnya perlu dikaji dan dianalisis untuk mengukur kelayakan capaian (target), serta faktor pendukung dan penghambat yang dihadapi. Laporan keuangan tersebut meliputi laporan neraca dan laporan rugi laba dari pada perusahaan air minum (PDAM).
Dengan melakukan kajian dan analisis terhadap laporan keuangan berdasarkan alat-alat analisis (rasio-rasio keuangan) dan metode penilaian dari PDAM, diharapkan akan menunjukkan perkembangan kinerja keuangan atau pengelolaan/ manajemen keuangan PDAM baik atau buruk, artinya memperoleh profit atau merugi sehingga dilakukan langkah-langkah konservatif kedepan.
Bertolak dari hal tersebut di atas, maka penulis merumuskan permasalahan ini dan menuangkan dalam judul proposal yaitu “Analisis Kinerja Keuangan Pada Perusahaan Daerah Air Minum Ditinjau Dari Prespektif Konvensional Dan Penilaian Kinerja Keuangan PDAM Kabupaten Manokwari”.

B. Permasalahan

Berdasarkan uraian dalam latar belakang masalah tersebut di atas, maka permasalahan yang di kemukakan dalam penulisan ini adalah sebagai berikut :
1. Bagaimana kinerja keuangan Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) yang ditinjau dari prespektif konvensional dan metode PDAM Kabupaten Manokwari periode 2004 – 2006.
2. Bagaimana perkembangan kinerja keuangan Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) yang ditinjau dari prespektif konvensional dan metode PDAM Kabupaten Manokwari periode 2004 – 2006.

C. Tujuan Penelitian

Adapun tujuan dalam penelitian im adalah :
1. Untuk mengukur dan menganalisa kinerja keuangan Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) yang ditinjau dari prespektif konvensional dan metode PDAM Kabupaten Manokwari periode 2004 – 2006.
2. Untuk mengukur dan menganalisa perkembangan kinerja keuangan Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) yang ditinjau dari prespektif konvensional dan metode PDAM Kabupaten Manokwari periode 2004 – 2006.


D. Kegunaan Penelitian

1. Bagi pihak manajemen perusahaan serta para pemakai laporan keuangan, agar dapat mengetahui tingkat likuiditas, solvabilitas, aktivitas, rentablitas perusahaan dalam tiga tahun terakhir 2004-2006.
2. Bagi peneliti sebagai ajang melatih untuk berpikir kreatif analisis dengan mencoba membahas serta menganalisis fakta-fakta yang terjadi di dalam perusahaan dengan menggunakan teori yang telah di peroleh selama mengikuti kuliah.













BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

A. Pengertian Akuntansi

Menurul Accounting Principle/ Board (APB) Statemen No.4 dalam buku Harahap (2004 : 4) Akuntansi merupakan suatu kegiatan jasa, yang berfungsi memberikan informasi kuantitatif, umumnya dalam ukuran uang, mengenai suatu badan ekonomi yang dimaksudkan untuk digunakan dalam pengambilan keputusan ekonomi, yang digunakan dalam memilih keputusan terbaik di antara beberapa altematif kepustakaan.
Menurut Erawati (2003 :2) Akuntansi adalah seni pencatatan, penggolongan, peringkasan dan pelaporan transaksi “Keuangan suatu organisasi dengan cara tertentu yang sistematis, serta interprestasi terhadap hasil” yang ditimbulkannya.
Sedangkan menurut Harahap (2004 : 3) Akuntansi merupakan bahasa bisnis yang dapat memberikan informasi tentang kondisi bisnis dan hasil usahanya pada suatu suatu periode tertentu.
Dari ketiga pendapat akuntansi di atas dapat disimpulkan bahwa akuntansi merupakan suatu proses pencatatan sekaligus dapat memberikan informasi mengenai perkembangan yang terjadi dalam dunia bisnis pada periode tertentu, berdasarkan prinsip-prinsip akuntansi yang berlaku umum atau yang disebut standar akun Indo (SAK).

B. Sistem Akuntansi

Untuk mengenal lebih jauh sosok akuntansi yang merupakan alat Bantu manajemen, maka perlu di ketahui siklus, sistem atau proses akuntansi sebagai dasar yang sangat penting dalam melakukan dan memproduksi laporan keuangan. Tahap prosedur Akuntansi ini kita jelaskan sebagai berikut:
a. Transaksi / Bukti.
Adalah setiap kejadian yang mengubah posisi keuangan (Asset, dan modal) hasil usaha (penghasilan dan biaya) Perusahaan/ Lembaga transaksilah yang di catat dalam proses akuntansi.
b. Buku Harian Jurnal
Buku harian jurnal ini sekaligus menggolongkan transaksi mana yang dikelompokkan mempengaruhi perkiraan debet dan mana yang digolongkan sebagai yang akan mempengaruhi perkiraan sebelah kredit. Kegiatan ini merupakan awal dari proses akuntansi.
c. Buku Besar (Ledger)
Merupakan tempat menampung seluruh transaksi yang telah diklasifikasikan melalui jurnal. Jadi seluruh jurnal dimasukkan sesuai kelasnya ke dalam buku besar dengan cara memindah bukukan semua Jumal (posting) ke buku besar tadi.
d. Neraca Lajur (Work Sheet).
Untuk menyusun Laporan Keuangan di buat neraca lajur intuk memudahkan penyusunan Laporan Keuangan tadi.
C. Pengertian Analisis Laporan Keuangan

Dalam memperoleh gambaran yang tepat mengenai pengertian analisis Laporan Keuangan terlebih dahulu akan dibahas pengertian laporan keuangan, karakteristik dan keterbatasan laporan keuangan.
a. Pengertian Laporan Keuangan
Menurut Munawir (2002 : 5), Laporan Keuangan pada umumnya terdiri dari neraca, rugi laba, serta perubahan modal dimana neraca menggambarkan jumlah aktiva. hutang modal dari suatu perusahaan pada tanggal tertentu, sedangkan rugi laba memperhatikan hasil-hasil yang telah dicapai oleh serta biaya yang terjadi selama periode tertentu dan laporan perubahan modal menunjukan sumber dan penggunaan atau hal-hal yang menyebabkan perubahan modal perusahaan.
Menurut Hanafi (2005 : 5), Laporan Keuangan merupakan suatu input sangat penting yang perlu di ketahui oleh pihak yang berkepentingan dalam pengambilan keputusan perusahaan kedua daftar ini adalah neraca atau posisi keuangan dan daftar pendapatan atau daftar Rugi - Laba.
Laporan Keuangan (Barahap 2004 : 105), menggambarkan kondisi keuangan dan hasil usaha suatu perusahaan pada saat tertentu atau jangka waktu tertentu.
Dari ke tiga pengertian laporan keuangan di atas dapat ditarik kesimpulan tentang laporan keuangan pada umumnya adalah suatu proses akuntansi atau ringkasan dari transaksi-transaksi keuangan yang terjadi, yang dapat digunakan sebagai alat komunikasi antara data keuangan tersebut meliputi neraca laporan dengan pihak-pihak yang berkepentingan.

b. Karakteristik Laporan Keuangan
Menurut prinsip Akuntansi Indonesia (Ikatan Akuntansi Indonesia, 1974, 14) dalam Munawir (2002 : 10) menjelaskan tentang sifat / karakteristik Laporan Keuangan sebagai berikut :
a. Laporan Keuangan bersifat sejarah (histories) yang merupakan laporan atas kejadian yang telah lewat.
b. Laporan keuangan itu bersifat umum/ menyeluruh artinya laporan itu bukan untuk memenuhi keperluan tiap-tiap pemakai atau bukan di maksudkan untuk memenuhi kebutuhan pihak tertentu.
c. Dalam proses penyusunan Laporan Keuangan tidak lepas dari penaksiran-penaksiran dan pertimbangan-pertimbangan umum demikian hal-hal yang dinyatakan dalam laporan diuji melalui bukti-bukti dan cara-cara perhitungan yang masuk akal.
d. Bersifat konservatif dalam sikapnya menghadapi ketidakpastian, peristiwa yang tidak menguntungkan segera di perhitungkan kerugiannya, harta, kekayaan bersih dan pendapatan bersih selalu di hitung dalam nilainya yang paling rendah.
e. Laporan keuangan itu lebih menekankan bagaimana keadaan sebenarnya peristiwa-peristiwa itu di lihat dari sudut ekonomi daripada berpegang pada formalnya.
f. Laporan keuangan itu menggunakan istilah-istilah teknis, dalam hubungan ini sering kedapatan istilah-istilah yang umum di pakai diberikan pengertian yang khusus.

Kombinasi data-data yang menghasilkan laporan keuangan adalah :
a. Fakta-fakta yang telah dicatat (recorded fact). Hal ini berarti bahwa Laporan Keuangan dibuat atas dasar fakta dari catatan.
b. Prinsip-prinsip dan kebiasaan-kebiasaan di dalam akuntansi (accounting convertion and postulate) ini menggambarkan bahwa data-data yang dicatat itu didasarkan pada prosedur maupun anggapan-anggapan tertentu yang merupakan prinsip-prinsip akuntansi yang lazim, hal ini dilakukan dengan tujuan memudahkan pencatat atau untuk keseragaman.
c. Pendapat pribadi (personal judgment). Menunjukkan bahwa walaupun pencatatan transaksi telah diatur oleh konvensi-konvensi atau dalil-dalil dasar yang sudah ditetapkan dan sudah menjadi standar praktek pembukaan, namun penggunaan dari konvensi dan dalil tersebut tergantung pada akuntan atau manajemen perusahaan yang bersangkutan judgment ini tergantung pada kemampuan atau integritas yang pembuatnya dikombinasikan dengan fakta tersebut dan kebiasaan serta dalil-dalil akuntansi disetujui akan digunakan di dalam beberapa hal.

c. Keterbatasan Laporan Keuangan
Menurut (Munawir 2002 : 9 - 10) Keterbatasan Laporan Keuangan adalah :
a. Laporan keuangan yang dibuat secara periode pada dasarnya merupakan (interim report) Laporan yang dibuat antara waktu tertentu yang sifatnya sementara dan bukan merupakan laporan final.
b. Laporan keuangan menunjukkan angka dalam rupiah yang kelihatannya besifat pasti dan tepat, tetapi sebenarnya dasar penyusunan dengan standar nilai yang memungkinkan berbeda atau berubah-ubah. Karena itu angka yang tercantum dalam laporan keuangan hanya merupakan nilai buku (back value) yang belum sama dengan harga pada sekarang dan nilai gantinya.
c. Laporan keuangan disusun berdasarkan hasil transaksi keuntungan atau nilai rupiah dari berbagai waktu dan tanggal yang lalu, dimana daya beli (Purchasing power) uang tersebut semakin menurun, dibandingkan dengan tahun sebelumnya, sehingga kenaikan volume penjualan yang dinyatakan dalam rupiah bahwa belum tentu menunjukkan atau mencerminkan unit yang dijual semakin besar, mungkin kenaikan itu disebabkan naik harga jual barang tersebut yang mungkin juga diikuti kenaikan tingkat harga. Jadi suatu analisa membandingkan data beberapa tahun tanpa membuat penyesuaian terhadap perubahan tingkat harga.
Menurut (Djarwanto 2004 : 13), Laporan Keuangan memiliki keterbatasan sebagai berikut :
a. Laporan keuangan pada dasarnya merupakan laporan antara (interim report) bukan merupakan laporan final, karena laba rugi (Laba rugi final), hanya dapat alokasi revenue dan cost sepanjang periode tertentu dipengaruhi perlu adanya pertimbangan pribadi ini misalnya dalam memilih metode penilaian persediaan akhir : penentuan besarnya penyusutan, depresi amortisasi, dan kegiatan karena adanya piutang yang tak tertagih pemisahan antara pengeluaran dan biaya akan terjadi terus-menerus selama umur perusahaan, dimana setiap periodenya dilampirkan dengan laporan keuangan (interim report). Jadi jelaslah bahwa sebenarnya data laporan keuangan itu tidak bersifat pasti, tidak dapat diukur secara mutlak diteliti, kekurang pastian ini antara lain diakibat adanya contingen assets leabilites dan differed maintenance.
b. Laporan keuangan ditunjukkan dalam jumlah rupiah yang nampaknya pasti sebenarnya jumlah rupiah ini dapat saja berbeda bila dipergunakan standar lain (karena adanya lebih dari satu standar yang diperankan). Apabila dibandingkan dengan laporan keuangan seandainya perusahaan itu dilikuidir, jumlah rupiahnya dapat sangat berbeda. Aktiva tetap dinilai berdasarkan harga historisnya, jumlahnya kemudian dikurangi dengan akumulasi penyusutannya, Jumlah bersihnya tidak mencerminkan nilai penjualan aktiva tetapi itu. Dalam keadaan likuidasi, aktiva tak berwujud seperti hak paten, merk dagang biaya organisasi hanya dinilai satu rupiah.
c. Neraca dan laporan rugi laba mencerminkan transaksi - transaksi keuangan dari waktu ke waktu selama jangka waktu itu mungkin nilai rupiah sudah menurun (daya beli rupiah menurun karena kenaikan tingkat harga - harga). Aktiva tetap yang dibeli satu periode misalnya harga beli sekarang sudah tiga kali lipat, akibatnya biaya penyusutan yang dibebankan akan jauh lebih kecil dibandingkan tingkat penyusutan berdasarkan replacement cost basiss. Kenaikan volume penjualan dalam rupiah belum tentu juga, sebagai pencerminan dari kenaikan jumlah satuan yang terjual. Kenaikan jumlah rupiah volume penjulaan mungkin disebabkan naiknya harga per satuan. Oleh karena itu untuk menghindari adanya analisis yang menyesatkan, analisis perbandingan harus dilakukan dengan hati - hati.
d. Laporan keuangan tidak memberikan gambaran yang lengkap mengenai perusahaan. Laporan keuangan tidak mencerminkan semua faktor dapat diukur dengan satuan uang. Faktor tersebut misalnya kemampuan dalam menemukan penjual dan mencari pembeli, nama baik dan prestasi perusahaan dimata masyarakat, kepercayaan pihak luar kepada perusahaan, efisiensi loyalitas, integritas dari pimpinan dan karyawan, kwalitas barang yang dihasilkan kondisi pesaing, keadaan perekonomian pada umumnya.

Beberapa pengertian analisa laporan keuangan:
Menurut (Sinurat 1999 : 84). Analisa laporan keuangan merupakan tindak lanjut untuk menginterprestasikan laporan finansial suatu perusahaan adalah sangat penting bagi pihak - pihak yang berkepentingan terhadap perusahaan yang bersangkutan meskipun kepentingan mereka berbeda - beda.
Menurut Bernstein dalam Harahap (2004), Analisa Laporan Keuangan merupakan infonnasi yang dibaca dari laporan keuangan akan menjadi lebih luas dan lebih dalam, sehingga dalam menghubungkan pos yang satu dengan pos yang lain akan rnenjadi indikator tentang posisi dan prestasi keuangan perusahaan serta menunjukkan bukti kebenaran penyusunan laporan keuangan.
Menurut Munawir (1996 : 35), Analisa laporan dan tendensi atau kecenderungan (trend) untuk menentukan posisi keuangan dan hasil – hasil operasi serta perkembangan perusahaan yang bersangkutan.
Dari ketiga pendapat analisa laporan keuangan di atas dapat disimpulkan bahwa, data keuntungan akan lebih berarti bagi pihak - pihak yang berkepentingan, apabila data tersebut dianalisa lebih lanjut, sehingga dapat diperoleh informasi sehubungan dengan posisi keuangan dan hasil - basil yang telah dicapai oleh perusahaan. Analisa tersebut bisa dikenal dengan sebutan analisa laporan keuangan.
Beberapa hal penting yang perlu diperhatikan pada waktu menganalisa laporan keuangan :
a. Manajer keuangan perlu melihat trend atau perkembangan dalam laporan keuangan beberapa tahun kebelakang.
b. Angka - angka yang berdiri sendiri akan sulit ditentukan baik - tidaknya.
c. Dalam analisis Perusahaan, membaca dan menganalisis laporan keuangan dengan hati - hati adalah penting.
d. Manajer keuangan memerlukan informasi tambahan yang tidak tersedia dilaporan keuangan.

D. Arti Penting Analisa Laporan Keuangan

Terdapat pihak yang sangat berkepentingan pada hasil laporan keuangan pada umumnya dapat dikelompokkan dalam tiga ketompok yaitu :
a. Para pemegangan saham dan calon pemegang saham, yang menaruh perhatian utama pada tingkat keuntungan, baik sekarang maupun kemungkinan tingkat keuntungan pada masa yang akan dating.
b. Para kreditor dan calon kreditor pada umumnya merasa berkepentingan terhadap kemampuan dalam membayar kewajiban - kewajiban financial baik jangka pendek maupun Jangka panjang.
c. Manajemen perusahaan itu sendiri yang berkepentingan dengan seluruh keadaan keuangan perusahaan, karena menyadari bahwa hal – hal tersebutlah yang akan dinilai oleh para pemilik perusahaan maupun para kreditur.

Dalam hubungan analisa keuangan tersebut manajemen adalah orang dalam, orang yang dapat menggunakan data finansial apapun yang ada di dalam perusahaan, dan hasil analisa sepenuhnya untuk kepentingan perusahaan yang berkepentingan. Oleh karena analisa yang dilakukan oleh manajemen tersebut disebut analisa intern. Dengan demikian maka jelaslah bahwa mengadakan interprestasi atau analisa laporan keuangan suatu perusahaan adalah sangat penting artinya bagi pihak - pihak yang berkepentingan terhadap perusahaan yang bersangkutan meskipun kepentingan mereka masing-masing adalah berbeda.

E. Tujuan Laporan Keuangan

Menurut prinsip Akuntansi Indonesia (PAI) 1984 dalam Harahap (2004 : 132) menyatakan bahwa tujuan Laporan Keuangan itu adalah sebagai berikut :
a. Untuk memberikan informasi keuangan yang dapat dipercaya mengenai aktiva dan kewajiban serta modal suatu perusahaan.
b. Untuk memberikan informasi yang dapat dipecaya mengenai perubahan dalam aktiva neto (aktiva dikurangi kewajiban) suatu perusahaan yang timbul dari kegiatan usaha dalam rangka di peroleh laba.
c. Untuk memberikan informasi keuangan yang membantu para pemakai laporan di dalam menaksir potensi perusahaan dalam menghasilkan laba.
d. Untuk memberikan informasi penting lainnya mengenai perubahan dalam aktiva dan kewajiban suatu perusahaan, seperti informasi mengenai aktivitas pembiayaan dan investasi.
e. Untuk mengungkap sejauh mungkin informasi lain yang berhubungan dengan laporan keuangan yang relevan untuk kebutuhan pemakai laporan, seperti informasi mengenai kebijakan akuntansi yang dianut perusahaan.
Agar tujuan laporan keuangan tersebut bermanfaat terdapat tujuh kwalitas berikut :
a. Relevan
Informasi keuangan yang disajikan harus relevan bila dihubungkan dengan maksud penggunaannya. jadi informasi laporan keuangan harus difokuskan kepada kebutuhan pemakai dalam pengambilan keputusan.
b. Dapat dimengerti.
Setiap informasi yang disajikan harus dapat dimengerti oleh pemakainya dan dinyatakan dalam bentuk dan istilah tertentu sesuai dengan batas pengertian para pemakai dan lingkungan atau aktivitas ekonomi perusahaan.
c. Daya Uji
Informasi yang disajikan harus dapat diuji kebenarannya oleh pihak yang independent dengan menggunakan metode pengukuran yang sama.

d. Netral.
Informasi harus objektif pada kebutuhan umum pemakai, tidak mengkhususkan pada pihak tertentu.
e. Tepat Waktu.
Informasi keuangan harus disajikan sedini mungkin agar dapat digunakan sebagai alat dalam pengambilan keputusan.
f. Daya Banding (comparability).
Informasi yang disajikan harus dapat dibandingkan antara laporan periode saat tertentu dengan laporan keuangan pada periode saat yang lain mengenai perusahaan yang sama dan perusahaan yang satu dan yang lain.
g. Lengkap.
Data - data harus lengkap, sehingga dapat meliputi enam tujuan kwalitatif diatas.

F. Teknik Anatisa Laporan Keuangan

Tenik analisa laporan keuangan digunakan untuk menentukan dan mengukur hubungan antara pos - pos yang ada dalam laporan, sehingga dapat diketahui perubahan - perubahan dari masing - masing pos tersebut bila dibandingkan dengan laporan dari beberapa periode untuk satu perusahaan tertentu, atau diperbandingkan dengan alat pembanding lainnya. Misalnya dibandingkan dengan laporan keuangan yang dibudgetkan atau dengan laporan keuangan perusahaan lainnya.
Tujuan dari setiap teknik analisa adalah untuk menyederhanakan data sehingga dapat lebih dimengerti. Pertama - tama menganalisa harus mengorganisir atau mengumpulkan data diperlukan, mengukur dan menganalisa serta menginterprestasikan sehingga data ini menjadi lebih berarti.
Menurut Munawir (2002 : 36-37) teknik - teknik analisa yang biasa digunakan dalam laporan keuangan adalah sebagai berikut :
a. Teknik analisa perbandingan yang biasa digunakan dalam analisa laporan keuangan, adalah teknik analisa dengan cara memperbandingkan laporan keuangan untuk dua periode atau lebih. Dengan menggunakan teknik ini akan dapat diketahui perubahan - perubahan yang terjadi dan perubahan mana yang memerlukan penelitian lebih lanjut.
b. Trend atau tandansi posisi dan kemajuan keuangan perusahaan yang dinyatakan dalam persentase (Trend persentage analysis), adalah suatu teknik analisa untuk mengetahui tendensi dari pada keadaan keuangannya” apakah menunjukkan tendensi tetap naik atau bahkan turun.
c. Laporan dalam persentase perkomponen, yaitu teknik analisa untuk mengetahui persentase investasi keuangan pada masing - masing aktiva terhadap total aktivanya, juga untuk mengetahui sebab – sebab perubahannya modal kerja dalam periode tersebut.
d. Analisa sumber dan modal kerja adalah suatu analisa untuk mempengaruhi sumber - sumber serta penggunaan modal kerja dalam periode tersebut.
e. Analisa sumber dan penggunaan kas adalah suatu teknik analisa untuk mengetahui sebab - sebab perubahannya jumlah uang kas atau untuk mengetahui sumber - sumber serta penggunaan uang kas selama periode tersebut.
f. Analisa Rasio, adalah suatu teknik analisa untuk mengetahui sebab – sebab perubahan atau laba suatu perusahaan dari periode ke periode yang lain atau perubahan laba kotor suatu periode dengan laba yang dibudgetkan untuk periode tersebut.
g. Analisa Break- Event, adalah suatu teknik analisa untuk menentukan tingkat penjualan yang harus dicapai oleh suatu perusahaan agar perusahaan tersebut tidak menderita kerugian, tetapi juga belum memperoleh keuntungan. Selain itu dapat diketahui pula berbagai tingkat keuntungan atau kerugian untuk berbagai tingkat penjualan.
h. Analisa perubahan laba kotor (gros profiit analysis) adalah suatu analisis untuk mengetahui sebab - sebab perubahan laba kotor suatu perusahaan dan periode ke periode yang lain atau perubahan laba kotor suatu periode dengan laba yang dibudgetkan untuk periode tersebut.
Pemilihan teknik analisa laporan keuangan yang akan digunakan, merupakan awal dari proses analisa mempunyai tujuan yang sama yaitu untuk membuat agar data dapat lebih dimengerti sehingga dapat digunakan sebagai dasar pengambilan keputusan bagi pihak - pihak yang memerlukan.

G. Analisa Data Laporan Keuangan (Konservatif).
a. Analisa Rasio.
Dalam menganalisis berbagai pos dalam suatu laporan keuangan adalah merupakan dasar untuk dapat menginterprestasikan kondisi keuangan dan hasil suatu perubahan. Seorang penganalisa dalam menginterprestasikan keuangan suatu perusahaan memerlukan ukuran - ukuran atau “yordistick” tertentu. Ukuran yang sering digunakan dalam analisa keuangan adalah rasio. Dengan menggunakan alat analisa berupa rasio ini akan dapat menjelaskan atau memberi gambaran kepada penganalisa tentang baik atau buruknya keadaan atau memberi gambaran kepada penganalisa tentang baik atau buruknya keadaan atau posisi keuangan perusahaan.
Dengan demikian pengertian rasio itu sebenarnya hanyalah alat yang dinyatakan dalam “Arithmetica Terms” yang dapat digunakan untuk menjelaskan hubungan antara dua macam data keuangan.
Penganalisa keuangan dalam mengadakan analisa rasio keuangan pada dasar-dasar dapat dilakukan dengan dua cara perbandingan :
a. Cross - Sectional Approach
Merupakan suatu cara mengevaluasi dengan jalan membandingkan rasio-rasio antara perusahaan yang satu dengan perusahaan yang lain sejenisnya, jadi dengan pendekatan ini dimaksudkan untuk mengetahui seberapa baik - buruknya suatu perusahaan dibandingkan dengan perusahaan sejenis lainnya.
b. Times Series Analisys
Cara ini dilakukan dengan jalan membandingkan rasio - rasio keuangan perusahaan dari satu periode ke periode lainnya.
Dengan menggunakan analisa rasio dimungkinkan untuk dapat menentukan tingkat likuiditas, aktivitas dan profitabilitas suatu perusahaan rasio - rasio yang tergolong dalam ketiga golongan di atas dapat dijelaskan sebagai berikut :
b. Analisa Likuiditas.
Rasio ini menggambarkan kemampuan perusahaan untuk memenuhi financial jangka pendek pada saat jatuh tempo dengan menggunakan aktiva lancar yang tersedia, rasio ini dapat dihitung dengan :
a. (Current Ratio) Rasio lancar.
Rasio menunjukkan sejauh mana aktiva lancar menutupi kewajiban - kewajiban lancar, semakin besar perbandingan aktiva lancar dengan utang lancar semakin tinggi kemampuan perusahaan menutupi kewajiban jangka pendeknya. Secara rumus dapat dihitung sebagai berikut :
Aktiva Lancar
Current Ratio = .
Utang Lancar
(Harahap 2004: 30)

b. Acid Test Ratio.
Rasio ini mengukur kemampuan perusahaan dalam memenuhi kewajiban-kewajiban dengan tidak mempertimbangkan persediaan karena, persediaan memerlukan waktu yang relatif lama untuk direalisir menjadi uang kas.
Aktiva Lancar - Persediaan
Utang Lancar = .
Acid Test Ratio (ATR)
(Munawir 2002 : 74).
c. Rasio Solfabilitas / Utang.
Rasio ini mengukur kemampuan perusahaan dalam memenuhi kewajiban Jangka panjang :
a. Rasio Modal Sendiri (RMS) terhadap total aktiva (Ratio of Owners’ Equity to Total Assets) rasio ini menunjukkan pentingnya dari sumber modal pinjaman atau tingkat keamanan yang dimiliki oleh kreditur. Dengan demikian semakin tinggi rasio ini maka semakin rendah modal pinjaman yang digunakan untuk membiayai aktiva perusahaan atau dengan kata lain rasio ini mengukur kemampuan perusahaan untuk membayar utang lancar dan utang jangka panjang yang segera harus dilunasi atau dipenuhi dengan total aktiva yang tersedia.
Modal sendiri (MS)
Rasio modal sendiri (RMS) terhadap total aktiva = ——————-——
Total Aktiva
(Munawir 2092 : 82).
b. Rasio Aktiva tetap dengan utang letup.
Rasio ini mengukur tingkat keamanan yang dimiliki oleh kreditur jangka panjang, apalagi kalau piutang jangka panjang itu dinyatakan secara khusus untuk dijamin dengan aktiva tetap tertentu (fixed assets converage).
Rasio ini dapat dihitung dengan;
Total Aktiva Tetap
Ratio AT dengan Utang Tetap = .
Total Utang
(Munawir 2002: 84)

c. Rasio modal sendiri dengan aktiva tetap.
Rasio ini lebih besar dari 100% menunjukkan modal sendiri lebih besar dari aktiva tetap yang merupakan seluruh aktiva tetap dibiayai oleh pemilik perusahaan dan sebagian dari aktiva lancar (Modal kerja) juga dibiayai oleh pemilik perusahaan atau mengalami keuntungan karena aktiva tetap ini berjangka panjang, sehingga tidak menimbulkan tekanan pada likuiditas perusahaan kalau suatu saat pembayaran tersebut tetap datang atau sebaliknya.
Secara rumus dapat diJelaskan sebagai berikut :
Modal Sendiri
Rasio Modal Sendiri Dengan Aktiva Tetap = .
Aktiva Tetap
(Munawir 2002 : 84)

d. Rasio utang dengan modal sendiri
Semakin tinggi rasio ini, maka semakin besar resiko yang dihadapi, dan investor akan meminta tingkat keuntungan yang semakin tinggi, rasio yang tinggi juga menunjukkan proporsi modal sendiri yang rendah membiayai aktiva.
Secara rumus dapat ditulis sebagai berikut :
Total Utang
Rasio Utang dengan modal sendiri = .
Total Modal Sendiri
e. Rasio Time Intergst Egrned (Rasio Kelipatan Pembayaran Bunga)
Rasio ini mengukur kemampuan perusahaan membayar utang dengan laba sebelum bunga dan pajak.
Rasio ini dapat dihitung dengan :
Laba Sebelum Bunga dan Pajak
Time Interest Earned (TIE) = ———————————————
Bunga Jangka Panjang
(Hanafi 2005: 41)
d. Rasio Aktivitas.
Rasio ini melihat seberapa besar efisiensi penggunaan asset oleh perusahaan secara optimal, kemudian dengan cara membandingkan rasio aktivitas dengan standar industri maka dapat diketahui tingkat efisiensi perusahaan dalam industri.
a. Reseivables/turn over (rasio perputaran piutang)
Piutang yang dimiliki oleh suatu perusahaan mempunyai hubungan yang erat dengan volume penjualan kredit, posisi piutang dan taksiran waktu pengumpulan dapat dinilai dengan menghitung tingkat perputaran piutang tersebut (turn over receivable) yaitu :
Total Penjualan
Perputaran piutaag = .
Rata - rata piutang

(Munawir 2002 .• 75)
b. Perputaran Persediaan.
Rasio ini dapat mengevaluasi posisi persediaan barang dagangan yang diganti dalam satu tahun antara harga pokok barang yang dijual dengan nilai rata - rata persediaan yang dimiliki oleh perusahaan.
Dengan demikian rasio ini dapat dihitung dengan:
Penjualan
Ratio Perputaran Persediaan = ————————
Persediaan
(Brig/tarn dan Houston 2001: 81)
c. Perputaran Modal Kerja
Rasio ini menunjukkan hubungan antara modal kerja dengan penjualan dan menunjukkan banyaknya penjualan yang dapat diperoleh perusahaan (jumlah rupiah) untuk tiap modal kerja.
Rasio ini dapat dihitung dengan :
Total Penjualan
Perputaran Modal Kerja = ______________
Rata - rata Modal Kerja
(Munawir 2002 : 80)
e. Rasio Rentabilitas atau Provitabilitas.
Rasio ini menunjukkan kemampuan perusahaan untuk menghasilkan laba dalam hubungannya dengan tingkat penjualan “Asset” dan modal sendiri atau modal saham :
a. Profit Margin
Rasio ini menunjukkan kemampuan perusahaan dalam menghasilkan laba yang tinggi pada tingkat penjualan tersebut.
Laba Bersih
Profit Margin = ————————————
Penjualan bersifat Modal Saham
(Hanafi 2005 : 42)
b. Return On Asset (ROA)
Mengukur kemampuan perusahaan menghasilkan laba bersih berdasarkan tingkat asset yang tersebut.
Laba Bersih
Return On Asset = ————————
Total Asset
(Hanafi 2005: 42)

c. Return On Equity (ROE)
Rasio ini mengukur kemampuan perusahaan menghasilkan laba bersih berdasarkan modal tentang yang dilihat dari sudut pandang pemegangan saham.
Laba Bersih
Return On Equity = ————————————
Modal Saham
(Hanafi 2005: 42)
H. Analisa Perbandingan
Analisa perbandingan (ffarahap 2004 : 227) merupakan teknik analisa laporan keuangan yang dilakukan dengan cara menyajikan laporan kenangan secara horizontal dan membandingkan antara satu dengan lain, dengan menunjukkan informasi keuangan atau data lainnya baik dalam rupiah atau dalam unit. Dengan demikian diketahui tingkat kenaikan dan penurunan dalam rupiah atau unit dan juga dalam prosentase atau perbandingan dalam bentuk angka perbandingan (Rasio).
Terdapat dua alat analisa perbandirigan(Sartono 2001 : 127-128) yaitu :
a. Common Size Analysis.
Analisis ini dapat menyajikan presentase setiap elemen terhadap total aktiva (untuk neraca) dan untuk laporan rugi laba persentase setiap elemen terhadap penjualan. Analisis common size juga memudahkan membaca data - data keuangan, khususnya dalam membaca data – data keuangan selama beberapa periode untuk mencari trend - trend tertentu.
b. Index Analysis,
Analisis ini menyatakan persentase elemen neraca terhadap tahun tertentu
sebagai tahun dasar, kemudian mencari index untuk periode berikutnya dengan kata lain analisis ini membandingkan laporan keuangan perusahaan dari satu periode atau lebih dengan tahun dasamya, sehingga hasil - hasil yang dicapai dalam analisa perbandingan tersebut digunakan untuk melihat perkembangan perusahaan dalam membuat rencana-rencana untuk masa yang akan datang.
I. Jenis-Jenis Laporan Keuangan Yang Pokok
a. Neraca.
Laporan neraca dapat menyajikan laporan keuangan yang disusun secara sistematis dengan menunjukkan nilai kekayaan perusahaan (pada sisi aktiva), dan "clains" atas kekayaan tersebut pada sisi pasiva. Kedua sisi dari pada neraca yaitu sisi kiri yang menyajikan asset yang dimiliki oleh perusahan, dan sisi kanan yang menyajikan sumber dana yang dipakai untuk memperoleh asset tersebut. Isi dari pada laporan neraca tersebut sebagai berikut :
a. Asset (harta, aktiva).
Merupakan harta yang dimiliki perusahaan yang berperan dalam operasi perusahaan misalnya kas, persediaan aktiva tetap aktiva yang tak terwujud dan lain - lain.
b. Liabilitas (kewajiban/utang).
Definisi Liabilftas ini telah berkembang terus seperti terlihat dari 2 (dua) definisi berikut ;
1. Menurut APB Liabilities.
Merupakan kewajiban ekonomis dan suatu perusahaan yang diakui dan dinilai sesuai prinsip akuntansi termasuk dalam soldo kredit yang ditunda yang bukan merupakan utang atau kewajiban.
2. Menurut FAPB Liabilities.
Merupakan kemungkinan pengorbanan kekayaan ekonomis dimasa yang akan datang yang timbul akibat kewajiban perusahaan sekarang untuk memberikan harta atau memberikan jasa kepada pihak lain di masa yang akan datang sebagai akibat suatu transaksi atau kejadian yang sudah terjadi.
c. Owers Equity (Modal)
Merupakan suatu hak yang tersisa atas aktiva Netto (aktiva - total utang) suatu lembaga (entity).
b. Rugi Laba
Laporan yang menggambarkan jumlah hasil, biaya dan laba atau rugi perusahaan suatu periode tertentu. Laporan laba rugi, commite on terminology mendefinisikan laba sebagai jumlah yang berasal dari pengurangan harga pokok produksi, biaya lain, kerugian dari penghasilan atau penghasilan operasi.
Menurut AFB statement mengartikan laba atau rugi sebagai kelebihan defisit
pengasilan di atas biaya selama satu periode akuntansi.
c. Perubahan Modal
Merupakan laporan keuangan yang menyajikan informasi perubahan modal perusahaan akibat operasi perusahaan pada satu periode akuntansi tersebut (Erawati 2003 :19).

J. Manfaat Laporan Keuangan bagi Investor, Kreditor, Calon Kreditur, Calon Investor dan Pemerintah

Laporan keuangan merupakan komoditi yang bermanfaat dan dibutuhkan masyarakat, terutama bagi investor, kreditur, pemerintah, calon investor dan calon reditur, karena ia memberikan informasi yang dibutuhkan dalam dunia bisnis yang dapat menghasilkan keuntungan.
a. Investor
Investor dalam hal tertentu juga sama seperti pemegang saham, bagi investor potensial akan melihat kemungkinan potensi keuntungan yang akan diperoleh dari perusahaan yang dilaporkan.
b. Pemberi dana (kreditur)
Kreditur sebelum mengambil keputusan untuk memberi atau menolak permintaan kredit dari suatu perusahaan perlu mengetahui terlebih dahulu posisi keuangan dari perusahaan bersangkutan (Erawati 2003 :11)
c. Colon Kreditur
Calon kreditur hampir sama dengan kreditur di atas. Laporan keuangan bisa menjadi informasi untuk mengetahui apakah perusahaan layak diberikan fasilitas kredit, seberapa lama akan diberikan, dan sejauh mana resiko yang dimiliki perusahaan.
d. Calon Investor
Calon investor terlebih dahulu mengetahui kondisi keuangan perusahaan, asset, utang, modal, hasil, biaya, dan laba. Ia juga akan melihat prestasi-prestasi perusahaan dalam mengelola manajemen yang diberikan amanah oleh investor.
e. Pemerintah.
Dimana perusahaan tersebut berdomisili, sangat berkepentingan dengan laporan keuangan perusahaan tersebut disamping untuk menentukan besarnya pajak yang harus ditanggung perusahaan dan ingin mengetahui perusahaan tersebut telah mengikuti peraturan yang telah ditetapkannya.

K. Kerangka Pikir


















L. Hipotesis
Berdasarkan permasalahan di atas, maka hipotesis dari peneliti adalah :
1. Di duga bahwa kinerja keuangan perusahaan daerah Air Minum Kabupaten Manokwari cukup baik, namun rasio aktivitas dan rentabilitas menunjukkan bahwa Persuahaan ini belum mampu untuk beroperasi secara efektif dan efisien.
2. Hipotesis dari perkembangan kinerja keuangan Perusahaan Daerah Air Minum Kabupaten Manokwari menunjukkan bahwa rata-rata total aktiva perusahaan di jamin oleh modal sendiri yang dilihat dari rasio likuiditasnya cukup likuid dengan adanya tambahan modal kerja serta rasio solvabilitas dalam kondisi baik karena posisi hutang jauh lebih kecil dari modal. Walaupun rasio aktivitas masih rendah, namun adanya perubahan atau peningkatan dari tahun ke tahun sehingga di harapkan akan semakin baik pada tahun-tahun berikut. Sebaliknya, rasio rentabilitas masih sangat rendah, karena sumber daya perusahaan dalam kegiatan produksi belum efisien.







BAB III
METOPE PENELITIAN

A. Tempat dan Waktu Penelitian
Lokasi dalam penelitian ini pada Perusahaan Daerah Air Minum Kabupaten Manokwari yang beralamat Jl. Pahlawan Manokwari. Dengan waktu penelitian selama satu bulan, yang dimulai tanggal 13 Agustus sampai dengan tanggal 13 September 2007.

B. Teknik Pengumpulan Data
Teknik Pengumpulan data yang dilakukan berikut ini, dalam rangka memberikan kepastian tentang data yang diperoleh dari objek penelitian adalah sebagai berikut :
a. Studi Lapangan ( Field research)
Dimana guna memperoleh data dalam penelitian ini, dapat dilakukan wawancara langsung dengan objek penelitian dalarn hal ini responden yang terkait dengan masalah yang akan diteliti, disamping itu juga dilakukan dengan studi dokumentasi terhadap Laporan Keuangan.
b. Studi pustaka ( Library research)
Teknik ini digunakan dalam keseluruhan proses penelitian mulai dan awal sampai akhir penelitian dengan memanfaatkan berbagai macam pustaka atau pencatatan teori-terori yang relevan dengan masalah yang diteliti.
C. Jenis Data Dan Sumber Data
a. Jenis data
Jenis data yang digunakan oleh peneliti dalam masalah yang akan diteliti terdiri dari laporan keuangan. Data tersebut bersifat kualitatif dan kuantitatif.
b. Sumber data
Data sekunder yaitu data yang dieroleh dari berbagai literatur-literatur pendukung lainya yang mendukung penulisan ini.

D. Teknik Analisa Data
Untuk menjawab permasalahan dalam penyajian hipotesis, maka alat analisis yang digunakan untuk mengukur dan menganalisis kinerja keuangan dan perkembangan PDAM Kabupaten Manokwari dalam tiga tahun kebelakang adalah
sebagai berikut:
a. Analisis kualitatif.
Yaitu penulis menggunakan dan mengambil kesimpulan dengan membandingkan angka-angka yang ada pada hasil pengambilan data sesuai dengan data atau informasi yang diperoleh dari analisis tersebut.
b. Analisis Kuantilalif
Yaitu data yang digunakan dalam menyelesaikan masalah yang diangkat dalam permasalahan dengan menggunakan alat analisa rasio keuangan yang terdiri dari:

a. Rasio Likuiditas
b. Solvabilitas
c. Rasio aktifitas
d. Rasio rentabilitas

E. Definisi Operasional
a. Kinerja keuangan
Adalah prestasi yang dicapai oleh perusahaan dengan membandingkan rasio yang dianalisa untuk melihat adanya peningkatan atau penurunan setiap tahun.
b. Akuntansi


c. Analisis laporan keuangan
Adalah analisis yang digunakan untuk menghubungkan angka-angka yang terdapat dalam laporan keuangan dengan angka lain atau menjelaskan perubahannya (trend ) lainnya.
d. Rugi – Laba


e. Neraca
Yaitu laporan mengenai posisi keuangan perusahaan pada waktu tertentu

f. Rasio likuiditas
Adalah rasio yang menggambarkan hubungan aktiva lancar lainnya yang berguna untuk melihat apakah perusahaan mampu untuk melunasi hutang jangka pendek yang telah jatu tempo.
g. Rasio solvabilitas
Yaitu rasio yang digunakan untuk mengukur kemampuan suatu perusahaan untuk membayar semua kewajiban jangka panjang.
h. Rasio aktivitas
Yaitu kemampuan perusahaan untuk mengelola keuangannya agar dapat berputar selama beberapa kali selama satu periode akuntansi.
i. Rentabilitas
Yaitu rasio untuk melihat kemampuan perusahaan untuk memperoleh laba.










DAFTAR PUSTAKA

Brigham, E. F., dan Houston, J. F, 2001, Manajemen Keuangan, Erlangga.

Djarwanto, PS, 2004, Pokok-pokok Analisi Laporan Keuangan, Edisi kedua, BPFE, Yogyakarta.

Erawati, M.M, 2005, Pengantar Akuntansi I, Amus Yogyakarta dan CV. Sepadan Putra Mandiri.

Hanafi, M.M, 2005, Manajemen Keuangan, Edisi 2005, BPFE, Yogyakarta.

Harahap, Sofyan, Safri, 2005, Analisis Kritis Atas Laporan Keuangan, Edisi Kesatu, Cetakan ke Empat, PT. Rajagrafindo Persada, Jakarta.

Munawir, A. R, 2001, Manajemen Keuangan, Teori dan Aplikasi, Edisi ke Empat BPFE, Yogyakarta.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar