Thursday, 15 July 2010

keutamaan ibadah

Keutamaan amal
ibadah ditentukan oleh
empat hal utama ini:
1. Memperhatikan
waktunya. Misalnya,
ibadah yang paling
utama di bulan
Ramadhan adalah
qiyamullail.
Berdasarkan sabda
Rasulullah Saw:
"Siapa yang
mengisi malam
bulan Ramadhan
dengan keimanan
dan ibadah,
niscaya baginya
diampunkan dosa-
dosanya yang telah
lewat."(1)
Dan berderma, karena
Rasulullah Saw: "beliau
paling dermawan saat
berada pada bulan
Ramadhan".(2) Jika
masuk sepuluh hari
yang terakhir dari
bulan Ramadhan, maka
amal ibadah yang
paling utama adalah
beri'tikaf dan tidak
keluar dari masjid. Dan
jika masuk sepuluh hari
pertama dari bulan
Dzul Hijjah, maka amal
ibadah yang paling
utama adalah amal
saleh dan berlomba
untuk berjihad,
berdasarkan sabda
Rasulullah Saw:
"Kecuali seseorang
yang keluar
berjihad dengan
harta dan jiwanya,
dan tidak
menuntut balasan
dari dua hal
itu."(3)
Amal ibadah yang
paling utama pada
bulan Muharram dan
Sya'ban adalah puasa,
berdasarkan sabda
Rasulullah Saw: "Puasa
yang paling utama
setelah bulan
Ramadhan adalah
puasa di bulan
Muharram." (4) Dan
perkataan A'isyah r.a.:
"Aku dapati Nabi
Saw paling banyak
berpuasa pada
bulan Sya'ban." (5)
Amal ibadah yang
paling utama saat
mengajarkan orang
yang ingin belajar
adalah: bersungguh-
sungguh untuk
mengajarkannya, dan
meninggalkan
pekerjaan yang lain.
Dan ibadah yang paling
utama saat wuquf di
Arafah adalah:
berusaha untuk
bermunajat, berdo'a,
dan berdzikir, serta
tidak berpuasa yang
dapat melemahkan
tubuh untuk melakukan
semua ibadah tadi.
Ibadah yang paling
utama pada waktu
menjelang subuh
adalah: shalat dan
istighfar. Berdasarkan
firman Allah SWT:
"dan yang
memohon ampun
di waktu sahur."
Ali Imran: 17.
dan amal ibadah yang
paling utama saat
berbuka adalah:
berdoa. Berdasarkan
sabda Rasulullah Saw:
"Tiga kelompok
orang yang doanya
tidak tertolak:
orang yang
berpuasa saat ia
berbuka puasa, ...".
(6)
Amal ibadah yang
paling utama saat
mendengarkan adzan
adalah, membalas
ucapan adzan tersebut.
2. Memperhatikan
Tempat.
Ada beberapa tempat ,
yang jika dilakukan
ibadah di situ, akan
mendapatkan pahala
dan keutamaan yang
lebih besar
dibandingkan jika
dilakukan di tempat
lain. Seperti shalat di
Masjidil Haram, setara
dengan seratus ribu
shalat di tempat
lainnya. Shalat di
Masjid Nabawi, setara
dengan seribu shalat di
tempat lainnya. Dan
shalat di Masjid Aqsha,
setara dengan lima
ratus kali shalat di
tempat lainnya.
Shalat yang paling
utama dilakukan di
masjid adalah shalat
wajib. Sementara untuk
shalat sunnah,yang
paling utama adalah
jika dillakukan di
rumah. Berdasarkan
sabda Nabi Saw:
"Shalat yang paling
utama bagi
seseorang adalah
di rumahnya,
kecuali shalat
wajib."(7)
Dzikir dan berdoa di
Shafa dan Marwa lebih
utama dari shalat.
Thawaf bagi orang yang
baru datang dari luar
Mekkah lebih utama
dari shalat, dan
sebaliknya bagi orang
Mekkah sendiri. Do'a
saat masuk rumah atau
keluar dari rumah lebih
diutamakan daripada
membaca Al Qur'an.
3. Memperhatikan Jenis
Ibadah.
Jenis shalat lebih utama
dari jenis membaca Al
Qur'an. Jenis membaca
Al Qur'an lebih
dibandingkan jenis
dzikir. Jenis dzikir lebih
utama dibandingkan
jenis do'a. jenis jihad
lebih utama dari jenis
ibadah hajji. Bahkan di
antara satu jenis
ibadah sendiri ada
perbedaan keutamaan
antara satu macam
dengan macam yang
lain. Misalnya:
"Puasa (sunnah)
yang paling utama
adalah puasa nabi
Daud, yaitu
berpuasa satu hari
dan berbuka satu
hari".(8) Dan
"Shadaqah yang
paling utama
adalah shadaqah
bagi sanak
keluarga yang
membenci
kita." (9)
Dan
"Syuhada yang
paling utama
adalah yang
darahnya
ditumpahkan
musuh, dan
kendaraannya
dirusak
musuh"(10). Dan
"Dzikir yang paling
utama adalah: la
ilaha illah Allah,
dan doanya yang
paling utama
adalah:
alhamdulillah." (11)
Dan
"Jihad yang paling
utama adalah
membela
kebenaran di
hadapan penguasa
yang lalim." (12)
4. Memperhatikan
Situasi dan Kondisi.
Rasulullah Saw
bersabda:
"Jika Allah SWT
kagum melihat
seorang hamba,
niscaya hamba itu
tidak akan
dihisab."(13)
Kemudian beliau
mengabarkan tentang
sipat orang-orang yang
membuat Allah SWT
tertawa. Beliau
bersabda:
"Tiga kelompok
manusia yang
dicintai dan
dikagumi oleh
Allah SWT dan
diberikan kabar
gembira oleh-Nya
adalah: ...,
seseorang yang
mempunyai isteri
cantik dan
peraduan yang
nyaman nan indah,
kemudian ia
bangun di waktu
malam untuk
beribadah.
Terhadap orang
tersebut Allah SWT
berkomentar: "dia
meninggalkan
syahwatnya untuk
beribadah kepada-
Ku, padahal jika ia
mau ia dapat terus
menikmati
tidurnya." Dan
orang yang sedang
berada dalam
perjalanan
bersama
rombongan,
kemudian ia tidak
tidur malam
kecuali sedikit, dan
ia isi akhir
malamnya dengan
ibadah, baik dalam
kesulitan maupun
dalam
kesenangan."(14)
Ini jika dalam kondisi
negara aman.
Sedangkan jika dalam
kondisi perang,
ukurannya lain lagi,
berbeda dengan
sebelumnya. Oleh
karena itu, perlu
memperhatikan situasi
dan kondisi. Orang yang
cerdik adalah orang
yang mengetahui amal
ibadah yang paling
utama di segala situasi
dan kondisi. 'Auf bin
Harits adalah salah
seorang yang cerdik ini.
Ketika ia bertanya
kepada Nabi Saw pada
saat perang Badar,
sebagai berikut:
"Wahai Rasulullah Saw,
apakah yang membuat
Rabb-ku tertawa?
(maksudnya: apakah
amal ibadah yang jika
dikerjakan oleh
seseorang pada situasi
saat ini mencukupi
untuk membuat dirinya
terbebaskan dari
perhitungan akhirat).
Nabi Saw menjawab:
"Orang yang
menerjang musuh
dengan tanpa
perisai". Maka dia
pun melepaskan
baju besi yang ia
pakai, kemudian
mengambil
pedangnya dan
segera menyerang
pasukan musuh,
hingga ia
mendapatkan
syahid.
Memperhatikan situasi
dan kondisi mencakup
memperhatikan potensi
masing-masing peserta
kompetisi dan
kelebihan yang mereka
miliki. "Orang kaya
yang memiliki banyak
harta, dan hatinya
merasa sayang untuk
menyumbangkan
hartanya itu: maka
shadaqah hartanya dan
kerelaan hatinya untuk
menyumbangkan
hartanya itu lebih
utama baginya
dibandingkan
qiyamullail dan
berpuasa sunnah di
siang hari. Orang yang
pemberani dan kuat,
yang ditakuti musuh:
keikutsertaannya
dalam pasukan jihad
walau sebentar, dan
berjihad melawan
musuh-musuh Allah,
baginya lebih utama
dibandingkan
melaksanakan ibadah
hajji, berpuasa,
bersedekah dan
melakukan ibadah
sunnah. Orang yang
berpengetahuan, yang
mengetahui sunnah
Nabi, ilmu halal-haram,
dan ilmu tentang mana
yang baik dan mana
yang tercela menurut
agama: baginya bergaul
dengan manusia,
mengajarkan mereka,
dan memberikan
mereka nasihat dalam
agama, itu lebih utama
daripada mengucilkan
diri, menghabiskan
waktunya untuk shalat,
membaca Al Qur'an dan
bertasbih. Pejabat
pemerintah yang
memegang urusan
manusia: baginya,
duduk sebentar untuk
mengurusi perkara
masyarakat, membantu
orang yang dizhalimi,
menjalankan hadd
Allah, membantu pihak
yang benar, dan
melawan pihak yang
salah, itu lebih utama
baginya dari pada
beribadah bertahun-
tahun."(15)
Kami tambahkan: amal
ibadah yang paling
utama bagi orang yang
dikuasai oleh sikap
masa bodoh terhadap
siksaan Allah SWT dan
yang tertipu oleh
dirinya sendiri adalah:
dengan merasa takut
kepada Allah SWT.
Amal ibadah yang
paling utama bagi
orang yang dikuasai
oleh keputus asaan dan
patah harapan dari
rahmat Allah SWT
adalah: menumbuhkan
sikap pengharapan
kepada-Nya. Amal yang
paling utama bagi
orang yang junub
adalah: mandi besar.
Amal yang paling
utama bagi orang yang
takut impoten adalah:
segera menikah. Amal
yang paling utama saat
kedatangan tamu
adalah: melayani dan
menemuinya,
dibandingkan wirid
yang sunnah. Amal
ibadah yang paling
utama saat membantu
orang yang ditimpa
kesulitan adalah:
memfokuskan diri
untuk membantunya
dan menolongnya, dan
mementingkan hal itu
dibandingkan wirid dan
khalwatnya. Amal
ibadah yang paling
utama saat seorang
muslim sakit adalah:
menjenguknya. Dan
amal ibadah yang
paling utama saat
kematiannya adalah:
menyaksikan
jenazahnya. Amal
ibadah yang paling
utama ... dst.
Catatan kaki:
1. Hadits diriwayatkan
oleh Bukhari-Muslim
dari Abu Hurairah,
seperti terdapat
dalam Sahih Jami'
Shagir, no. 6316.
2. Hadits diriwayatkan
oleh Bukhari, An
Nasai dan Ahmad
dari Ibnu Abbas.
3. Hadits diriwayatkan
oleh jama'ah,
kecuali Muslim dan
an Nasai, dan
redaksi hadits ini
dari Ahmad.
4. Hadits diriwayatkan
oleh Muslim dari
Abu Hurairah dan
Thabrani, dari
Jundub, seperti
terdapat dalam
Sahih Jami' Shagir,
no. 1127.
5. Hadits diriwayatkan
oleh Bukhari, Muslim
dan Abu Daud,
seperti terdapat
dalam Sahih at
Targhib wat Tarhib,
no. 1014.
6. Hadits diriwayatkan
oleh Ahmad, ibnu
Majah, dan Tirmidzi
dari Abu Hurairah,
dan disahihkan oleh
Ibnu Khuzaimah,
seperti terdapat
dalam al Muntaqa,
no. 513
7. Hadits diriwayatkan
oleh An Nasai,
Thabrani, dan Abu
Daud, dari Zaid bin
Tsabit, seperti
terdapat dalam
Sahih Jami' Shagir,
no. 1128
8. Hadits diriwayatkan
oleh Tirmidzi, dan An
Nasai, dari Abdullah
bin Umar, seperti
terdapat dalam
Sahih Jami' Shagir,
no. 1131.
9. Hadits diriwayatkan
oleh Ahmad dan
Thabrani dari Abu
Ayyub, seperti
terdapat dalam
Sahih Jami' Shagir,
no. 1121.
10. Hadits diriwayatkan
oleh Thabrani dasri
Abu Umamah,
seperti terdapat
dalam Sahih Jami'
Shagir, no. 1119.
11. Hadits diriwayatkan
oleh Tirmidzi, An
Nasai, dan Ibnu
Majah, dari Jabir,
dan dinilai hasan
oleh al Albani, dalam
Sahih Jami' Shagir,
no. 1115.
12. Hadits diriwayatkan
oleh Ibnu Majah,
Ahmad dan Thabrani
dari Abu Umamah,
seperti terdapat
Sahih Jami' Shagir,
no. 1111
13. Hadits diriwayatkan
oleh Ahmad dan Abu
Ya'la. Para
perawinya tsiqat.
14. Hadits diriwayatkan
oleh Thabrani dalam
Al Kabir, dengan
sanad hasan, seperti
terdapat dalam
Sahih at Targhib wa
at Tarhiib, no. 650.
15. 'Uddatu as
Shaabiriin wa
Dzakhiiratu asy
Syaakiriin, hal. 105.
Kompetisi Menuju
Surga
Judul Asli: Sibaaq
Nahwa al Jinaan
Penulis: Khalid Abu
Syaadi
Penerjemah: Abdul
Hayyie al Kattani dan
Rukman AR. Said
Penerbit: Daar Basyiir,
2000
Edisi bahasa Indonesia
insya Allah akan
diterbitkan oleh Gema
Insani Press

No comments:

Post a Comment